Catatan Nasib 3 Saham Bakrie, Nyangkuters Wajib Baca Ini

Trio Saham Bakrie x Salim Bangkit Lagi, Gimana Prospeknya? 

saham BUMI, BRMS, dan DEWA

Mikirduit - Saham BUMI, BRMS, dan DEWA akhirnya sudah mulai bangkit lagi dan membentuk higher low baru, akankah ini tandanya sudah mencapai bottom dan siap terbang lagi? kira-kira gimana prospek bisnis-nya ke depan? 

Highlight
  • Trio saham yang ada hubungan dengan Bakrie dan Salim terpantau naik signifkan setelah terjun kisaran 50 persen dari titik tertinggi Januari 2026.
  • Risiko outflow asing masih membayangi seiring perpindahan kepemilikan asing ke lokal untuk menambah free float.
  • Namun, prospek jangka menengah-panjang menarik dipantau dari ekspansi bisnis tambang mineral yang dinilai bisa mendongkrak laba ke depan.
  • Untuk diskusi saham secara lengkap, pilihan saham bulanan, dan insight komprehensif untuk member, kamu bisa join di Mikirsaham dengan klik link di sini

Pergerakan Saham BUMI-BRMS-DEWA 

Sejak MSCI Crash alias IHSG trading halt dua kali pada akhir bulan lalu, hampir semua saham konglomerasi longsor, tak terkecuali trio saham yang masih ada hubungan dengan grup Bakrie dan Salim yaitu saham BUMI, BRMS, dan BUMI. 

Kalau ditarik dari pergerakan harga tertingginya, ketiga saham ini sama-sama membentuk bottom pada 3 Februari 2026.

Saham Bumi Resources Tbk (BUMI) sempat menyentuh level tertinggi di 486 pada Januari 2026, lalu turun tajam 58 persenhingga ke 198 pada 3 Februari 2026.

Sementara itu, saham Darma Henwa Tbk (DEWA) juga mengalami tekanan serupa. Setelah mencapai level 800 pada 7 Januari 2026, harga sahamnya ambles hingga 400 pada 3 Februari 2026, atau turun sekitar 50 persen.

Adapun Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), jika ditarik dari high intraday pada 26 Januari 2026 hingga level terendah 3 Februari 2026, telah terkoreksi sekitar 41,76 persen.

Jadi, ketiganya sama-sama mencatatkan titik terendah pada 3 Februari, setelah mengalami koreksi tajam dari masing-masing level tertinggi di Januari 2026.

Namun, setelah menyentuh titik terendah itu, ketiga saham tersebut mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan dan menariknya telah membentuk pola higher low. Artinya, level terendah terbaru berada lebih tinggi dibandingkan titik low sebelumnya, yang secara teknikal mengindikasikan tekanan jual mulai mereda dan potensi pembalikan arah atau setidaknya fase rebound jangka pendek.

Hingga harga penutupan perdagangan Kamis, 12 Februari 2026, penguatannya pun terbilang signifikan. Saham BUMI dan DEWA masing-masing sudah melonjak lebih dari 40 persen dari level terendahnya. 

Sementara itu, saham BRMS juga menguat sekitar 38 persen dari titik bottom 3 Februari.

Pergerakan ini menunjukkan adanya respons beli yang cukup agresif setelah fase koreksi tajam, sekaligus menandakan bahwa area low sebelumnya menjadi level support kuat dalam jangka pendek.

Saat ini pergerakan saham BUMI, BRMS, dan DEWA terlihat bergerak beriringan dan sama-sama sedang tertahan di area resistance terdekat.

Resistance BUMI berada di kisaran 300 dengan support terdekat di 214.Resistance BRMS berada di 1.200 dengan support terdekat di 915.Resistance DEWA berada di 600 dengan support terdekat di 440.

Jika dalam waktu dekat terjadi koreksi, ketiganya berpotensi bergerak terkonsolidasi terlebih dahulu dengan menguji area support masing-masing, seiring meredanya momentum rebound jangka pendek.

Sebaliknya, apabila resistance saat ini mampu ditembus dengan dukungan volume yang kuat, maka masih terbuka ruang penguatan lanjutan menuju resistance berikutnya, terutama pada level-level psikologis berbasis round number.

Gimana strateginya saat ini? 

Untuk yang belum punya posisi di BUMI, BRMS, dan DEWA, sebaiknya masih wait and see dulu. Setelah koreksi dalam dan rebound cepat, tren masih sangat mungkin berubah menjadi sideways. 

Secara teknikal, kenaikan tajam dalam waktu singkat juga berisiko hanya menjadi dead cat bounce, bukan pembalikan tren yang solid.

Untuk yang sudah masuk dari bawah, bersyukurkan, karena pastinya sudah cuan. Namun jangan terlalu greedy, apalagi saat ini harga sedang tertahan di area resistance. 

Strategi yang lebih bijak adalah mulai merealisasikan sebagian profit, terutama karena kondisi pasar masih dibayangi potensi outflow dalam jangka pendek.

Lalu bagaimana dengan yang masih nyangkut? Ini memang jadi PR dan wajib dipantau ketat. Karena ketiga saham ini bergerak seirama, manajemen risiko menjadi kunci.

Jika risiko sudah mulai bisa ditoleransi ketika harga sedang menguat saat ini, sebaiknya kurangi porsi untuk mengamankan sebagian modal. Dengan begitu, kita punya ruang likuiditas untuk melakukan average down secara terukur apabila harga kembali terkoreksi ke area support terdekat

Pendekatannya tetap disiplin. Jangan all in dalam satu kali transaksi, dan pastikan average down dilakukan di area teknikal yang jelas, bukan sekadar karena harga terlihat murah.

Lantas, apakah masih bisa hold jangka panjang? gimana prospeknya? 

Nah, ini lanjutan untuk yang posisinya terlanjur nyangkut, yang biasanya berawal dari trading lalu berubah jadi investing. Apakah boleh hold lama? Atau bagi yang punya harga bawah dan masih optimis ingin menjadikannya investasi jangka panjang, bagaimana?

Jika ingin hold lebih lama (bukan seumur hidup ya), bisa saja. Namun, prinsip money management sejak awal tetap menjadi hal utama. 

Pastikan masih ada ruang untuk melakukan average down dalam kondisi seperti ini, sehingga keputusan hold bukan karena terpaksa, tetapi memang bagian dari strategi yang terukur.

Kedua, kita perlu melakukan cross check ulang terhadap prospek fundamentalnya. Apakah ketiga saham tersebut memang memiliki momentum pertumbuhan yang menarik dalam jangka panjang?

Ketiga, manage ekspektasi yang berlebihan. Jika keuntungan sudah cukup signifikan seperti di atas 30 persen, bahkan tembus 100 persen, opsi jual untung terlebih dulu bisa lebih bijak untuk merealisasikan keuntungan. Apalagi, saham-saham Bakrie nir dividen, jika ada prospek pembagian dividen pun yield-nya tidak besar.

Untuk itu, kami akan coba ulas satu per satu, supaya pertimbangan untuk hold menjadi lebih mantap dan bukan sekadar ikut-ikutan karena narasi masuk indeks saja, seperti MSCI misalnya.

Saham BUMI 

Mulai dari BUMI dulu yang merupakan emiten kongsi antara grup Bakrie dan Salim. Baru-baru ini, melalui laporan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), secara terbuka menerangkan kalau UBO dari saham BUMI itu ada dua orang yaitu : Nirwan Dermawan Bakrie dan Anthony Salim. (Keduanya menjadi UBO dengan berbagi kepemilikan di Mach Energy yang menjadi pengendali BUMI.

Sebagai catatan, Ultimate Beneficial Owner (UBO) alias Pemilik Manfaat Utama, yaitu individu atau orang perseorangan yang pada akhirnya memiliki, mengendalikan, atau menerima keuntungan terbesar dari sebuah perusahaan atau badan hukum, seringkali di balik layar

Keterbukaan informasi tersebut tentu menjadi satu good movement, yang menunjukkan progress transparansi berjalan baik setelah beberapa waktu lalu huru-hara free float dengan MSCI. 

Namun, ada catatan juga untuk money flow di saham BUMI, setidaknya dalam jangka pendek masih ada risiko outflow. Sebagaimana diketahui, sejak tahun lalu Chengdong terus berjualan, kalau kita track hampir tiap hari ada transaksi jual seperti berikut: 

Tapi kita pahami dulu, alasan Chengdong jualan itu ada sebabnya. 

Bermula dari 2009, BUMI menarik utang dalam jumlah besar dari China Investment Corporation (CIC). Utang tersebut awalnya digunakan untuk membiayai ekspansi dan operasional perusahaan di tengah ambisi besar grup Bakrie di sektor komoditas.

Ketika harga batu bara anjlok pada periode 2013–2015, kinerja BUMI memburuk hingga mengalami gagal bayar dan ekuitas negatif yang sempat menembus sekitar Rp40 triliun pada 2015. 

Situasi ini memaksa perusahaan masuk proses PKPU yang berujung pada restrukturisasi besar pada 2017, di mana sebagian besar utang, termasuk milik kreditur asing seperti Chengdong/CIC, dikonversi menjadi saham melalui skema debt-to-equity swap. Dampaknya, para kreditur resmi menjadi pemegang saham, namun terjadi dilusi besar bagi pemegang saham lama.

Memasuki periode 2025 hingga awal 2026, jejak Chengdong mulai memudar seiring aksi jual bertahap di pasar reguler sebagai bagian dari exit strategy setelah bertahun-tahun terlibat dalam restrukturisasi. 

Penjualan tersebut tidak hanya merealisasikan investasi mereka, tetapi juga turut meningkatkan porsi free float BUMI, yang menjadi salah satu faktor penting dalam upaya masuk ke indeks global seperti MSCI.

Jadi, bisa dibilang untuk saat ini Chengdong jualan dan BUMI butuh free float cukup supaya tetap likuid sahamnya adalah win win solution. 

Langkah untuk meningkatkan free float juga semakin nampak jelas, sejak terjadi transkasi crossing jumbo di saham BUMI pada 19 Januari  2026 lalu sekitar Rp6,9 triliun. 

Setelah ditelusuri, baik pihak pembeli maupun penjual sama-sama menggunakan broker RB (Ina Sekuritas). Pihak pembeli disebut merupakan entitas yang dikendalikan Grup Salim melalui PT Gema Insani Karya, sementara pihak penjual adalah Treasure Global Investment Limited (TGIL).

TGIL sendiri masih memiliki relasi kuat dengan Grup Salim. Struktur kepemilikannya sekitar 83,85 persen dikuasai Mach Energy Pte Ltd yang berada di bawah kendali Anthony Salim. Mach Energy yang berbasis di Hong Kong juga dikenal sebagai salah satu pengendali saham BUMI. 

Dengan struktur tersebut, transaksi crossing jumbo ini dapat dikatakan sebagai perpindahan saham dari Salim untuk Salim. Langkah ini dinilai sebagai bagian dari strategi penataan kepemilikan, termasuk untuk mengurangi porsi kepemilikan asing sehingga free float meningkat. Pasca transaksi tersebut, kepemilikan TGIL di BUMI tercatat menyusut menjadi sekitar 3,18 persen dari sebelumnya 8,08 persen.

Melansir data NeoBDM sampai closing Rabu (11/2/2026), terlihat jelas free float yang sesungguhnya dimiliki publik atau retail sudah naik perlahan dan kini mencapai 19 persen. 

Beralih ke bisnis BUMI, karena ujung-nya sebagai investor kita berharap keuntungan dari riil bisnisnya yang menggerakan harga saham. Bukan hanya soal perpindahan uang dari institusi satu ke yang lain-nya. 

BUMI tengah menjalankan strategi jangka menengah untuk mengurangi ketergantungan terhadap batubara, dengan memperluas portofolio ke sektor energi baru terbarukan (EBT), mineral, dan logam. Langkah ini menjadi bagian dari upaya reposisi BUMI agar lebih relevan dengan arah transisi energi global dan preferensi investor institusional.

Salah satu langkah konkret yang sudah direalisasikan adalah akuisisi 100% saham Wolfram Limited di Australia, yang rampung pada November 2025. Melalui akuisisi ini, BUMI memperoleh eksposur ke tambang emas dan tembaga, dua komoditas yang dinilai memiliki prospek jangka panjang seiring meningkatnya kebutuhan logam untuk elektrifikasi dan pengembangan energi bersih. 

Aksi korporasi ini menandai masuknya BUMI ke segmen logam bernilai tambah yang lebih stabil dibanding batubara.

Selain itu, BUMI juga memperkuat pijakan di sektor mineral dengan mengakuisisi 45% saham PT Laman Mining, perusahaan tambang bauksit. Investasi ini membuka peluang bagi BUMI untuk terlibat lebih jauh dalam rantai pasok aluminium, yang memiliki permintaan struktural kuat, terutama dari sektor kendaraan listrik dan infrastruktur energi.

Di sisi internal, BUMI juga masih berada dalam fase restrukturisasi dan reorganisasi korporasi yang bertujuan memperbaiki struktur keuangan, efisiensi operasional, serta fleksibilitas pendanaan. 

Reorganisasi ini menjadi fondasi penting bagi BUMI untuk melanjutkan agenda ekspansi dan akuisisi ke depan, termasuk memanfaatkan ruang pendanaan dari pasar obligasi yang disebut-sebut akan digunakan untuk mendukung aksi korporasi lanjutan.

Dari sisi pendanaan, BUMI telah menerbitkan tiga  tahap obligasi di tahun 2025 dan tahap IV ada Januari 2026, yang merupakan bagian dari Obligasi Berkelanjutan I BUMI dengan target dana keseluruhan Rp5 triliun. Rincian-nya sebagai berikut : 

  • Tahap I Tahun 2025: Diterbitkan senilai Rp350 miliar pada Juli 2025.
  • Tahap II Tahun 2025: Diterbitkan senilai Rp721,61 miliar pada September 2025.
  • Tahap III Tahun 2025: Diterbitkan senilai Rp780 miliar pada Desember 2025, dengan bunga tetap 9% per tahun dan tenor 5 tahun.
  • Tahap IV Tahun 2026 : DIiterbitkan pada Januari senilai Rp345 milair. 

Pendanaan yang besar tersebut diharapkan dapat menjadi modal strategis bagi BUMI untuk melanjutkan aksi akuisisi selanjutnya, sekaligus memperkuat portofolio usaha di luar batubara.

INDF Turun Kasta, ACES dan CLEO Didepak dari MSCI, Begini Efek ke Prospek Ketiga Saham Tersebut
MSCI menurunkan kasta INDF menjadi small caps, sedangkan ACES dan CLEO didepak dari indeks. Lalu, apa efeknya terhadap prospek ketiga saham tersebut? kami jelaskan secara teknis di sini

Saham BRMS 

Beralih ke BRMS, ini berbeda dengan BUMI yang melakukan diversifikasi dari batu bara, sejak awal emiten ini sudah  diposisikan sebagai kendaraan Grup untuk fokus di sektor mineral dan logam, khususnya emas.

Salah satunya berasal dari proyek Gorontalo Minerals, yang memproduksi emas dan tembaga. Proyek ini menjadi aset strategis karena memiliki cadangan tembaga sekitar 1,2 miliar pound dan sumber daya sekitar 2,6 miliar pound, dengan estimasi nilai potensial mencapai sekitar US$19 miliar. 

Dengan kombinasi emas dan tembaga dalam satu portofolio, BRMS berpotensi berkembang menjadi pemain nasional dengan eksposur komoditas ganda yang kuat.

Selain faktor proyek, sentimen harga komoditas juga menjadi katalis penting. Tren kenaikan harga emas sebagai aset safe haven serta prospek tembaga yang didorong kebutuhan elektrifikasi dan transisi energi global menjadi penopang fundamental jangka menengah.

Selama harga kedua komoditas tersebut tetap solid, maka leverage terhadap kinerja BRMS bisa cukup signifikan.

Perlu diketahui juga, BRMS ini tidak terlalu kena dampak dari bea ekspor emas, karena mayoritas dijual ke domestik. Salah satu mitra yang membeli adalah PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) yang berperan sebagai produsen dan distributor emas batangan. 

Produk emas tersebut kemudian dapat tersalurkan ke ekosistem bullion domestik, Pegadaian dan Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS). 

Dari sisi pasar modal, BRMS juga mendapat dorongan sentimen positif setelah masuk ke indeks global seperti Market Vectors Global Gold Miners Index (MVGDX) dan MSCI Global Standard. 

Namun, khusus MSCI ini tentu patut menjadi perhatian, dalam jangka pendek masih menjadi pedang bermata dua. Karena, jika ada rebalancing lagi di Mei, risiko outflow bisa aja terjadi lagi. 

Saham DEWA 

Terakhir, untuk saham DEWA yang juga dinilai memiliiki prospek dalam jangka menengah - panjang. Meskipun, dalam jangka pendek masih ada risiko outflow karena sebelumnya digadang masuk MSCI, tetapi sudah gugur duluan. 

Secara kepemilikan dulu, sebenarnya saham DEWA ini tidak tercatat langsung terhubungan Salim, tetapi kami masih menanti data UBO dan  kepemilikan 1% dari saham ini untuk mengetahui siapa yang mendapat manfaat dari sini, apakah itu benar Bakrie lagi atau dukungan Salim juga. 

Dari sisi jajaran direksi, terdapat nama Teguh Boentoro yang memiliki rekam jejak sebagai komisaris di BRMS dan AMMN. Ia ditunjuk mewakili DEWA dan dikenal memiliki kedekatan relasi dengan Grup Salim.

Kalau dari segi bisnis, DEWA ini masih satu ekosistem dengan BUMI, apalagi baru-baru ini sudah mendapatkan perpanjangan kontrak dengan Arutmin senilai Rp10 triliun dengan durasi life of mine. 

Kontrak ini sudah jelas akan mengamankan prospek pendapatan kontraktor dari pihak berelasi, Arutmin sepanjang sisa tambang bertahan hidup dalam jangka panjang. 

Sebagai catatan, DEWA itu merupakan kontraktor dari dua tambang batu bara milik BUMI yaitu KPC dan Arutmin. Menurut data Laporan Keuangan sampai September 2025, dua tambang itu mendominasi pendapatan DEWA. 

Menilik lebih jauh dari profitabiltas DEWA yang akhirnya sudah rilis, meskipun baru sampai September 2025, menunjukkan pertumbuhan yang ciamik: 

  • Pendapatan naik 2,8 persen yoy dari Rp4,52 Triliun  menjadi Rp4,65 Triliun 
  • Laba bruto naik dua  kali lipat lebih dalam setahun
  • Laba bersih terbang 6.092,78 persen secara yoy 

Profitabilitas moncer ini jadi satu penenang juga ketika sebelumnya sempat kena tato L dari bursa akibat telat tidak menerbitkan laporan keuangan selama tiga bulan. 

Dari sisi fundamental, neraca DEWA menunjukkan penguatan dengan total aset yang meningkat hampir 27 persen secara tahunan.

Kenaikan ini didorong oleh beberapa faktor. 

Pertama, posisi kas bertambah seiring pencairan pinjaman bank sekitar Rp1 triliun dari BCA yang digunakan untuk pembelian alat berat. 

Kedua, aset tetap meningkat sekitar Rp1,64 triliun sebagai hasil dari pengadaan alat berat utama beserta komponen pendukungnya.

Di sisi lain, piutang usaha justru turun sekitar Rp140,76 miliar, yang mencerminkan adanya realisasi pembayaran dari pelanggan. Kombinasi faktor tersebut menunjukkan ekspansi operasional yang tetap diiringi perbaikan arus kas.

Beralih ke ekspansi bisnis, DEWA ini digadang ke depan bisnisnya bukan hanya menjadi kontraktor saja, tetapi ingin menjadi eksekutor tambagn sekaligus. 

DEWA diketahui memiliki aset tambang tembaga dan emas melalui Gayo Mineral Resources (GMR), yang berlokasi di Aceh, Sumatera Utara dengan luas Izin Usaha Pertambangan (IUP) 34,6 hektare, 

Ekspansi juga digencarkan dalam bisnis kontraktor di mana DEWA menambah armada dari XCMG (Xuzhou Construction Machinery Group), armada XCMG telah mulai beroperasi penuh pada kuartal keempat 2025, 

Ke depan, DEWA juga masih menjalani restrukturisasi internal untuk mengeliminasi posisi rugi ditahan sebesar -Rp904 miliar & sedang dalam proses evaluasi untuk melakukan penurunan nilai aset-aset lama yang tidak produktif. Manajemen menargetkan kedua agenda tersebut selesai pada akhir tahun ini

Gimana, strategi kalian di saham Bakrie x Salim ini? masih yakin hold jangka panjang atau cuan bungkus dulu?

Dapatkan Insight Saham hingga Diskusi serta Konsultasi Bersama hampir 1.000 Investor Lainnya di Mikirsaham

Yuk join dengan Mikirsaham sekarang untuk bisa dapatkan benefit ini semua:

  • Stockpick investing (dividend, value, growth, contrarian) yang di-update setiap bulan (terbarunya akan diseleksi terbaik maksimal 5 masing-masing strategi dengan analisis yang komprehensif)
  • Stock Ideas (memberikan gambaran besar saham-saham yang menarik, tapi tidak termasuk stockpick)
  • Stockpicking swing trade mingguan (khusus member mikirsaham elite jika kuota masih tersedia)
  • Insight saham terkini serta action-nya
  • Update porto founder
  • IPO dan Corporate Action Digest
  • Event online bulanan
  • Grup Diskusi Saham

Join ke Member Mikirsaham Pro sekarang juga dengan klik link di sini

Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini

💡
Dapatkan Tools Analisis Saham Paling Cocok Untuk Investor Ritel serta Pilihan Saham Indonesia hingga AS dengan AI bersama Investing Pro. Dapatkan Promo Spesial Dari Mikirduit dengan Klik di sini