BBRI dan BBNI Mau Cabut dari BRIS, Gimana Nasib Sahamnya?

BRIS akan dilepas BBRI & BBNI ke investor strategis, berpotensi memberi keuntungan & dana segar senilai Rp 28 triliun bagi kedua bank.

BBRI dan BBNI Mau Cabut dari BRIS, Gimana Nasib Sahamnya?

Mikir Duit – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. dikabarkan bakal melepas kepemilikan PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) ke investor strategis. Aksi korporasi itu berpotensi menjadi cerita manis untuk BRIS dan juga BBRI dan BBNI.

Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo mengatakan pihaknya lagi berbicara dengan investor potensial untuk masuk ke BRIS. Nantinya, investor itu akan masuk dengan mengambil alih saham BRIS yang dimiliki BBRI dan BBNI.

Sampai saat ini, komposisi pemegang saham BRIS antara lain, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) sebesar 51,47 persen, BBNI 23,24 persen, BBRI 15,38 persen, Pemerintah di bawah 0,0001 persen, dan sisanya publik.

Jika BBRI dan BBNI resmi lepas seluruh saham BRIS miliknya. Kedua bank itu berpotensi mendapatkan dana segar yang lumayan besar.

BBNI yang memegang 10,72 miliar lembar saham berpotensi mendapatkan dana senilai Rp17,42 miliar. Lalu, BBRI yang punya 7,09 miliar lembar saham berpotensi mendapatkan dana Rp11,52 miliar. [menggunakan asumsi harga penutupan 16 Februari 2022]

Efek Positif ke BBRI dan BBNI

Jika aksi pelepasan saham BRIS oleh BBNI dan BBRI bisa dilakukan pada 2023. Berarti, ada potensi laba kedua bank itu bisa melejit karena menerima dana segar dari aksi korporasi tersebut.

Dengan asumsi, BBRI dan BBNI justru meningkatkan pencadangan hingga pertumbuhan laba bersihnya hanya 10 persen. Ditambah dengan hasil pelepasan saham BRIS, keduanya bisa mencatatkan kinerja laba bersih yang fantastis.

BBRI berpotensi mencatatkan kenaikan laba bersih 32,51 persen menjadi Rp67,8 triliun. Persentase pertumbuhan memang lebih rendah dari 2022 yang tumbuh 64,71 persen. Namun, jika kenaikan 32 persen dilakukan dengan menaikkan pencadangan, berarti angka itu cukup tinggi.

Paling fenomenal adalah laba bersih BBNI yang berpotensi melejit hingga 105 persen menjadi Rp37,56 triliun.

Namun, tantangannya adalah menghadapi 2024, kinerja BBRI, terutama BBNI berpotensi tertekan karena mereka sudah tidak dapat bagian dari BRIS juga.

Meski begitu, kedua bank itu bisa dapat dana segar untuk mengembangkan anak usaha lainnya agar bisa berkontribusi lebih besar ke pertumbuhan laba bersih.

Misalnya, BBRI punya PT Bank Raya Indonesia TBk. (AGRO) yang bisa disuntik tambah modal untuk bisa bersaing ketat dengan bank digital lainnya.

Begitu juga dengan BBNI yang punya sebagian saham Bank Mayora yang kini sudah ada pimpinan baru. BBNI bisa menggelontorkan modal segar untuk calon bank digitalnya tersebut.

Bagaimana Nasib BRIS?

Kehadiran investor strategis dari Timur Tengah diharapkan bisa memberikan permodalan yang lebih kuat hingga transfer kemampuan dan produk syariah. Namun, secara historis, kedatangan investor strategis mungkin condong lebih untuk memperkuat permodalan, toh investor timur tengah belum ada yang menuai sukses berbisnis bank syariah di Indonesia.

Paling mencolok, PT Bank Panin Dubai Syariah Tbk. (PNBS) yang gagal tumbuh lebih jauh meski disokong investor strategis dari Dubai.

Meskipun begitu, pasar perbankan syariah perlahan mulai tumbuh. Setelah sebelumnya pertumbuhan bisnis hanya bergerak dikisaran 5-10 persen per tahun. Kini, pertumbuhannya mulai signifikan.

Sampai kuartal III/2022, perbankan syariah di Idnonesia mencatatkan pertumbuhan pembiayaan sebesar 18,87 persen. Ini kenaikan tertinggi dalam 5 tahun terakhir setelah sebelumnya paling tinggi tumbuh 10,89 persen.

Di sini, BRIS yang menjadi pemimpin pasar bank syariah sebesar 56,59 persen pun berperan mengerek pertumbuhan bisnis perbankan syariah. BRIS mencatatkan pertumbuhan pembiayaan hingga 22,35 persen. Persentase yang jauh lebih tinggi dari rata-rata industri perbankan syariah.

Lonjakan kinerja BRIS sendiri didorong oleh efisiensi setelah merger sejak 2021. Setelah merger, rasio operasional bisnis BRIS seperti cost of fund turun dari 2,7 persen pada 2020 menjadi 1,62 persen pada 2022.

Cost of fund menggambarkan biaya yang dikeluarkan bank untuk membayar suku deposito dan tabungan dibandingkan dengan pendapatan dari penyaluran pembiayaan.

Lalu, cost to income ratio (CIR) BRIS juga makin efisien dari 53,74 persen pada 2020 menjadi 51,01 persen di 2022.

CIR adalah rasio yang membandingkan seluruh biaya operasional bisnis bank dengan pendapatan yang diterima. Semakin kecil nilainya, maka bank semakin efisien.

Dengan begitu kedatangan investor strategis harapannya bisa makin membantu operasional bisnis BRIS makin efisien. Serta bisa memperkuat produk pembiayaan yang mampu mendorong kinerja keuangannya.

Kesimpulan

Jika aksi korporasi ini jadi dilakukan, bisa berpengaruh kepada harga saham BBNI, BBRI, dan BRIS dalam jangka pendek. Namun, dalam jangka panjang, BBNI dan BBRI juga harus memperkuat anak usahanya yang ada sekarang untuk mendorong kinerja keuangan konsolidasi.

Di sisi lain, keluarnya BBRI dan BBNI dari BRIS disebut akan bertahap. Di sini, kita tidak tahu seberapa banyak tahapan aksi akuisisi hingga BBRI dan BBNI benar-benar melepas BRIS. Namun, semakin banyak tahapannya, berarti efeknya makin terbatas, tapi tidak akan buruk untuk jangka panjang. Soalnya, nggak akan ada lonjakan kinerja tiba-tiba gara-gara pelepasan aset.

Intinya, aksi ini untuk menjaga pertumbuhan kinerja BRIS bisa berkelanjutan positif. Dan ini menjadi tahapan lebih lanjut setelah BRIS merger dengan anak usaha bank syariah BUMN lainnya.

Apalagi, jika BRIS akan akuisisi unit usaha syariah PT Bank Tabungan Negara Tbk. (BBTN) pada Juni 2023, tenggat waktu unit usaha syariah harus menjadi badan usaha syariah. BRIS disebut baru akan akuisisi UUS BBTN jika mereka sudah terpisah dari BBTN.


Disclaimer: Artikel ini tidak mengajak kamu membeli atau menjual salah satu saham. Artikel ini hanya memberikan informasi yang bisa jadi pertimbanganmu untuk membeli atau menjual sebuah saham. Investasi saham memiliki risiko yang harus ditanggung oleh diri sendiri.