Di Balik Drama MSCI, Ini 20 Saham yang Diakumulasi Investor Asing Pasca Trading Halt

 Ternyata setelah kejatuhan IHSG karena MSCI bulan lalu, asing masih beli saham-saham Indonesia, apakah ini jadi strategi mereka dapat harga murah?  

transaksi investor asing

Mikirduit -  Di balik kejatuhan IHSG sampai trading halt dua kali gara-gara MSCI. Ternyata, investor asing masih ramai beli saham RI, apakah ini hanya akal-akalan mereka biar dapat harga murah?

Highlight: 

  • Asing masih akumulasi beberapa saham RI ratusan triliun sejak MSCI Crash. 
  • Sejak saat itu, asing berhasil dapat posisi harga bawah dan kini sudah banyak yang cuan. 
  • Untuk diskusi saham secara lengkap, pilihan saham bulanan, dan insight komprehensif untuk member, kamu bisa join di Mikirsaham dengan klik link di sini..

Asing Borong Saham RI Dapat Harga Bawah  

Sempat ada anggapan kalau kejatuhan IHSG gara-gara MSCI bulan lalu itu hanya “akal-akalan” asing ingin dapat harga bawah saja. 

Sebelum crash terjadi, IHSG memang sedang dalam performa terbaiknya. Bahkan pada 20 Januari 2026, indeks sempat mencetak rekor dengan menembus level 9.000. Di level tersebut, banyak saham sudah berada di harga tinggi,  terutama saham-saham konglomerasi yang naiknya sangat eksponensial.

Kenaikan yang terlalu cepat ini bisa jadi membuat investor asing kesulitan masuk di harga yang dianggap menarik.

Lalu, kurang dari seminggu setelah IHSG mencetak all time high, tepatnya pada 28 Januari 2026 pagi, pasar dikejutkan oleh ultimatum dari MSCI. Mereka mengancam akan menurunkan status Indonesia dari emerging market menjadi frontier market. MSCI juga menyoroti isu transparansi free float sejumlah saham di BEI, serta memutuskan untuk menghentikan sementara rebalancing periode Februari 2026.

Meski demikian, dalam pengumuman selanjutnya MSCI tetap mengeluarkan beberapa saham dari konstituennya seperti CLEO dan ACES, serta menurunkan INDF ke kategori small caps.

Dampaknya luar biasa. Bursa langsung jeblok. Dalam dua hari terjadi tekanan besar hingga sempat trading halt. Penguatan yang terbentuk selama enam bulan sebelumnya runtuh hanya dalam waktu singkat.

Banyak saham konglomerasi mengalami Auto Reject Bawah (ARB) berhari-hari. Tidak sedikit yang terkoreksi hingga 50% bahkan lebih dari posisi tertingginya.

Kondisi inilah yang memunculkan keyakinan bahwa asing justru memanfaatkan momen panic selling untuk melakukan akumulasi di harga murah.

Data pun akhirnya berbicara. Sejak MSCI Crash pada 28 Januari hingga 25 Februari 2026, tercatat ada 20 saham yang tetap diborong oleh investor asing sebagai berikut: 

Dari data di atas terlihat bahwa 13 dari 20 saham yang diborong asing sejak MSCI Crash sudah berada di zona cuan dari harga rata-rata akumulasi mereka.

Tiga saham teratas berhasil mencetak cuan double digit. 

Saham BIPI di luar dugaan menjadi yang paling untunh, dengan kenaikan mencapai 43 persen dari harga rata-rata beli asing. Disusul UNTR dengan keuntungan sekitar 25 persen, serta MBMA yang sudah memberikan imbal hasil sekitar 15 persen. 

Namun yang menarik, saham-saham yang diborong ini bukan hanya second liner, tetapi juga diisi nama-nama besar dan likuid. Ada BBRI, BMRI, ASII, EXCL, ADRO, INCO, dan lainnya. Artinya, aksi beli ini terlihat terarah, bukan sekadar spekulasi jangka pendek.

Di sektor komoditas, UNTR, MBMA, ADRO, dan INCO menunjukkan pemulihan yang cukup solid. Sementara di sektor perbankan, meski kenaikannya belum setinggi BIPI atau UNTR, saham seperti BBRI dan BMRI sudah kembali berada di atas harga rata-rata beli asing. Ini memberi sinyal bahwa dana global tetap menjadikan big banks sebagai core holding saat volatilitas tinggi.

Memang masih ada tujuh saham yang posisinya berada di bawah harga rata-rata beli asing, bahkan beberapa terkoreksi cukup dalam seperti MORA dan DSSA. Namun dalam konteks akumulasi, posisi ini belum tentu mencerminkan kerugian final. Bisa saja ini masih fase konsolidasi sambil menunggu katalis berikutnya.

Jika dikaitkan dengan narasi sebelumnya, bahwa MSCI Crash membuka ruang harga bawah setelah IHSG berada di level yang sangat tinggi, maka data ini semakin memperkuat dugaan bahwa saat pasar panik, asing justru melakukan seleksi dan akumulasi.

Dalam waktu kurang dari satu bulan, mayoritas posisi mereka sudah menghasilkan cuan.

4 Saham Ini Punya Prospek dari Tambang Emas Baru!
Ada empat emiten yang diketahui punya tambang emas baru, diantaranya UNTR, INDY, BRMS, dan EMAS, kira-kira gimana prospeknya? siapa paling menarik saham-nya?

Big Fund Reposisi Portofolio 

Kalau kita tarik lebih dalam, memang benar asing masuk ke saham RI. Namun ini bukan sekadar “balik belanja murah”, melainkan juga re-posisi portofolio,. 

Mereka masuk ke saham-saham konglomerasi yang harganya sudah terkoreksi dalam dan kembali ke level yang lebih rasional. Tapi di saat yang sama, mereka juga mengakumulasi saham big caps perbankan serta blue chip lain yang fundamentalnya solid dan likuiditasnya besar.

Artinya, ini bukan aksi spekulatif.  Ini adalah realokasi aset, dari saham yang sebelumnya sudah terlalu mahal, ke saham yang valuasinya kembali menarik dan memiliki daya tahan fundamental.

Dengan kata lain, asing tetap percaya pada pasar Indonesia, tetapi mereka menjadi jauh lebih selektif.

Di sisi lain, kita juga harus realistis.

MSCI Crash ini pada dasarnya berawal dari isu teknis, terutama soal transparansi free float dan struktur kepemilikan. Masalah seperti ini bukan sesuatu yang bisa diselesaikan dalam hitungan minggu. Perlu waktu, koordinasi regulator, dan penyesuaian dari emiten.

Artinya, dalam jangka pendek hingga menengah, pasar kita masih berada dalam fase pembenahan.

Dan momen krusial terdekat ada di Mei 2026, saat MSCI kembali melakukan rebalancing. Itu akan menjadi titik penentuan, apakah Indonesia tetap dipertahankan di level emerging market, atau justru benar-benar diturunkan kasta menjadi frontier market.

Namun, kami meyakini seharusnya Indonesia tidak akan turun kasta, karena sejauh ini sudah banyak berita positif di pasar, mulai dari transparansi kepemilikan saham 1 persen, pembenahan free float yang ditargetkan dalam tiga tahun, pengkajian ulang FCA, sampai pergantian pejabat regulator (BEI dan OJK) karena sejak MSCI Crash banyak yang akhirnya memilih resign. 

Meski begitu, kami juga mengantisipasi, apapun keputusan MSCI nanti, tetap saja masih ada risiko outflow. 

Morning call MSCI bulan lalu secara teknis sudah mempengaruhi banyak institusi global untuk melakukan penyesuaian portofolio. Ke depan, pergerakan pasar kemungkinan masih akan diwarnai tarik-menarik antara:

  • Investor yang mencari saham dengan prospek akumulasi jangka panjang
  • Investor yang mengurangi bobot demi manajemen risiko

Inilah fase transisi. Bukan lagi fase euforia seperti sebelum IHSG menembus 9.000, tetapi juga belum sepenuhnya fase pemulihan yang stabil. Pada akhirnya, pasar saat ini sedang mencari keseimbangan baru.

Kalau kita mundur sedikit sebelum crash, kenaikan IHSG memang sangat kencang, tetapi kenaikan itu sangat ditopang oleh saham-saham konglomerasi. Sementara itu, indeks lain seperti IDX30 dan LQ45 justru tertinggal cukup jauh.

Artinya, kenaikan indeks tidak sepenuhnya merata.

Kondisi ini membuat manajer investasi yang berpatokan pada indeks (benchmark-based fund) mulai berpikir ulang. 

Ketika pergerakan hanya ditopang segelintir saham, strategi yang mengikuti komposisi indeks justru bisa menjadi kurang optimal atau bahkan tertekan dari sisi performa dan risiko.

Akibatnya, sebagian memilih melakukan reposisi atau realokasi. Bukan keluar sepenuhnya dari pasar Indonesia, tetapi memindahkan alokasi ke produk yang lebih fleksibel, misalnya produk reksa dana aktif yang tidak terlalu terikat pada struktur indeks tertentu.

Jadi yang terjadi saat ini bukan sekadar “asing masuk atau keluar”, melainkan pergeseran strategi.

Dari fase momentum-driven yang ditopang saham konglo, menuju fase selektif berbasis fundamental dan manajemen risiko.

Dan selama proses reposisi ini masih berlangsung , ditambah menunggu kepastian MSCI pada Mei 2026, volatilitas kemungkinan masih akan menjadi teman di bursa saham kita.

Mikirduit Lagi Ada Diskon Rp200.000 sampai Rp1 juta untuk Join Mikirsaham Nih!

Benefitnya mencakup:

  • Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
  • Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
  • Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
  • Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US, Aksi korporasi, dan IPO
  • Event online bulanan
  • Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
  • Hingga konsultasi private

Untuk detail kamu bisa baca lebih detail terkait benefit dengan klik di sini

Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini

💡
Dapatkan Tools Analisis Saham Paling Cocok Untuk Investor Ritel serta Pilihan Saham Indonesia hingga AS dengan AI bersama Investing Pro. Dapatkan Promo Spesial Dari Mikirduit dengan Klik di sini