Cara Saham BRIS Bisa Punya Modal Inti Rp70 triliun Jadi KBMI IV, Begini Probabilitasnya
Setelah menjadi bank persero, BRIS mulai melirik potensi naik kasta ke KBMI IV. Lalu, bagaimana peluangnya? simak analisisnya di sini
Mikirduit – Setelah BRIS menjadi bank persero di bawah Danantara secara langsung, manajemen mengungkapkan ada ambisi untuk membuat bank syariah terbesar di Indonesia itu nak kelas menjadi KBMI IV. Namun, seberapa besar peluang BRIS untuk bisa menjadi KBMI IV?
Highlight
- Ambisi KBMI IV: BRIS menargetkan naik kelas menjadi bank KBMI IV pada 2026–2027, tetapi membutuhkan tambahan modal inti sekitar Rp25–30 triliun dari right issue atau akumulasi laba dalam 4–6 tahun.
- Tantangan Struktur Modal: Opsi right issue sangat bergantung pada kesiapan Danantara dan bank-bank Himbara karena pemerintah tidak lagi melakukan PMN, sementara jalur organik relatif lebih lama meski lebih minim risiko dilusi.
- Implikasi ke Saham: Prospek BRIS tetap menarik ditopang pertumbuhan pembiayaan, story bullion bank, dan kenaikan BMPK jika masuk KBMI IV, meski tantangan free float 15 persen masih perlu diselesaikan.
- Untuk diskusi saham secara lengkap, pilihan saham bulanan, dan insight komprehensif untuk member, kamu bisa join di Mikirsaham dengan klik link di sini.
Dalam acara Milad ke-5 BSI pada 2 Februari 2026, Direktur Utama BRIS Anggoro Eko Cahyo mengungkapkan jika pemegang saham berharap setelah BRIS menjadi persero, selanjutnya bisa membangun footprint yang kuat. Salah satunya adalah persiapan untuk menjadi bank KBMI IV pada tahun ini dan tahun depan.
"Nantinya, BRIS juga ditargetkan bisa masuk top 5 Global Islamic Bank pada 2030 nanti," ujarnya.
Lalu, bagaimana peluang BRIS untuk bisa menuju KBMI IV?
Jika mengacu ke data laporan keuangan kuartal III/2025, BRIS berada di posisi bank KBMI III dengan modal inti sekitar Rp46 triliun. Artinya, jika ingin masuk ke bank KBMI IV, BRIS butuh tambahan modal inti sekitar Rp25 triliun hingga Rp30 triliun.
Secara teknis, ada dua cara untuk bisa memenuhi modal inti tersebut.
Pertama, dengan cara right issue atau penerbitan saham baru dengan target dana Rp30 triliunan.
Jika mengacu ke struktur pemegang saham BRIS, komposisinya Pemerintah Indonesia sebagai pengendali, BMRI punya 51,47 persen, BBNI 23,24 persen, dan BBRI 15,38 persen. Sementara itu, masyarakat hanya 9,91 persen.
Dengan begitu, jika BRIS mau right issue dengan target dana jumbo harus mendapatkan kesiapan dari pengendalinya Danantara (Pemerintah Indonesia) atau kerelaan sister company-nya seperti BMRI, BBNI, dan BBRI untuk menyuntik modal.
Pasalnya, pemerintah Indonesia sudah tidak akan melakukan penyertaan modal negara (PMN) setelah adanya Danantara tersebut.
Kedua, modal inti dikumpulkan secara organik dari hasil kinerja laba bersih BRIS. Dengan asumsi rata-rata laba bersih BRIS tahunan sekitar Rp7 triliun, artinya jika tanpa dividen, target KBMI 4 bisa dicapai dalam 4-5 tahun.
Sementara itu, jika memasukkan komposisi dividen 15 persen dari laba bersih, kami menilai BRIS bisa mencapai KBMI IV paling lama dalam 6 tahun.
Pertanyaannya, apa manfaat menjadi bank dengan skala KBMI IV?
Salah satu yang terasa adanya kenaikan batas maksimum pemberian kredit (BMPK) yang bisa membuka ruang ekspansi pembiayaan oleh bank terkait.
Jadi, dalam aturan bank itu, regulator membatasi seberapa banyak uang yang boleh dipinjamkan bank kepada satu grup peminjam dalam satuan modal inti. Dengan skala modal inti yang meningkat drastis, ekspansi pembiayaan di 1 grup usaha bisa meningkat signifikan. (meski dalam porsi sama sesuai aturan yang berlaku).

Prospek Saham BRIS
Salah satu story terkuat dari BRIS adalah menjadi bullion bank. Jika dilihat, pertumbuhan bisnis emas-nya mencatatkan kenaikan 72 persen menjadi Rp18,76 triliun. Meski, jika digabungkan dengan permintaan pembiayaan, porsi dari bisnis emas BRIS masih cukup rendah. Total pembiayaan BRIS tembus hampir Rp200 triliun.
Segmen pembiayaan terbesar berasal dari consumer loan dengan pertumbuhan 15,02 persen menjadi Rp167 triliun. Skala bisnis terbesarnya ada di segmen perumahan yang tumbuh 7,15 persen menjadi Rp59 triliun.
Jika mengacu ke konsensus analis, BRIS diproyeksikan mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 8,6 persen menjadi Rp164 per saham. Lalu, pertumbuhan laba bersih BRIS di 2026 diproyeksikan tumbuh 17 persen menjadi Rp193 per saham.
Hal itu bisa berlaku jika tidak ada kebutuhan kenaikan pencadangan yang signifikan di 2026.
Untuk posisi harga saham, BRIS memang belum terlalu mahal, meski tidak berada di area yang diskon. Kami cukup nyaman untuk mulai masuk BRIS di rentang Rp2.000 - Rp2.100 per saham. Jika posisi saat ini agak di atasnya lagi bisa atur alokasi masuk agar lebih bertahap.
Salah satu tantangan BRIS adalah menyesuaikan free float menjadi 15 persen. Hal itu bisa dilakukan oleh BRIS dengan cara BBRI, BMRI, dan BBNI melepas kepemilikan hingga free float BRIS menjadi 15 persen.
Dapatkan Insight Saham hingga Diskusi serta Konsultasi Bersama hampir 1.000 Investor Lainnya di Mikirsaham
Yuk join dengan Mikirsaham sekarang untuk bisa dapatkan benefit ini semua:
- Stockpick investing (dividend, value, growth, contrarian) yang di-update setiap bulan (terbarunya akan diseleksi terbaik maksimal 5 masing-masing strategi dengan analisis yang komprehensif)
- Stock Ideas (memberikan gambaran besar saham-saham yang menarik, tapi tidak termasuk stockpick)
- Stockpicking swing trade mingguan (khusus member mikirsaham elite jika kuota masih tersedia)
- Insight saham terkini serta action-nya
- Update porto founder
- IPO dan Corporate Action Digest
- Event online bulanan
- Grup Diskusi Saham
Join ke Member Mikirsaham Pro sekarang juga dengan klik link di sini
Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini
