Harga Alumunium Terbang, Ini 4 Saham yang Punya Bisnis Related Logam Tersebut
Harga alumunium sudah terbang 25 persen setahun, hal ini dinilai akan memberikan berkah bagi sejumlah emiten di bursa seperti ADMR, INDY, CITA, dan ANTM. Kira-kira siapa yang paling menarik?
Mikirduit - Harga aluminium naik sekitar 25% dalam setahun terakhir dan dinilai menjadi sentimen positif bagi emiten seperti ADMR, INDY, CITA, dan ANTM. Lalu, mana yang paling menarik dilirik?
Highlight:
- Harga alumunium terbang 25 persen setahun karena tekanan pasokan, terutama setelah Selat Hormuz di tutup.
- Di lantai bursa Indonesia ada empat emiten yang berhubungan dengan alumunium, mereka adalah ANTM, CITA, ADMR, dan INDY.
- Untuk diskusi saham secara lengkap, pilihan saham bulanan, dan insight komprehensif untuk member, kamu bisa join di Mikirsaham dengan klik link di sini..
Harga Alumunium Terbang
Harga aluminium masih berada dalam tren kenaikan yang solid. Dalam setahun terakhir, harganya telah naik lebih dari 25 persen hingga mencapai sekitar US$3.393 per ton per 10 Maret 2026, mendekati level tertinggi dalam empat tahun terakhir.

Kenaikan harga alumunium dipengaruhi risiko pasokan akibat penutupan Selat Hormuz telah mengganggu pengiriman dari Teluk Persia, wilayah yang menyumbang sekitar 9% dari pasokan aluminium global.
Produksi dari China sebagai produsen terbesar dunia juga diperkirakan tidak sepenuhnya mampu menutup gangguan tersebut. Pasalnya, produksi China tahun ini dibatasi hingga 45 juta ton melalui kebijakan pemerintah untuk menekan kelebihan kapasitas di sektor industri utama.
Sementara itu, ekspansi produksi di Indonesia juga menghadapi tantangan berupa kenaikan biaya energi serta hambatan regulasi. Perkembangan ini terjadi di tengah kondisi persediaan aluminium yang sudah sangat rendah di bursa logam utama seperti LME dan COMEX.
Pemain Alumunium di Indonesia
Di lantai bursa, ada empat emiten alumunium yang memiliki kaitan dari pemain hulu sampai hilir, dari produsen bausit ke alumina, sampai yang paling baru mau berjalan ke alumunium atau hanya sekadar investasi saja. Berikut kami ulas satu per satu:
Saham ANTM
Pertama, ada ANTM yang berperan sebagai pemain di sisi hulu industri aluminium melalui produksi bijih bauksit dari tambang-tambangnya di Kalimantan Barat.
Saat ini ANTM juga terlibat dalam pengembangan rantai nilai ke tahap pengolahan melalui proyek Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Mempawah bersama Inalum melalui PT Borneo Alumina Indonesia. Proyek SGAR fase pertama sudah mulai beroperasi dan ditargetkan mampu memproduksi sekitar 1 juta ton alumina pada 2026.
Selain itu, pada Februari 2026 juga telah dilakukan groundbreaking SGAR fase kedua dengan nilai investasi sekitar Rp14 triliun yang ditargetkan beroperasi pada 2028 dan meningkatkan kapasitas menjadi 2 juta ton per tahun.
Di sisi tambang, ANTM juga tengah melakukan proses due diligence dengan Inalum terkait kemungkinan pelepasan atau kerja sama kepemilikan minoritas di dua tambang bauksitnya untuk memperkuat integrasi pasokan bahan baku ke proyek SGAR.
Saham CITA
Kedua, ada CITA yang merupakan produsen bauksit yang memasok bahan baku ke smelter alumina milik PT Well Harvest Winning (WHW). Perusahaan menargetkan produksi bauksit sekitar 4,7 juta hingga 4,8 juta ton pada 2025 dan untuk saat ini masih fokus pada optimalisasi produksi yang ada.
Dalam rantai industri aluminium, posisi CITA cukup strategis karena bauksit yang diproduksi akan diolah menjadi alumina sebelum akhirnya digunakan sebagai bahan baku produksi aluminium.
Alumina dari fasilitas pengolahan ini pada akhirnya juga menjadi bagian dari rantai pasok industri aluminium di Indonesia, termasuk yang berkaitan dengan proyek smelter aluminium yang sedang dikembangkan oleh ADMR.

Saham ADMR
ADMR juga memiliki keterkaitan yang cukup erat dengan CITA dalam pengembangan industri aluminium di Indonesia.
Pada pertengahan 2025, ADMR memperkuat kepemilikannya di CITA melalui transaksi afiliasi. Melalui anak usahanya, PT Alamtri Indo Aluminium (AIA), ADMR membeli sekitar 145,6 juta lembar saham CITA atau setara 3,67% kepemilikan dari PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) yang sebelumnya merupakan hasil spin-off dari grup utama Adaro.
Langkah ini dilakukan untuk mengonsolidasikan seluruh portofolio investasi aluminium ADMR di bawah satu sub-holding, yaitu AIA, sehingga struktur bisnis menjadi lebih efisien.
Selain melalui kepemilikan saham, hubungan ADMR dan CITA juga terlihat dalam pembangunan proyek smelter aluminium di Kalimantan Utara.
Keduanya menjadi mitra strategis dalam PT Kalimantan Aluminium Industry (KAI) yang mengelola proyek smelter aluminium di kawasan industri KIPI Bulungan.
Dalam struktur kepemilikan perusahaan tersebut, ADMR memegang sekitar 65% saham, CITA memiliki 12,5%, sementara sisanya 22,5% dimiliki oleh Aumay Mining Pte Ltd.
Kerja sama ini juga menciptakan sinergi dalam rantai pasok aluminium.
CITA berperan di sisi hulu sebagai penambang bauksit sekaligus pemilik fasilitas pengolahan alumina melalui Well Harvest Winning, sehingga dapat membantu memastikan ketersediaan bahan baku bagi smelter.
Sementara itu ADMR berperan di sisi hilir dengan menyediakan infrastruktur smelter dan energi untuk mengolah alumina menjadi produk aluminium ingot.
Melalui integrasi ini, proyek smelter menargetkan produksi tahap pertama sekitar 500.000 ton aluminium per tahun, yang direncanakan mulai beroperasi efektif pada 2026. Proyek ini juga telah menyelesaikan tahap pengujian dan commissioning parsial pada kuartal IV/2025.
Dalam jangka panjang, kapasitas smelter ini direncanakan meningkat hingga sekitar 1,5 juta ton per tahun.
Kontribusi bisnis aluminium ADMR diperkirakan mulai terlihat signifikan sejak 2026 seiring dimulainya operasi smelter.
Pada 2026, yang merupakan fase awal produksi, pendapatan dari aluminium diproyeksikan mencapai sekitar US$757 juta. Pada tahap ini produksi masih dalam fase ramp-up dengan estimasi volume penjualan sekitar 300.000 ton, namun aluminium diperkirakan sudah dapat menyumbang sekitar 30% hingga 40% dari total pendapatan perusahaan.
Memasuki 2027, ketika kapasitas tahap pertama smelter mencapai kondisi optimal sebesar 500.000 ton per tahun, pendapatan dari segmen aluminium diperkirakan akan meningkat lebih lanjut. Jika harga aluminium global berada di kisaran US$2.700 hingga US$3.000 per ton, analis memperkirakan kontribusi pendapatan dari bisnis ini berpotensi melampaui US$1 miliar.
Sementara itu pada 2028, sebagai target jangka menengah, pendapatan dari aluminium diproyeksikan dapat mencapai sekitar US$1,3 miliar.
Pada tahap ini, segmen aluminium diperkirakan akan menjadi kontributor utama bagi kinerja perusahaan dengan potensi menyumbang lebih dari 50% laba bersih konsolidasi, bahkan melampaui kontribusi dari bisnis utama batubara metalurgi.
Saham INDY
Terakhir, ada INDY yang masuk ke rantai bisnis aluminium melalui investasi strategis di sektor alumina.
Perusahaan berinvestasi di Nanshan Aluminium International dan mengalokasikan sekitar US$10 juta dalam penawaran umum perdana perusahaan tersebut per Maret 2025 di Bursa Efek Hong Kong.
Nanshan Group sendiri memiliki operasional alumina besar di Bintan (Kepulauan Riau). Dengan masuk ke level induk/holding di tingkat internasional, INDY mendapatkan eksposur terhadap margin keuntungan dari produksi alumina dan aluminium global.
Sebagai pemegang saham di entitas aluminium seperti Nanshan, INDY akan mulai membukukan keuntungan saat entitas tersebut membagikan dividen. Secara teoritis, ini bisa mulai terlihat pada laporan keuangan akhir tahun 2025 atau perkiraan akan dibagikan sekitar semester I-2026.
Selain itu, INDY juga memiliki aset bauksit secara langsung setelah mengakuisisi PT Mekko Metal Mining pada 2022. Mekko disebut memiliki cadangan bauksit sekitar 5,7 juta ton. INDY menargetkan produksi bauksit tambang Mekko sekitar 1 juta wet metrik ton per tahun.
Hingga kuartal III/2025, INDY sudah mencatatkan pendapatan dari bauksit yang merupakan segmen mineral sekitar 17,42 juta dolar AS. Dengan tingkat hasil segmen sekitar 2,75 juta dolar AS. Kontribusi bisnis mineral INDY memang masih kecil hanya sekitar 1 persen dari total kinerja INDY.
So, menurut kalian siapa yang paling menarik dari pemain alumunium di Indonesia? atau kalian punya semuanya?
Mau Dapat Insight dan Idea Saham Investing hingga Trading dengan Strategi Sesuai Kebutuhanmu?
Kamu bisa dapatkan semuanya di Mikirsaham.com, join sekarang dan dapatkan deretan benefit yang membantumu investasi di saham seperti:
- Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
- Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
- Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
- Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US, Aksi korporasi, dan IPO
- Event online bulanan
- Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
- Hingga konsultasi private
Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini
Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini
