Dividend for Living vs Trading for Living, Mana yang Lebih Oke?

Hidup dari saham, memang bisa? ya bisa jika sudah ada modalnya. Nah, pertanyaannya lebih oke trading for living atau dividend for living?

Dividend for Living vs Trading for Living, Mana yang Lebih Oke?

Mikirduit – Mana yang akan kamu pilih, dividend investing for living atau trading for living? banyak yang menilai kalau dividend investing for living membutuhkan modal yang lebih besar dibandingkan trading for living. Lalu, mana yang terbaik?

Saya sempat melihat postingan yang membandingkan dividend for living dengan trading for living. Dividend for living disebut butuh Rp600 juta jika ingin hidup dengan gaji UMR. Dengan hitungan investasi di saham dividen yang memiliki dividend yield rata-rata 10 persen per tahun. Lalu, trading for living hanya butuh Rp100 juta untuk bisa hidup dengan gaji UMR. Dengan hitungan bisa cuan minimal 5 persen per bulan. (asumsi gaji UMR sekitar Rp5 juta per bulan)

Lalu, apakah semudah itu? kami akan ulas realitanya.

Kelebihan dan Risiko Trading For living

Jika menggunakan hitungan modal Rp100 juta dan keuntungan konsisten 5 persen per bulan sehingga bisa dapat Rp5 juta bersih terlihat masuk akal. Namun, tentunya tidak semudah itu. 

Ingat, market tidak selalu bullish, ada kalanya market di fase bearish saat ini karena likuiditas sedikit akibat suku bunga tinggi. Dalam kondisi market yang kurang menarik seperti saat ini, kadang-kadang bisa dapat bersih 1-3 persen dalam sebulan saja sudah bagus. 

Tapi, kan banyak saham yang multibagger seperti SSIA kemarin? ya itu jika sudah melihat hasilnya terlihat mencari saham multibagger itu mudah. Namun, dalam prakteknya, ketika kamu butuh cuan dari saham untuk biaya hidup bulanan, berarti timeframe-mu menjadi pendek sekali minimal seminggu. Jika lebih dari seminggu dan posisi floating loss akan menjadi tanda bahaya untuk kebutuhan pengeluaranmu nantinya. 

Di sisi lain, saham multibagger biasanya baru bisa bagger setelah beberapa waktu yang bisa hitungan 1 -6 bulan bahkan 1 tahun. Belum lagi dalam proses menjadi multibagger kadang secara psikologis akan dibawa naik turun dan penuh keyakinan hingga keraguan. 

Dalam trading for living ini, kamu butuh sangat disiplin dengan trading plan seperti, beli harus selalu buy on weakness dengan asumsi menjaga kepastian meski tetap ada risiko floating loss. Take profit jika sudah mencapai 5-10 persen atau jika chart masih mendukung bisa hold dan jual jika mulai ada tanda pembalikkan arah, serta stop loss jika setiap penurunan 3-5 persen. 

Rules ini tidak boleh dilanggar karena jika tidak kamu bisa tidak mendapatkan cuan apapun nantinya untuk kebutuhan bulanan. Rules yang dibuat ini juga akan membantumu untuk tidak terbawa psikologis keuangan saat harga saham naik tinggi, dan berharap terus naik hingga akhirnya malah jeblok. 

Jadi, kelebihan dari trading for living, secara modal bisa lebih rendah dibandingkan dengan dividend for living. Namun, risikonya adalah kamu mengejar kebutuhan biaya bulanan-mu sehingga ada risiko secara psikologis terlalu euforia saat harga saham naik terlalu cepat hingga berharap lebih yang bisa berujung kerugian, serta ada harapan saham bisa bangkit saat turun dan menjadi panik jika jeblok berkelanjutan. Intinya, risiko dari trading for living adalah menghadapi ketidakpastian pasar.

Untuk itu, batasan kapan harus take profit dan stop loss untuk menjaga psikologismu terjaga ya. Tapi, tetap tingkat risiko trading for living sangat sulit. Kamu bisa lakukan ini jika sudah punya dana darurat minimal 6 bulan (untuk yang single) dan 12 bulan untuk yang berkeluarga). Dana darurat digunakan untuk antisipasi jika hasil tradingan beberapa bulan pertama tidak sesuai ekspektasi dan butuh evaluasi dari segi detail trading plannya.

Hal yang Harus Dilakukan Investor Saham Saat Floating Loss
Pasar saham bergejolak lagi setelah Israel menyerang Iran. Banyak saham big caps dan fundamental bagus kolaps. Kalau saham investasi lagi floating loss, apa yang harus kita lakukan?

Kelebihan dan Risiko Dividend For Living

Meski mungkin kalah populer dengan trading for living, tapi investasi saham dividend for living juga disebut menjadi pilihan menarik. Pasalnya, di sini kamu tinggal pilih saham yang secara historis rutin bagi dividen dan menarik dividen yang biasanya dibagikan dalam periode sekali setahun atau empat kali setahun. Nantinya, dari total dividen itu bisa diatur untuk kebutuhan setahun selanjutnya. 

Namun, dividend for living dianggap butuh modal yang lebih besar dibandingkan dengan trading for living. Misalnya, kami akan simulasikan dua karakter saham dividen rutin, yakni non-cyclical dengan cyclical. 

Pertama, untuk saham non-cyclical kami pilih dari segi POWR. Meski, bisnisnya dipengaruhi oleh kebutuhan listrik industri di beberapa kawasan industri di Bekasi-Cikarang, tapi secara model bisnis penghasil cash yang rutin membuat potensi dividennya berkelanjutan. Secara historis, dalam lima tahun terakhir, rata-rata dividend yield-nya sekitar 7,98 persen. 

Dengan asumsi itu, jika membutuhkan dana Rp5 juta per bulan (Rp60 juta per tahun), berarti total modal yang dibutuhkan senilai Rp900 juta. Modal ini dengan menggunakan asumsi toleransi penurunan dividen. Lalu, bagaimana realitanya dalam 5 tahun terakhir, berapa total dividen yang didapatkan dari POWR? 

Dengan asumsi pembelian saham POWR di 2 Januari 2019 di harga Rp877 per saham, berarti total lembar saham yang didapatkan sekitar 1,02 juta lembar. Secara umum, POWR membagikan dividen dua kali setahun. 

Tahun pertama, total dividen yang didapatkan dengan modal Rp900 juta tadi adalah senilai Rp68,33 juta. 

Tahun kedua, total dividen yang didapatkan senilai Rp60,04 juta. 

Tahun ketiga, total dividen yang didapatkan senilai Rp59,05 juta. 

Tahun keempat, total dividen yang didapatkan senilai Rp66,7 juta. 

Tahun kelima, total dividen yang didapatkan sekitar Rp73 juta. Sehingga rata-rata dividen yang didapatkan dalam 5 tahun terakhir sekitar Rp65,43 juta per tahun.

Lalu, kami akan coba dividend for living di saham cyclical seperti ITMG. Dengan rata-rata dividend yield ITMG 18,9 persen, kami pun alokasikan modal lebih rendah daripada POWR, yakni senilai Rp600 juta. Dengan asumsi pembelian di 2 Januari 2019 di harga Rp20.286 per saham, total lembar saham yang didapatkan sekitar 29.600 lembar. Seperti POWR, ITMG juga membagikan dividen 2 kali dalam setahun, berikut simulasi dividend for living dari ITMG dalam 5 tahun terakhir. 

Tahun pertama, total dividen yang didapatkan dari ITMG senilai Rp81,4 juta. 

Tahun kedua, total dividen yang didapatkan dari ITMG sekitar Rp25,95 juta. 

Tahun ketiga, total dividen yang didapatkan sekitar Rp40,99 juta. 

Tahun keempat, total dividen yang didapatkan sekitar Rp212,17 juta.

Tahun kelima, total dividen yang didapatkan sekitar Rp268 juta. 

Perbedaan signifikan antara saham non-cyclical dengan cyclical adalah fluktuasi tingkat dividen yang dibagikan. Saham non-cyclical cenderung memiliki fluktuasi tingkat dividen yang lebih rendah dibandingkan dengan cyclical. 

Untuk itu, kamu yang incar dividend for living dari saham cyclical disarankan untuk disiplin mengatur pengeluaran meski mendapatkan dividen super jumbo. Tujuannya, agar ketika dividen turun dan di bawah target Rp60 juta tadi, selisihnya bisa ditutup dari kelebihan dividen jumbo sebelumnya. 

Untuk pengelolaan dana dividen for living bisa dilakukan di reksa dana pasar uang. Jadi, nantinya setiap bulan akan dicairkan seperti mendapatkan gaji.

Selain itu, sama seperti trading for living, untuk dividend for living juga disarankan untuk punya dana darurat 6 bulan bagi yang single dan 12 bulan bagi yang berkeluarga untuk antisipasi hal tidak terduga seperti dividen menciut dan uang tidak cukup untuk pengeluaran bulanan. 

Dari penjelasan ini, kelebihan dividend for living adalah kepastian mendapatkan dana dari saham yang rutin bagi dividen. Meski, ada risiko naik-turunnya dividen hingga dividend tidak dibagikan karena hal luar biasa. 

Salah satu kekurangannya adalah jika dividen langsung dicairkan, berarti bakal kena pajak 10%. Untuk itu, saat perhitungan modal yang dibutuhkan untuk mendapatkan keuntungan yang bakal digunakan sebagai pengeluaran bulanan juga diperhitungkan pajak dividen tersebut. 

Kesimpulan

Mau itu trading for living atau dividend for living, salah satu risiko pasar saham adalah ketidakpastian. Untuk menghadapi ketidakpastian itu, kita yang mau menjalaninya harus manajemen risiko dari persiapan dana darurat, bekal pengetahuan untuk jalan yang mau ditempuh, dan plan B jika ternyata hasilnya tidak sesuai ekspektasi. 

Jika perbandingan risiko, trading for living terlihat bisa menggunakan modal lebih kecil senilai Rp100 juta. Namun, ketika market sangat buruk (sideways berkepanjangan), ada potensi mendapatkan keuntungan take profit (bukan floating profit) 5 persen per bulan pun menjadi sulit. Bahkan, saat ada market crash seperti terjadi di Maret 2020, selama sebulan bisa off trading dulu yang artinya ada potensi tidak ada pendapatan. Meski, peluang terjadinya market crash sebesar itu sangat kecil, tapi wajib harus diantisipasi sejak awal. 

Sementara itu, dividend for living memang membutuhkan modal yang besar, tapi memberikan kepastian dividen, selama saham yang dipilih punya fundamental bisnis yang bagus dan kokoh. Risiko terbesar dividend for living adalah penurunan dividen hingga ada puasa dividen. Namun, biasanya saham yang sudah rutin bagi dividen dalam 5-10 tahun terakhir jarang yang tiba-tiba absen kecuali memang kondisi bisnisnya memburuk.

Mau dapat info saham dividen jumbo serta strategi investasi dan outlook publikasi bulanan?

Pas banget, Mikirduit baru saja meluncurkan Zinebook #Mikirdividen yang berisi review 20 saham dividen yang cocok untuk investasi jangka panjang lama banget.

Kalau kamu beli #Mikirdividen edisi pertama ini, kamu bisa mendapatkan:

  • Update review laporan keuangan hingga full year 2023-2024 dalam bentuk rilis Mikirdividen edisi per kuartalan
  • Perencanaan investasi untuk masuk ke saham dividen
  • Grup Whatsapp support untuk tanya jawab materi Mikirdividen
  • Siap mendapatkan dividen sebelum diumumkan (kami sudah buatkan estimasinya)
  • Publikasi eksklusif bulanan untuk update saham mikirdividen dan kondisi market

Tertarik? langsung saja beli Zinebook #Mikirdividen dengan klik di sini

Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini