Guideline untuk Investor Ritel Saat Menghadapi Saham yang Mau Right Issue

Jika ada saham yang right issue, banyak yang berekspektasi tinggi. Apalagi jika right issue jumbo. Padahal, ada beberapa hal yang harus diperhatikan agar kamu nggak boncos jika tidak ada dana buat tebus saham barunya.

saham right issue

Mikirduit – Dalam 1-2 tahun terakhir, banyak saham yang melakukan right issue dengan skala besar dari tujuan backdoor listing, hingga rencana ekspansi jumbo seperti PYFA. Lalu, bagaimana sebagai investor ritel menyikapi setiap rencana aksi right issue? apakah menggunakan strategi pragmatis jual-beli cuan bungkus tanpa perlu eksekusi saham barunya atau sebaiknya eksekusi saham barunya? Kami ulas tips menganalisis saham right issue di sini.

Highlight

  • Right issue jumbo dengan rasio saham baru besar menuntut investor ritel menganalisis tujuan penggunaan dana, potensi penyesuaian harga teoritis, serta peran pembeli siaga sebelum memutuskan tebus atau hanya trading momentum.
  • Detail penggunaan dana—baik untuk inbreng seperti pada BBRI dan PANI, konversi utang seperti BUMI, maupun ekspansi—lebih berdampak pada prospek jangka menengah-panjang ketimbang pergerakan harga jangka pendek.
  • Keputusan menebus atau tidak sebaiknya disesuaikan dengan fundamental, valuasi, harga pelaksanaan dibanding pasar seperti kasus TOWR, serta profil risiko masing-masing investor, karena tidak ada jaminan harga pasti naik setelah right issue selesai.
  • Pilih paket berlangganan Mikirsaham sesuai dengan karakter dan kebutuhanmu sekarang juga, dengan klik di sini

Ada beberapa poin penting yang harus diperhatikan ketika saham melakukan right issue.

Pertama, skala right issue cukup jumbo dengan rasio saham baru lebih besar daripada saham lama. Misalnya 1 saham lama dapat 2 hak eksekusi saham baru. Artinya, kita harus mengeksekusi jumlah saham lebih banyak dari yang dimiliki, atau right issue-nya biasa aja.

Nantinya, jika ini right issue jumbo, kita perlu melihat lebih detail apa tujuan emiten melakukan right issue. Pasalnya, ketika right issue jumbo dilakukan artinya akan ada dana jumbo yang masuk. Nah, jika kita bertujuan investasi di saham tersebut harus tahu, apa yang akan dilakukan si emiten dengan dana tersebut.

Kedua, masih berkaitan yang pertama, yakni memperhatikan risiko penyesuaian harga teoritis. Di sini, kamu menghitung asumsi harga teoritis dengan menggunakan metriks, harga pelaksanaan, jumlah saham baru yang diterbitkan, jumlah saham lama eksisting, dan harga saham terakhir. Dari situ, kamu bisa tergambar risiko penyesuaian harga saham untuk memutuskan apakah enaknya ditebus atau jual sebelum ex-right dan masuk lagi setelah right issue selesai.

Ketiga, status pembeli siaga. Sebenarnya, dalam beberapa right issue jumbo ada yang menyembunyikan pembeli siaga dengan kalimat jika penyerapan saham baru tidak optimal akan diberikan kepada pihak yang memesan lebih. Jika free float saham tersebut hanya 10-20 persen dan sisanya dipegang satu pihak, artinya si pengendali tetap berpotensi menjadi pihak yang memesan lebih jika kebutuhan dana-nya cukup urgent. Namun, jika pembeli siaganya adalah sekuritas, artinya nantinya sekuritas terkait punya proporsi saham tersebut dalam jumlah tertentu. Dalam right issue ketiga PANI, ada dua pembeli siaga selain pengendali, yakni BCA sekuritas dan Trimegah yang setelah right issue berarti keduanya pegang saham terkait di bawah 5 persen (terhitung free float dan bisa diperjual-belikan sewaktu-waktu).

Keempat, detail penggunaan dana. Untuk detail penggunaan dana ini variabelnya cukup luas bisa berdampak kepada harga, tapi juga tidak atau sekadar berdampak terhadap prospek saham tersebut ke depannya. Namun, kami melakukan riset, data penggunaan dana right issue cenderung dijadikan indikator prospek ke depannya ketimbang mempengaruhi harga saham dalam jangka pendek.

Dalam penggunaan dana right issue, ada beberapa yang harus diperhatikan:

  • Apakah dana yang diterima dalam bentuk cash atau inbreng? (Inbreng adalah skema pengalihan aset dihitung sebagai modal dengan cara masuk lewat saham baru yang diterbitkan. bisa dengan private placement atau right issue). Jika asetnya berbentuk inbreng, perlu diukur korelasi ke bisnis, dan dampak dari kondisi aset tersebut terhadap kinerja emiten ke depannya. Beberapa saham yang melakukan right issue inbreng seperti BBRI (yang mendapatkan pengalihan aset inbreng berupa Pegadaian dan PNM pada 2021), GMFI (yang mendapatkan pengalihan aset inbreng dari Angkasa Pura di 2025), hingga PANI (yang mendapatkan inbreng aset Agung Sedayu dalam right issue pertama dan kedua pada 2022-2023).
  • Apakah right issue digunakan sebagai konversi utang menjadi saham? jika iya, kita bisa perhatikan harga pelaksanaannya yang berarti akan menjadi angka rata-rata yang dipegang kreditur utang yang dikonversi menjadi pemegang saham. Berhubung kreditur ini butuh cash untuk mendapatkan dana utangnya, artinya dia akan keluar dari saham itu secara bertahap, yang seharusnya di atas harga pasar. Ini bisa jadi pertimbangan target saham trading atau jangka menengah jika setelah right issue malah longsor. Salah satunya BUMI pada 2017.
  • Jika dana digunakan untuk ekspansi, perhatikan rencana ekspansinya apakah possible bisa memberikan ruang pertumbuhan atau hanya butuh modal besar dengan risiko bisnis yang tinggi. Ini untuk pertimbangan hold jangka panjang.
  • Jika dana digunakan untuk modal kerja atau bayar utang, perhatikan rasio-rasio utang dan tingkat profitabilitas emiten. Jika DER-nya tinggi di atas 1 kali, bisa hitung setelah right issue penurunan DER menjadi berapa, serta penurunan ICR (Interest Coverage Ratio), efek ke asumsi margin keuntungan bersih pasca utang lunas, hingga dengan kondisi itu apakah emiten tersebut bisa lebih profit atau malah right issue hanya untuk bertahan hidup.

Kelima, perhatikan detail pembeli siaga dan komponen lainnya (seperti pihak yang akan diakuisisi dari aksi right issue). Hal itu untuk menciptakan connecting the dots dari sebuah prospek right issue.

Misalnya, dalam right issue PANI yang pertama. PANI berencana right issue dengan harga pelaksanaan Rp500 per saham dan lembar saham 13,12 miliar lembar (salah satu right issue jumbo), serta nilai yang dihimpun cukup besar Rp6,56 triliun.

Kalau melihat dari tanggal transaksi, prospektus lengkap sudah ada sejak pertengahan Juli 2022. Saat itu harga saham PANI sudah tembus Rp2.000-an per saham (apalagi setelah RUPS 8 Juli 2022 langsung naik tinggi).

Nah, dari prospektus right issue PANI yang lengkap itu, kita sudah bisa tahu kalau PANI mau dapat inbreng dari PT Agus Sedayu lewat penjelasan penggunaan dana yang Rp6,49 triliun untuk pengalihan aset (sedangkan sisanya dari publik untuk bonus sebagai modal kerja saja).

Dalam keterangannya, PANI mau akuisisi Bangun Kosambi Sukses. Nah, dalam prospektus itu sudah dijelaskan pemilik dari BKS adalah PT Agung Sedayu sebesar 50 persen dan PT Tunas Mekar Jaya sebesar 50 persen.

Dari data potensi penyesuaian harga teoritis, kita bisa berspekulasi masuk tunggu di ex-right (tanpa perlu eksekusi saham baru). Cuma catatannya, saat masuk PANI saat itu juga harus spekulasi berani masuk karena baru backdoor listing. Kalau melihat sekarang memang terlihat enak dan mudah karena data historis.

JGLE dan MPPA, Dua Saham Merugi yang Mau Right Issue, Begini Hitungan Prospeknya
Saat prospektus right issue rilis, saham JGLE yang ARB langsung ARA. Begitu juga dengan MPPA. Memang, apa menariknya right issue dua saham yang lagi merugi ini?

Momentum Penting Right Issue

Dalam right issue, ada beberapa momentum yang bisa diperhatikan untuk menggunakan strategi pragmatis: 

Pertama, momentum prospektus awal. Biasanya, di prospektus awal ini informasi yang tersedia hanya potensi saham baru yang akan diterbitkan, harga nominal saham baru (harga nominal berbeda dengan pelaksanaan jadi bukan berarti harga nominal itu adalah angka harga pelaksanaan), serta rencana penggunaan dana secara umum (bukan detail).

Namun, dari data-data tersebut kita bisa terawang:

  • Apakah right issue-nya jumbo atau tidak (dari jumlah saham baru yang diterbitkan)
  • Potensi harga pelaksanaan dari harga nominal. Secara aturan, harga pelaksanaan right issue tidak boleh di bawah harga nominal. Artinya, jika harga nominal berada di dekat-dekat harga pasar, kita bisa asumsikan potensi-potensi harga pelaksanaan bisa di atas harga pasar. Hal ini kami lakukan saat memproyeksikan potensi harga pelaksanaan right issue IMJS yang kala itu harga nominal di Rp200. Awalnya kami proyeksikan di Rp250 (dan terus akumulasi sahamnya selama di bawah harga tersebut), realita di Rp230, tapi saat right issue harga saham sempat bergejolak hingga Rp486 per saham.
  • Target asumsi dana dari potensi harga pelaksanaan. Untuk menilai korelasi antara penggunaan dana dengan total dana yang didapatkan. (Untuk meraba-raba prospek).

Kedua, momentum RUPSLB pengajuan persetujuan right issue. Sebenarnya, karena pengendali mayoritas peluangnya pasti disetujui. Biasanya, dalam momentum persetujuan ini harga saham juga kerap berfluktuasi jangka pendek. 

Ketiga, prospektus lengkap yang isinya sudah detail dari harga pelaksanaan, detail penggunaan dana, hingga jadwal. Dari sini, kamu bisa melakukan analisis 5 poin yang kami sebutkan. Jika menarik bisa tentukan dengan posisi harga saham saat itu, prospek ke depannya, dan risiko penyesuaian harga teoritis, lebih baik beli dan tebus saham baru atau beli setelah right issue (sedangkan sebelum right issue jadi strategi trading saja)

Keempat, cum-right, periode terakhir perdagangan saham dengan hak saham baru yang masih tersedia. Jadi, investor yang beli masih dapat hak saham baru, dan yang jual sudah tidak dapat hak saham baru.

Jika kamu tidak ada dana untuk menebus saham baru (dalam artian right issue-nya cukup jumbo), kamu bisa keluar maksimal di cum-right berapapun harga-nya. Alasannya, jika setelah ex-right akan ada penyesuaian harga teoritis. jika kamu tidak menebus saham barunya, harga rata-ratamu tetap, tapi harga pasar menyesuaikan harga teoritis.

Kelima, ex-right, periode yang beli tidak dapat hak saham baru, dan yang jual tetap dapat hak saham baru. Dalam periode ini, jika right issue sangat jumbo biasanya memberikan dampak harga teoritis yang cukup signifikan. Nantinya, harga rata-rata yang dimiliki investor akan menyesuaikan dengan harga teoritis setelah exercise atau eksekusi saham baru. 

Keenam, pasca right issue selesai. Apakah harga saham pasti akan naik setelahnya? itu akan tergantung masing-masing saham. Tidak ada siklus pasti setelah right issue harga saham akan lanjut naik. Pasalnya, tergantung supply free float yang meningkat, prospek bisnis saham, dan flow investor di saham tersebut.

Jadi, Kapan Menentukan Harus Tebus atau Tidak untuk Sebuah Right Issue?

Untuk pertimbangan kapan harus tebus atau tidak sebuah right issue antara lain:

Pertama, seberapa yakin kamu dengan prospek emiten tersebut, serta tujuan di awal saham tersebut. Jika tujuan awal investing dengan fundamental emiten yang menarik, likuiditas saham yang oke, dan valuasi wajar (bonus kalau ada dividennya juga). Ditambah, right issue masih dibatas normal (tidak terlalu jumbo), kamu bisa tebus saham tersebut.

Namun, untuk saham yang karakternya booming (lagi heboh dalam jangka pendek), saya menilai lebih aman untuk tidak tebus saham barunya. Kami melakukan di saham WIFI. Kala itu, harga saham WIFI sideway di Rp2.000-an per saham sampai jelang H-1 right issuenya. Saya yang dari awal memang tidak tertarik secara fundamental di saham tersebut, akhirnya tetap masuk dengan plan trading di momentum akhir right issue-nya pada harga Rp2.000-an per saham. Hasilnya, saya dapat momentum volatilitas (sebenarnya sampai ke Rp3.000-an per saham, tapi karena maruk jadinya baru lepas di Rp2.800 per saham dalam hitungan beberapa pekan).

Tapi, bagaimana jika sahamnya nanti seperti PANI? PANI menjadi salah satu keajaiban yang probabilitasnya sulit terulang. Tapi, jika tertarik bisa masuk dengan skema modal yang tidak besar menurutmu (acuannya jika kamu kehilangan modal itu atau nilainya susut signifikan bukan sebuah masalah). Nantinya jika keuntungannya besar, hasilnya juga lumayan. Ini sebagai manajemen risiko, memang membuat cuan tidak optimal, tapi setidaknya kamu bisa tetap dapat cuan dengan perhitungan risiko yang matang.

Kedua, jika harga pelaksanaan right issue di harga atas, lebih baik tidak usah eksekusi saham barunya. Alasannya, tidak ada risiko penyesuaian harga teoritis dan lebih baik beli saham di harga pasar saat murah. Hal itu terjadi saat TOWR right issue di harga atas pasar, yakni Rp680 per saham. Padahal harga saham TOWR lagi di rentang Rp480 - Rp520 per saham. Hasilnya, saham TOWR sempat naik hingga ke Rp685 per saham.

Artinya, kalau mau menambah modal yang lebih baik beli di pasar. Toh, setelah right issue harga sahamnya berpotensi naik karena ada dana masuk dengan pembelian harga di atas harga pasar. Nantinya, setelah naik pasca right issue tinggal kamu pilih mau lanjut hold atau take profit sebagian (atau seluruhnya) sesuai prospek emitennya.

Ketiga, jika ada right issue di perusahaan yang rugi atau ekuitas negatif. Kamu buat perhitungan seberapa besar potensi turnaround dari transaksi tersebut. Atau transaksi itu hanya restrukturisasi neraca agar terlihat lebih baik hingga mencari tambahan dana modal kerja untuk bisa lanjut bertahan hidup dalam tekanan risiko kinerja yang merugi.

Mau Diskusi Insight Setiap Saham yang Mau Right Issue Langsung Dijawab Founder Mikirduit?

Join Mikirsaham sekarang dengan benefitnya mencakup:

  • Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
  • Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
  • Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
  • Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US, Aksi korporasi, dan IPO
  • Event online bulanan
  • Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
  • Hingga konsultasi private

Untuk detail kamu bisa baca lebih detail terkait benefit dengan klik di sini

💡
Dapatkan Tools Analisis Saham Paling Cocok Untuk Investor Ritel serta Pilihan Saham Indonesia hingga AS dengan AI bersama Investing Pro. Dapatkan Promo Spesial Dari Mikirduit dengan Klik di sini