Drama Backdoor Listing NINE, Menanti Kepastian Cuan dari Tambang Poh di Mongolia
Rencana backdoor listing saham NINE mulai menemukan titik terang. Kali ini, tambang Mongolia milik Grup Poh yang pernah listing di Australia bakal dioper ke NINE. Bagaimana prospeknya?
Mikirduit – Jalan pajang backdoor listing saham NINE sudah mencapai titik terang. Grup Poh telah mulai melakukan mandatory tender offer. Lalu, selanjutnya ada pengalihan aset tambang perseroan di Mongolia. Lalu, bagaimana prospeknya?
Highlight
- Proses backdoor listing NINE mulai masuk fase konkret dengan mandatory tender offer Rp131 per saham dan rencana inbreng aset tambang batu bara Grup Poh di Mongolia senilai indikatif US$150 juta yang akan dieksekusi lewat right issue paling lambat kuartal II/2026.
- Dari sisi bisnis, aset tambang Mongolia milik Grup Poh masih menyisakan banyak tanda tanya karena histori entitasnya menunjukkan kerugian, ekuitas defisit, dan indikasi aktivitas yang hingga 2022 masih berada pada tahap eksplorasi, bukan produksi komersial.
- Dari sisi harga saham, aksi right issue jumbo berpotensi mendorong valuasi dan volatilitas saham NINE secara signifikan, namun upside tersebut sangat bergantung pada skema harga pelaksanaan serta kepastian realisasi dan kualitas aset yang di-inbreng.
- Untuk diskusi saham secara lengkap, pilihan saham bulanan, dan insight komprehensif untuk member, kamu bisa join di Mikirsaham dengan klik link di sini.
Grup Poh sudah mengumumkan pelaksanaan mandatory tender offer di harga Rp131 per saham. Periode mandatory tender offer akan berjalan sejak 19 Desember 2025 hingga 18 Januari 2026.
Langkah selanjutnya adalah rencana Grup Poh mengalihkan salah satu asetnya ke NINE. Dalam keterangan pada akhir 2025, Grup Poh akan mengalihkan aset tambang di Mongolia milik Poh Golden Ger Resources Pte. Ltd, yang merupakan bagian dari Grup Poh.
Nilai aset yang diakuisisi tambang di Mongolia itu sekitar 150 juta dolar AS. Namun, angka itu baru bersifat indikatif saja. Nantinya, nilai transaksi akan tergantung dari hasil rata-rata dua penilai independen yang telah ditunjuk, yakni dari Indonesia dan Australia.
Dalam periode transaksi ini, opsi pembelian berlaku selama 9 bulan sejak ditandatanganinya opsi tersebut. Dengan asumsi tanda tangan pada Desember 2025, berarti berlaku hingga September 2026.
Untuk proses akuisisi tambang milik anak usaha Grup Poh itu, NINE akan melakukan right issue paling lambat pada kuartal II/2026, artinya sekitar April-Juni 2026.
Dalam pengalihan aset tersebut, skemanya menggunakan inbreng. Artinya, tidak ada uang cash yang diterima sepenuhnya oleh NINE dalam right issue, terutama dari Grup Poh. Pasalnya, nantinya Grup Poh akan eksekusi saham baru NINE dengan mengalihkan aset tambang. Paling, tambahan cash berasal dari aksi investor ritel yang ikut eksekusi saham barunya.
Lalu, apa jenis tambang Grup Poh di Mongolia?
Jika mengacu ke aset Tian Poh Resources Ltd di Mongolia itu terdiri dari dua aset tambang, yakni:
- Tambang Batu Bara Nuurst seluas 2.497 hektar dengan sumber daya (bukan cadangan dan data cadangan belum tersedia indikasi masih eksplorasi) sebesar 478 juta ton dengan lokasi 100 km dari Ulan Bator, ibukota Mongolia. (Batu bara thermal kalori rendah)
- Tambang batu bara semi-kokas seluas 530 hektar dengan cadangan 61 juta ton. Posisinya dekat dengan perbatasan China
Di sisi lain, sebelumnya Grup Poh disebutkan berencana mengakuisisi tambang di Indonesia. Sebagai alasan untuk melakukan backdoor listing di Indonesia. Namun, dari pernyataan manajemen yang terakhir, Grup Poh masih melakukan kajian atas akuisisi aset pertambangan di Indonesia.
Jika Grup Poh tidak mengakuisisi tambang di Indonesia sama sekali, pertanyaan lama kami sejak kabar Grup Poh mau akuisisi NINE ini kembali muncul, lalu kenapa Grup Poh memilih repot-repot backdoor listing di Indonesia?
Jadi, bagaimana dengan peluang saham NINE jelang realisasi backdoor listing yang memakan waktu hingga lebih dari 1 tahun ini?
Dua Sudut Pandang Prospek Saham NINE
Kami membuat dua prospek sudut pandang untuk saham NINE. Pertama, dari segi prospek bisnis, sedangkan kedua dari segi prospek pergerakan harga berdasarkan aksi korporasi.
Pertama, dari segi prospek bisnis. Sekilas memang tambang batu bara Grup Poh di Mongolia punya cadangan menengah (untuk skala tambang batu bara kokas).
Jika dilihat jejak entitas-nya yang sempat listing di ASX, Tian Poh Resources Ltd (TPO)., juga terlihat tidak begitu mulus. Manajemen TPO mengajukan suspensi saham TPO sejak 11 Agustus 2021. Hingga akhirnya TPO delisting secara teknis dari bursa saham Australia pada Agustus 2023 karena sudah 2 tahun suspensi sahamnya.
Secara bisnis, ada beberapa keterangan di keterbukaan informasi yang menjelaskan jika bisnis di Mongolia sifatnya masih eksplorasi.
Hal itu terlihat dari informasi yang dirilis pada 31 Januari 2022, perseroan masih terus melakukan studi kelayakan komersial operasi penambangan pada 2022/2023 selaras dengan pemulihan harga batu bara pada periode tersebut. Perseroan juga mengevaluasi opsi pendanaan potensial dan studi nilai tambah yang memanfaatkan batu bara yang ditambah dari proyek, serta opsi pendanaan untuk operasional.
Menariknya, dalam laporan keuangan TPO sepanjang 2021, perseroan mencatatkan kerugian sekitar 874,13 ribu dolar Australia. Nilai kerugian itu menipis setelah sebelumnya di 2020 merugi 4,94 juta dolar Australia yang disebabkan pada periode itu tidak ada penjualan sama sekali.
Catatan lainnya, tingkat utang berbunga TPO per 2021 itu cukup tinggi senilai 5,15 juta dolar Australia dengan posisi ekuitas defisit 4,62 juta dolar Australia. Adapun, itu menjadi laporan keuangan terakhir dari TPO yang bisa diakses.
Dalam kondisi ini, berarti ada satu pertanyaan utama, apakah tambang aset Grup Poh di Mongolia ini sudah produksi komersial atau masih eksplorasi? Jika masih eksplorasi berarti hanya nilai aset-nya saja yang besar, sedangkan dari segi potensi ke kinerja keuangan rendah.
Kedua, dari segi harga saham karena adanya aksi korporasi. Dengan nilai aset indikatof sekitar Rp2,47 triliun, berarti NINE akan melakukan aksi right issue jumbo. Meski, transaksi right issue oleh pengendali sifatnya dengan skema inbreng, bukan suntik dana segar.
Dengan menggunakan data nilai aset indikatif yang akan di-inbreng sekitar Rp2,47 triliun, total lembar saham 2,16 miliar lembar, dan total ekuitas Rp33 miliar.
Kami menggunakan simulasi kasar dengan dua skema, yakni right issue dengan harga pelaksanaan Rp100 per saham dan Rp500 per saham. CATATAN: Ini hanya angka simulasi bukan angka pasti pelaksanaan right issue nanti.
Jika menggunakan asumsi harga pelaksanaan Rp100 per saham, berarti NINE akan menerbitkan 24,7 miliar lembar saham baru. Dengan begitu, total ekuitas senilai Rp2,5 triliun, serta book value per share pasca right issue (bertambahnya jumlah lembar saham) menjadi Rp93 per saham. Tingkat book value naik dari Rp15 menjadi Rp93 per saham. Jika PBV NINE per 9 Januari 2026 sekitar 19 kali menjadi 5 kali saja, berarti harga saham NINE berkisar Rp465 per saham.
Namun, catatan asumsi PBV 5 kali ini tidak memasukkan probabilitas harga teoritis pasca right issue yang bisa ke Rp108 per saham (jika menggunakan angka simulasi harga saham per 9 Januari 2026).
Lalu, jika menggunakan asumsi harga pelaksanaan right issue di Rp500 per saham, berarti total lembar saham baru yang diterbitkan sekitar 4,94 miliar lembar. Dengan total ekuitas Rp2,5 triliun, berarti book value per share menjadi Rp352 per saham.
Untuk opsi harga pelaksanaan di Rp500 per saham ini, posisi PBV 1 kali saja masih berada di atas harga pasar. Jika 2 kali dengan asumsi demand buy meningkat karena harga pelaksanaan di atas pasar bisa mencapai Rp704 per saham.
NOTES: INI HANYA ANGKA SIMULASI BUKAN ANGKA PASTI. HARGA SAHAM TIDAK PASTI SESUAI SUPPLY DAN DEMAND BUY AND SELL SEHINGGA KITA TIDAK BISA PREDIKSI 100% PASTI.
Kesimpulan
Jadi, aksi korporasi NINE ini memberikan gambaran dua sisi, yakni dari segi harga ada potensi fluktuasi naik karena akan melakukan right issue dengan nilai triliunan rupiah dari ekuitas saat ini hanya Rp33 miliar. Tapi, dari segi risiko bisnis masih banyak pertanyaan terkait aset Grup Poh di Mongolia yang sampai 2022 masih dalam tahap eksplorasi. Bagaimana kondisinya saat ini, apakah sudah berproduksi atau masih eksplorasi? Jika masih dalam tahap eksplorasi juga, berarti kinerja NINE tidak akan mencatatkan lonjakan yang signifikan dalam jangka dekat-menengah hingga tambang tersebut berproduksi atau Grup Poh melakukan realisasi akuisisi tambang produktif di Indonesia.
Dapatkan Insight Saham hingga Diskusi serta Konsultasi Bersama hampir 1.000 Investor Lainnya di Mikirsaham
Yuk join dengan Mikirsaham sekarang untuk bisa dapatkan benefit ini semua:
- Stockpick investing (dividend, value, growth, contrarian) yang di-update setiap bulan (terbarunya akan diseleksi terbaik maksimal 5 masing-masing strategi dengan analisis yang komprehensif)
- Stock Ideas (memberikan gambaran besar saham-saham yang menarik, tapi tidak termasuk stockpick)
- Stockpicking swing trade mingguan (khusus member mikirsaham elite jika kuota masih tersedia)
- Insight saham terkini serta action-nya
- Update porto founder
- IPO dan Corporate Action Digest
- Event online bulanan
- Grup Diskusi Saham
Join ke Member Mikirsaham Pro sekarang juga dengan klik link di sini
Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini