Bocoran RKAB Produksi Batu Bara 2026, Siapa yang Paling Untung-Buntung?
Beredar bocoran hasil RKAB 2026 untuk jatah produksi batu bara berbagai emiten di Indonesia. Ada sebagian yang tidak kena pangkas, tetapi mayoritas produksi diturunkan, bahkan ada yang sampai 90 persen. Kira-kira gimana prospeknya? Masih menarik lirik sektor batu bara?
Mikirduit - Beredar bocoran hasil RKAB untuk jatah produksi batu bara tahun ini. Hasilnya banyak yang dipangkas, tetapi sebagian ada yang tidak. Kira-kira gimana prospeknya? Masih menarik dilirik sektor batu bara?
Highlight:
- Batu bara RI dipangkas akan dipangkas produksi cukup signifikan pada tahun ini.
- Sudah beredar bocoran hasil RKAB untuk beberapa emiten, sebagian ada yang tetap aman, tetapi banyak yang kena pangkas bahkan ada yang sampai 90 persen.
- Untuk diskusi saham secara lengkap, pilihan saham bulanan, dan insight komprehensif untuk member, kamu bisa join di Mikirsaham dengan klik link di sini.
Rencana Pemerintah Pangkas Batu bara RI di 2026
Pemerintah saat ini tengah mengkaji Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 yang kemungkinan besar akan memangkas produksi minerba dalam jumlah besar.
Terkhusus di batu bara, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia memastikan akan memangkas target produksi batu bara nasional dalam RKAB 2026 menjadi sekitar 600 juta ton. Kalau dibandingkan produksi 2025 sebanyak 790 juta ton, penurunan bisa mencapai 24 persen.
“Untuk RKAB, Pak Dirjen Minerba masih menghitung. Yang jelas di sekitar 600 juta ton. Bisa sedikit kurang atau lebih,” ungkap Bahlil dalam jumpa pers di kantornya pada Kamis (8/1/2026).
Meski begitu, RKAB ini masih belum final, para pengusaha batu bara masih diberikan kelonggaran produksi maksimal 25 persen dari target hingga 31 Maret 2026 untuk menjaga kelangsungan produksi.
Secara industr, peran batu bara RI sangat penting di mata global, kenapa? karena kita merupakan salah satu yang terbesar dari sisi produksi maupun kontribusi baru bara ke pasar internasional.
Melansir data Energy Institute (EI) pada 2024, yang dikutip World Population Review, produksi batu bara Indonesia mencapai 836,1 juta ton, merupakan yang terbesar nomor tiga di dunia, setelah China dan India.

Satu hal yang membedakan Indonesia dari China dan India adalah ruang ekspor yang masih sangat besar. Setiap tahun, sekitar dua pertiga produksi batu bara Indonesia diperdagangkan ke luar negeri.
Sementara itu, China dan India meski memproduksi batu bara dalam jumlah besar, sebagian besar habis untuk kebutuhan domestik. Bahkan, keduanya masih harus mengimpor untuk menutup kekurangan pasokan.
Menurut data ESDM, sekitar 555 juta ton batu bara RI dikirim ke luar negeri, ini setara 66,5 persen dari produksi 2024, sekaligus eksportir batu bara terbesar di dunia, setelah itu diikuti Australia dan Rusia, masing-masing ekspor 363 juta ton dan 198 juta ton.
Tiga negara ini menjadi top eksportir batu bara dunia dengan total kontribusi mencapai 75 persen.
Untuk lebih jelasnya, data di bawah ini menunjukkan perkembangan produksi dan ekspor batu bara Indonesia yang cenderung selalu naik dalam 10 tahun terakhir. Sampai pada 2024 terlihat produksi dan ekspor batu bara mencapai rekor-nya :

Sumber : Handbook of energy & economic statistics of indonesia 2024, ESDM
Harga Batu bara Terbang
Merespon prospek pengurangan produksi dari RI, harga batu bara dunia (ICE Newcastle) terpantau terbang 5 persen pada akhir pekan lalu, Jumat (30/1/2026) ke posisi US$ 117 per ton, mengakumulasi kekuatan sejak awal tahun sebesar 11 persen, sekaligus menandai posisi tertinggi sejak Agustus 2025.

Selain karena faktor pengurangan produks, harga batu bara naik ditengarai demand yang kembali naik dari China.
China diperkirakan akan meluncurkan lebih dari 100 pembangkit listrik tenaga batu bara tahun ini, di samping lebih dari 400 unit yang saat ini masih dalam tahap konstruksi.
Kenaikan ini menjadi sinyal bahwa konsumen batu bara termal terbesar di dunia tersebut akan tetap bergantung pada batu bara, meskipun sebelumnya sempat memberi sinyal preferensi terhadap energi terbarukan.
Hal ini sejalan dengan tren global peningkatan kapasitas pembangkitan listrik untuk memenuhi permintaan yang semakin kuat dari pusat data (data center) dan pengisian kendaraan listrik.
Bocoran RKAB 2026 untuk Sektor Batu Bara
Dari dalam negeri, terkait penurunan produksi yang saat ini masih dikaji dalam RKAB 2026, sudah mulai beredar di kalangan investor terkait bocoran produksi batu bara yang kemungkinan besar disetujui. Jika merujuk dari informasi yang kami dapatkan, ada potensi penyesuaian target produksi RKAB sebesar 34 persen dari pengajuan menjadi 298 juta ton dibandingkan yang diajukan mencapai 452 juta ton.

Kami mencatat ada tiga emiten yang cenderung diuntungkan karena mereka tidak terkena pemangkasan produksi batu bara. Mereka adalah AADI, BUMI, dan INDY. Sementara yang produksi terpangkas banyak ada ITMG, BSSR, dan BYAN. Mari kita bahas satu-satu:
Emiten yang Rencana Produksinya Tidak Dipangkas
Saham AADI
AADI memiliki tambang batu bara utama di Kalimantan Selatan (Tabalong & Balangan), Kalimantan Tengah, dan Sumatera Selatan (Lahat). Tambang-tambang ini dikelola melalui anak usaha seperti PT Adaro Indonesia, PT Semesta Centramas, PT Laskar Semesta Alam, PT Paramitha Cipta Sarana, dan PT Mustika Indah Permai (MIP).
Dari pantauan kami, Adaro dengan kapasitas produksi 60 juta ton masih aman, sementara yang kena pemangkasan MIP yang dikurangi sampai 50 persen, sehingga tahun ini kemungkinan hanya bisa produksi 5,2 juta ton, meski begitu tambang ini punya kontribusi yang kecil dibandingkan AADI, sehingga total AADI masih bisa produksi kisaran 65,2 juta ton.
Saham BUMI
Mengacu daftar di atas, BUMI memiliki dua anak usaha yang tidak kena dampak penurunan produksi batu bara, mereka adalah PT Kaltim Prima Coal (KPC) dan PT Arutmin Indonesia.
KPC merupakan mengelola wilayah konsesi seluas 84,93 hektar, berlokasi di Sangatta dan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Adapun total produksi tahun ini diperkirakan mencapai 54 juta ton.
Sementara itu, untuk Arutmin diproyeksi produksi 20 juta ton juta ton. Tambang Arutmin berlokasi di Kalimantan Selatan yang mencakup beberapa blok seperti Senakin, Satui, Mulia, Batulicin, Asam-asam, dan Kintap. Mereka mengoperasikan di wilayah seluas 70.000 dan merupakan salah satu pemasok terbesar di Indonesia untuk batu bara thermal.
Jadi, kalau ditotal, tahun ini BUMI masih cukup aman dengan produksi batu bara total sebanyak 74 juta ton.
Posisi ini menjadikan BUMI salah satu penerima manfaat terbesar dari kebijakan RKAB, karena di saat produsen lain harus menurunkan volume, BUMI tetap bisa memproduksi di skala besar dan menjual pada harga yang berpotensi lebih tinggi akibat pengetatan supply.
Saham INDY
Berikutnya, ada INDY yang masuk zona aman karena terhindar dari pemangkasan produksi, emiten ini mengoperasikan tambang batu bara Kideco dengan jumlah produksi tahun ini diperkirakan mencapai 30 juta ton.
Kideco sendiri mengoperasikan tambang batu bara di Kabupaten Paser, Kalimantan Timur. Perusahaan ini fokus pada batu bara dengan kadar bituminous sulfur rendah.
Emiten yang Kena Dampak Signifikan Pemangkasan Produksi Batu bara
Saham BSSR
BSSR beroperasi melalui tambang utama Baramulti di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan.
RKAB yang diajukan sekitar 6 juta ton, namun yang kemungkinan disetujui hanya 3,3 juta ton, atau turun sekitar 45%. Pemangkasan ini cukup signifikan dari sisi volume, sehingga pertumbuhan penjualan akan terbatas. Adapun, untuk BSSR, kapasitas cadangan batu bara tercatat berpotensi hanya bertahan sekitar kurang dari 2 tahun lagi.
Saham BYAN
BYAN merupakan salah satu produsen batubara terbesar Indonesia dengan RKAB yang diajukan sekitar 80 juta ton.
Namun, RKAB yang potensi approved hanya 38 juta ton, atau turun sekitar 53%. Pemangkasan ini sangat besar dan langsung membatasi kemampuan BYAN untuk mempertahankan volume produksi historisnya.
Meski BYAN dikenal memiliki kualitas batubara yang baik dan biaya rendah, penurunan volume sebesar ini membuat manfaat kenaikan harga batubara tidak sepenuhnya bisa dikonversi menjadi kenaikan pendapatan.
Saham ITMG
Eksposur produksi ITMG berasal dari PT Indominco Mandiri dan tambang milik grup Banpu di Indonesia, beserta empat anak usaha lainnya, kalau dirinci sebagai berikut:
- Banpu: 25,00 Juta Ton vs 10,00 Juta Ton (-15,00 Juta Ton)
- BEK: 8,00 Juta Ton vs 5,70 Juta Ton (-2,30 Juta Ton)
- Indominco: 8,00 Juta Ton vs 4,70 Juta Ton (-3,30 Juta Ton)
- TCM: 3,00 Juta Ton vs 1,00 Juta Ton (-2,00 Juta Ton)
- GPK: 2,40 Juta Ton vs 1,40 Juta Ton (-1,00 Juta Ton)
- NPR: 1,00 Juta Ton vs 0,10 Juta Ton (-0,90 Juta Ton)
Dari enam perusahaan yang mengajukan RKAB tersebut dengan total produksi 47,4 juta ton, diperkirakan hanya mendapatkan persetujuan 22,90 juta ton. Pemangkasannya sangat dominan mencapai lebih dari 50 persen atau sebesar 24,5 juta ton.
Ini menjadikan ITMG sebagai salah satu emiten yang paling terdampak, karena penurunan volume sangat dalam dan berpotensi menekan pendapatan. Harapannya, saham ITMG bisa mendapatkan tingkat keuntungan ketika produksi dipangkas jika harga batu bara terus mencatatkan kenaikan.
Dapatkan Insight Saham hingga Diskusi serta Konsultasi Bersama hampir 1.000 Investor Lainnya di Mikirsaham
Yuk join dengan Mikirsaham sekarang untuk bisa dapatkan benefit ini semua:
- Stockpick investing (dividend, value, growth, contrarian) yang di-update setiap bulan (terbarunya akan diseleksi terbaik maksimal 5 masing-masing strategi dengan analisis yang komprehensif)
- Stock Ideas (memberikan gambaran besar saham-saham yang menarik, tapi tidak termasuk stockpick)
- Stockpicking swing trade mingguan (khusus member mikirsaham elite jika kuota masih tersedia)
- Insight saham terkini serta action-nya
- Update porto founder
- IPO dan Corporate Action Digest
- Event online bulanan
- Grup Diskusi Saham
Join ke Member Mikirsaham Pro sekarang juga dengan klik link di sini
Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini
