Hal yang Dilakukan Investor Saat Market Bearish Versi Peter Lynch

Siap-siap, tren bearish pasar saham masih akan lama nih. Untuk itu, lebih baik bersabar, tapi apa yang harus dilakukan oleh investor jangka panjang dalam kondisi begini ya?

Hal yang Dilakukan Investor Saat Market Bearish Versi Peter Lynch

Mikirduit – Pasar saham Amerika Serikat (AS) mengalami koreksi seperti, indeks S&P 500 turun 0,11 persen, Dow Jones turun 0,22 persen, dan Nasdaq turun 0,23 persen. Arah market bearish pun diperkirakan masih berlanjut, lalu dalam kondisi bearish gini, lalu apa saham yang sebaiknya dibeli, apakah saham big caps yang sudah turun dalam cukup menarik diborong? kami akan ulas dengan menggunakan perspektif Peter Lynch di sini. 

Sebelum mengulas apa yang dilakukan Peter Lynch saat market bearish, pertanyaan besar apa yang terjadi dengan pasar saham AS pada 7 Juni 2024? 

Pasar saham AS langsung koreksi setelah rilis data pertumbuhan tenaga kerja per Mei 2024 yang melonjak hingga 272.000 dibandingkan dengan 165.000 pada April 2024. Konsensus pun memperkirakan tenaga kerja di Mei naik, tapi tidak setinggi itu, yakni 180.000. Kondisi ini akan membuat posisi suku bunga tinggi bisa bertahan lebih lama. Artinya, ada risiko pasar saham mengalami fase sideways bahkan tren bearish dalam periode waktu lebih panjang. 

Pertanyaannya, apa yang sebaiknya dilakukan oleh investor saat berada di pasar bearish seperti saat ini? berikut ini pendapat dan pengalaman dari Peter Lynch dalam menghadapi pasar bearish.

Kejadian Market Crash 1987dan Irlandia

Dalam bukunya One Up on Wall Street, Peter Lynch menceritakan sebuah kisah liburannya di Irlandia yang bersamaan dengan market crash pada 16-20 Oktober 1987. Kala itu, Lynch bersama istrinya tengah liburan di Irlandia, sayangnya liburan Lynch terganggu dengan kondisi pasar yang tidak bersahabat. 

Kronologinya antara lain:

  • Indeks dow jones mengalami penurunan 48 poin pada 15 Oktober 1987, saat Peter lynch dan istrinya berangkat ke Irlandia. Lalu, 16 Oktober 1987, indeks dow jones turun lebih dalam hingga 108 poin. “Sampai aku bertanya, apakah harus melanjutkan liburan kali ini?”
  • Namun, Lynch tetap berlibur, sepanjang 16-19 Oktober 1987 dia menjalankan aktivitas liburannya sesuai rencana seperti melakukan perjalanan ke Country Cork, Irlandia, mengunjungi beberapa kantor pusat emiten di Irlandia, mencium batu Blarney Castle, bermain golf di Waterville, hingga menikmati Seafood populer di Doyle
  • Sayangnya dalam setiap aktivitas itu, Lynch juga sibuk bekerja dan berkomunikasi dengan tim kantornya karena penurunan pasar saham.Pasalnya, Senin, 19 Oktober 1987, pasar saham AS crash,1 juta  investor yang menitipkan dana di Magelllan Fund mengalami floating loss 18 persen yang setara dengan 2 miliar dolar AS. 

Saat terjadi penurunan pasar saham, Lynch bersama timnya terus mencari strategi penjualan saham dengan efek kerugian paling rendah. Gara-gara market crash, terjadi pengajuan pencairan dana yang tidak biasa sehingga mereka harus pilih saham yang dijual untuk memenuhi permintaan tersebut. 

Lynch melakukan screening dan saham yang dibuang pertama kali adalah saham di pasar London yang posisinya masih lebih tinggi dibandingkan dengan Amerika Serikat (AS). Kondisi itu terjadi karena bursa London tutup pada Jumat 16 Oktober 1987 sehingga belum mengalami penurunan yang signifikan. Lalu, sisanya Lynch melakukan penjualan saham di bursa New York hingga bisa memenuhi permintaan redemption tersebut. 

“Bahkan, malam itu, saat makan seafood di Doyle, saya sampai tidak bisa membedakan ikan cod atau udang yang lagi dimakan. Saya tidak terpikirkan membedakan keduanya saat reksa dana mengalami floating loss setara dengan Gross National Product (GNP), salah satu metriks pertumbuhan ekonomi selain Gross Domestic Prodcut (GDP), negara kecil di wilayah kepulauan,” ujarnya. 

Lynch pulang kembali ke AS pada 20 Oktober 1987, dan dia langsung kembali ke kantornya untuk mengurus berbagai kekacauan pasar saat itu.

BREN Lebih Baik dari BBCA? Ini Jawaban Peter Lynch
BREN makin betah sebagai saham dengan market cap nomor satu di BEI. Namun, apakah berarti saham BREN lebih bagus daripada BBCA? berikut ini jawaban Peter Lynch

Perspektif Investor saat Market Bearish Menurut Peter Lynch

Peter Lynch selalu percaya kalau investor sebaiknya mengabaikan tren pasar bearish. Saat itu, Lynch pun mengedukasi para investor di reksa dana Magellan Fund sehingga hanya sekitar 3 persen dari jutaan investor yang melakukan switching reksa dana dari saham ke pasar uang. 

Saat kejadian market crash seperti 19 Oktober 1987, kamu tidak perlu panik dan menjualnya langsung saat itu juga. Kamu bisa bersabar hold selama beberapa bulan ke depan setelah para investor yang panic selling selesai menjual asetnya. Toh, dalam kejadian di Oktober 1987 itu, pasar saham mulai menanjak lagi di Desember 1987. Pada saat itu, jika merasa kurang nyaman dengan fundamental dan risiko pasar, bisa menjualnya. Sehingga risiko kerugian menipis, bahkan bisa menjual dengan posisi yang untung. 

Meski begitu, secara psikologis, posisi market crash maupun bearish memang membuat investor saham frustasi. Setelah itu, akan banyak investor yang membandingkan kondisi saat ini seperti periode sebelumnya. 

Peter Lynch menceritakan kondisi itu pernah terjadi pada 1981, ketika pasar saham sangat bearish dan suram. Dari situ, banyak yang merasa tampaknya pasar saham bisa seperti pada 1929 (ketika terjadinya The Great Depression di AS). 

Saat pasar saham mulai turun, akan muncul perkiraan seberapa besar market turun dengan membandingkan periode historisnya. Hal itu terjadi pada tren market bearish 1990-an yang dianggap Peter Lynch lebih seram dibandingkan dengan market crash Oktober 1987 (soalnya kalau market crash 1987, ekonomi masih tumbuh bagus, tapi 1990 kondisi ekonomi lagi kurang bagus). 

Saat pasar saham masuk tren bearish, akan ada banyak alasan kenapa lebih baik wait and see terlebih dulu masuk ke saham. Pada periode 1990-an, ada beberapa alasan kuat lebih baik wait and see di saham, seperti keruntungan ekonomi Jepang, defisit perdagangan Amerika Serikat dengan China, keruntuhan pasar obligasi 1994, hingga krisis ekonomi negara berkembang, terutama kawasan Asia Timur. 

Saham masih MAHAL ini adalah phrase yang sering diucapkan saat posisi market bearish.Berbagai kekhawatiran pasti akan muncul dan tidak pernah berhenti saat posisi market bearish.

“Namun, dasarnya tetap sederhana dan tidak berubah. Saham bukanlah tiket lotere, ada perusahaan yang melekat di setiap saham beredar. Perusahaan pun bisa melakukan hal menjadi lebih baik atau buruk dengan beragam faktor, termasuk eksternal yang tidak bisa dikendalikannya. Saat perusahaan melakukan hal yang lebih baik, maka sahamnya akan naik, tapi saat perusahaan melakukan hal yang buruk, sahamnya juga akan turun. Jikakamu memiliki perusahaan baik yang terus meningkatkan kinerja bisnisnya, maka kamu telah masuk di saham yang tepat,” ujar Lynch.

Saham Big Caps Anti Turun?

Salah satu salah kaprah selanjutnya adalah ketika saham Big Caps dinilai tidak akan turun, meski market bearish sekalipun. Hal ini juga terjadi di Amerika Serikat (AS) pada 1970-an. Kala itu, saham market menengah kecil memang goyah saat tren market bearish. 

Dari sini muncul asumsi kalau investasi ke saham big caps, terutama Nifty Fifty (50 saham market cap terbesar di AS) tidak akan mengalami penurunan. Faktanya, pada 1973-1974, saham big caps di Nifty Fifty mengalami penurunan hingga 50-80 persen. Kenapa saham big caps bisa turun padahal sering dibilang lebih stabil dan konsisten naik dalam jangka panjang?

Dalam kasus Nifty Fifty, saham-saham tersebut memang memiliki konsistensi kenaikan harga saham, tapi dengan timeframe dalam jangka panjang bisa mencapai 10 tahun. Sehingga jika kamu beli di harga termahal hari ini pun bukan masalah jika hold selama 10 tahun ke depan. Untuk itu, setiap berinvestasi disarankan menggunakan uang dingin atau yang tidak digunakan untuk anggaran kebutuhan sehari-hari. Sehingga bisa hold lebih lama. 

“Adapun, selama periode hold jangka panjang itu akan ada periode penurunan sebesar 10-20 persen setiap beberapa tahun sekali. Dalam hal ini, Nifty Fifty mengalami penurunan cukup dalam selama 6 tahun sekali,” tulis Peter Lynch dalam bukunya. 

Pertanyaannya, lalu bagaimana dengan pasar sahamdi  Indonesia? dalam beberapa bulan terakhir, beberapa saham big caps lagi disoroti seperti BBRI, TLKM, dan ASII. Apakah ini menjadi tanda kiamat ketiganya? 

Secara historis untuk pergerakan harga saham bulanan sejak 2004, saham BBRI telah mencatatkan penurunan sekitar 30-50 persen. Tren penurunan terjadi disebabkan dua hal, yakni market crash karena kejadian luar biasa seperti 2008 dan 2020, serta tren kenaikan suku bunga pada 2013, 2015, dan 2024 saat posisi suku bunga sudah tinggi.

Tren harga BBRI secara bulanan sejak 2004 sampai 7 Juni 2024
Tren harga BBRI secara bulanan sejak 2004 sampai 7 Juni 2024

Berbeda dengan BBRI, dua big caps lainnya, seperti ASII dan TLKM sudah mulai mencatatkan level sideways sejak beberapa tahun sebelum covid-19. Seperti TLKM sudah masuk level sideways di Rp4.000-an per saham sejak 2017, sedangkan ASII sudah sejak 2011.

Kembali ke dasar yang disebutkan Peter Lynch, kenapa kedua saham big caps itu stagnan.

Pertama, TLKM tidak melakukan hal yang cukup baik sejak 2017 setelah hanya kinerjanya hanya bergantung kepada Telkomsel, sedangkan pertumbuhan bisnis lainnya cenderung lambat. Bahkan, inovasi bisnisnya seperti Blanja.com juga kalah saing.

Kedua, ASII sebenarnya melakukan hal yang cukup baik. Hanya saja eksposure di otomotif membuatnya bergerak stagnan. Soalnya, pasar otomotif di Indonesia juga cenderung stagnan sudah hampir 1 dekade lebih.

Kesimpulan

Jadi, apa yang harus dilakukan oleh seorang investor dalam kondisi market bearish, hingga saham big caps juga koreksi? jawabannya adalah kamu cek lagi saham yang dikoleksi dengan tujuan jangka panjang itu punya prospek pertumbuhan bisnis bagus atau tidak ke depannya. Jika prospeknya masih oke, kamu bisa tetap HOLD saham tersebut dan biarkan waktu menjawab pergerakan harganya. 

Lalu, dalam kasus jika karakter sahamnya seperti ASII dan TLKM yang memberikan dividen lumayan besar, tapi pertumbuhan bisnisnya cenderung stagnan, kamu bisa beli di harga bawah seperit ASII di Rp4.500 atau TLKM di Rp2.900, setelah itu kamu akan dapat dividen dengan tingkat yield menarik. 

Catatannya, hal ini bisa dilakukan hanya untuk emiten big caps yang punya pertumbuhan bisnis, tapi hanya moderat dan stagnan seperti ASII dan TLKM. Beda kasus dengan UNVR atau HMSP yang dari segi margin keuntungan terus tergerus, sehingga bukan lagi stagnan, tapi tren kinerjanya terus turun. 

Jika kamu sudah hold dan tidak ada modal uang dingin lagi, lebih baik tidak perlu hiraukan kondisi market dalam jangka pendek. Kecuali kalau kamu punya barang tradingan ya.  Soalnya, menurut Peter Lynch, bagi investor jangka panjang, waktu adalah teman kita.

Telah Dirilis Ulasan 31 Saham Dividen Paling Oke untuk Jangka Panjang Periode 2024

Yuk join Mikirdividen sekarang juga, kamu akan mendapatkan semua benefit di bawah ini:

  • Update review laporan keuangan saham dividen fundamental bagus hingga full year 2024 dalam bentuk rilis Mikirdividen edisi per kuartalan
  • Perencanaan investasi untuk masuk ke saham dividen
  • Grup Whatsapp support untuk tanya jawab materi Mikirdividen
  • Publikasi eksklusif bulanan untuk update saham mikirdividen dan kondisi market
  • Event online bulanan

Tertarik? langsung saja beli Zinebook #Mikirdividen dengan klik di sini

Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini