Adu Saham WIFI-MORA-DATA di Bisnis Internet Murah Cepe Ceng per Bulan, Masih ada Taji?
Pemain internet murah di harga Rp100ribu sebulan sudah mulai jalan satu per satu. Kira-kira siapa yang paling menarik?
Mikirduit - Pemain internet murah di harga Rp100ribu-an sudah mulai pada jalan, seperti DATA, WIFI, dan MORA. Kira-kira siapa yang paling menarik dari segi saham-nya dan gimana prospek bisnis ke depan?
Highlight
- WIFI sudah resmi komersialkan internet murah Rp100ribu sebulan, menyusul DATA yang sudah jualan dari tahun lalu, sementara MyRepublic (MORA) masih dalam proses pre-registrasi.
- WIFI-MORA menjual internet murah pakai teknologi FWA 4G dengan frekuensi 1,4GHx
- DATA paling beda karena menjual internet murah menggunakan jaringan fiber optic.
- Untuk diskusi saham secara lengkap, pilihan saham bulanan, dan insight komprehensif untuk member, kamu bisa join di Mikirsaham dengan klik link di sini.
Frekuensi 1,4GHz Jadi Kunci Internet Murah Merata
Pita frekuensi 1,4 GHz menjadi kunci kehadiran internet murah harga Rp100.000 sebulan dengan kecepatan sampai 100Mbps hadir di Indonesia.
Frekuensi itu sebelumnya sudah dilelang pada pertengahan tahun lalu dan sudah ada dua pemeneng yaitu PT Telemedia Komunikasi Pratama yang merupakan anak perusahaan Surge (WIFI) dan Eka Mas Republik pemilik MyRepublic yang kini sudah merger dengan MORA.
Dalam lelang waktu itu ada tiga regional yang ditawarkan, WIFI diketahui menang regional I, sementara MORA menang regional II dan III.
Berikut adalah detail pemenang lelang berdasarkan regional:
- Regional I: PT Telemedia Komunikasi Pratama (Surge/WIFI), dengan penawaran tertinggi mencapai Rp403,764 miliar.
- Regional II: PT Eka Mas Republik (MyRepublic), menang dengan penawaran tertinggi Rp300,888 miliar.
- Regional III: PT Eka Mas Republik (MyRepublic), menang dengan penawaran tertinggi Rp100,888 miliar
Sebagai catatan, pemenang lelang ini mengalahkan penawar lain, termasuk Telkom, dalam seleksi yang diumumkan oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) pada Oktober 2025.
Spektrum ini akan digunakan selama 10 tahun untuk meningkatkan efisiensi dan jangkauan internet di wilayah Jawa (oleh WIFI) dan wilayah lainnya (Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Kalimantan oleh MyRepublic).
Adapun berikut detail pembagian regional atau cakupan wilayah yang dimenangkan WIFI dan MORA :
Saham WIFI - IRA/Internet Rakyat
Membahas lebih detail soal internet murah yang dijalankan WIFI ini update-nya sudah mulai jalan atau komersial mulai Kamis kemarin (19/2/2026).
Dengan brand IRA (Internet Rakyat), WIFI meluncurkan layanan intenet dengan teknologi 5G Fixed Wireless Access (FWA) 1,4 GHz. Kecepatan akses diklaim bisa mencapai 100Mbps dengan harga maksimum yang dipatok Rp147ribu sebulan. Tidak ada batas kuota artinya bisa dipakai unlimited, ditambah gratis sewa modem dan pemasangan.
Peluncuran IRA didukung oleh target eksekusi sebanyak 5.500 site jaringan aktif yang akan live pada tahun 2026, dengan target menjangkau lebih dari 5 juta pelanggan di Region-1 (Jawa, Maluku dan Papua).
Secara potensi pasar, Region-1 merupakan “golden zone” dengan kontribusi sekitar 61 persen dari total rumah tangga Indonesia.
Dari total 73,9 juta rumah tangga secara nasional (2024), sekitar 45 juta+ rumah tangga berada di wilayah ini. Artinya, fokus ekspansi di RI memberikan akses langsung ke basis permintaan terbesar dan paling padat secara demografis.
Dari sisi infrastruktur, estimasi menunjukkan terdapat sekitar 55 ribu tower di Region-1 (per Q2 2025), yang tersebar di berbagai tower provider besar seperti Tower Bersama Group (TBIG), Centratama (CENT), Permata Karya Perdana, Mitratel (MTEL), dan Sarana Menara Nusantara (TOWR).
Ketersediaan infrastruktur menara yang masif ini menjadi enabler penting untuk percepatan deployment FWA, karena operator tidak perlu membangun dari nol, melainkan dapat memanfaatkan existing tower footprint untuk mempercepat time-to-market.

Berlanjut ke kinerja keuangan, hingga akhir September 2025 struktur pendanaan WIFI menunjukkan peningkatan signifikan seiring percepatan ekspansi FTTH dan FWA. Total liabilitas berbunga naik dari Rp1,85 triliun per 30 Juni 2025 menjadi Rp3,16 triliun per 30 September 2025.
Kenaikan ini terutama didorong oleh lonjakan penerbitan obligasi dari Rp589,4 miliar menjadi Rp2,59 triliun, sementara pinjaman bank justru turun dari Rp1,26 triliun menjadi Rp565,5 miliar. Pergeseran komposisi tersebut mencerminkan strategi refinancing sekaligus optimalisasi struktur pendanaan jangka menengah untuk mendukung belanja modal yang lebih agresif.
Dampaknya, beban bunga meningkat dari Rp87,3 miliar menjadi Rp204,6 miliar, seiring bertambahnya porsi obligasi yang memiliki kupon lebih tinggi dibanding pinjaman bank serta adanya amortisasi biaya emisi. Meski demikian, langkah ini memperkuat likuiditas dan kapasitas pendanaan perusahaan.

Selain internet murah, WIFI saat ini juga memiliki agenda mengikuti proses penawaran untuk mengakuisisi LINK dari Axiata, meskipun nilai transaksi belum dipublikasikan. LINK sendiri memiliki jaringan yang cukup kuat dengan sekitar 4,4 juta home passes dan kurang lebih 1 juta home connects melalui brand XL Home, yang mencerminkan tingkat pemakaian atau take-up rate sekitar 22%.
Apabila akuisisi ini berhasil direalisasikan dan WIFI mampu meningkatkan take-up rate LINK hingga sekitar 50%, didukung oleh penawaran paket internet 500 Mbps dengan harga Rp250 ribu per bulan, maka entitas hasil penggabungan tersebut berpotensi membukukan pendapatan sekitar Rp13 triliun per tahun.
Dengan asumsi margin EBITDA sebesar 60%, potensi EBITDA yang dapat dihasilkan diperkirakan mencapai sekitar Rp8 triliun.
Tantangan bagi kinerja WIFI adalah biaya frekuensi yang harus dibayarkan 3 kali lipat pada tahun pertama. Kondisi ini bisa membuat margin keuntungan WIFI agak tertekan di 2026 dibandingkan dengan 2025. Apalagi, mereka juga harus membuat ekosistem baru untuk FWA 1,4 Ghz, dengan pelemahan kurs rupiah berpotensi membengkak.
Apalagi, WIFI juga tidak membebankan biaya sewa alat kepada konsumennya. Artinya, jika mereka gagal mencapai konversi yang optimal, risiko kinerjanya cukup tinggi. Di tambah, area persaingan di regional WIFI cukup ketat. Dengan skema-nya yang pra-bayar bulanan yang jika ada faktor kendala internet bisa kembali ke fiber optik yang cenderung lebih stabil.
Saham MORA - MyRepublic Air
Internet murah kedua yang sudah mulai berjalan adalah MyRepublic Air, yang kini berada di bawah MORA setelah resmi merger pada akhir 2025 lalu.
Saat ini, MyRepublic Air masih dalam tahap pra-registrasi dengan menawarkan layanan berbasis 5G FWA berkecepatan hingga 100 Mbps dan harga mulai Rp100 ribu per bulan. Produk ini diposisikan sebagai internet rumah tanpa batas kuota dengan kualitas setara fiber, sekaligus menjadi langkah awal MORA untuk menjaring minat pasar di segmen mass market.

Membahas soal merger antara MORA dan MyRepublic, ini menandai fase baru konsolidasi industri fixed broadband di Indonesia.
Integrasi ini menggabungkan kekuatan backbone nasional Moratelindo dengan basis pelanggan ritel MyRepublic, sehingga menciptakan struktur bisnis yang terintegrasi dari hulu ke hilir, mulai dari jaringan inti hingga last-mile ke rumah pelanggan.
Secara skala infrastruktur, MORA mengoperasikan jaringan fiber optic backbone sepanjang lebih dari 57.000 kilometer yang terhubung langsung ke Singapura melalui jaringan internasional.
Sementara itu, hingga September 2025, MyRepublic telah melayani lebih dari 1,5 juta pelanggan ritel, memiliki lebih dari 8,7 juta homepass, serta jaringan fiber optic yang juga melampaui 58.000 kilometer.
Dengan demikian, entitas hasil penggabungan diproyeksikan mengelola lebih dari 116.000 kilometer jaringan fiber optic, dengan basis pelanggan ritel di atas 1,8 juta serta puluhan ribu pelanggan enterprise.

Jika eksekusi integrasi berjalan optimal, MORA pasca-merger berpotensi menjadi salah satu pemain fixed broadband terbesar di luar operator seluler, sekaligus memperkuat posisinya dalam persaingan internet murah nasional.
Sampai saat ini kinerja 2025 belum rilis, sehingga konsolidasi kinerja keduanya belum tercermin di laporan keuangan.
Oleh karena itu, kami mencoba menghitung pendapatan MORA yang potensi bertambah dari MyRepublic.
Hingga September 2025, pendapatan MORA tercatat Rp2,81 triliun dengan laba bersih Rp250 miliar. Jika dianualisasi secara sederhana, pendapatan setara sekitar Rp3,7 hingga Rp3,8 triliun dan laba bersih sekitar Rp330 miliar.
Sementara itu, pendapatan segmen TV kabel, internet, dan teknologi DSSA yang merepresentasikan MyRepublic sebesar US$153,80 juta atau sekitar Rp2,56 triliun berpotensi menjadi tambahan pendapatan setelah merger efektif.

Dari sisi laba, bagian atas rugi bersih MyRepublic Holdings yang diakui adalah sekitar US$732 ribu untuk periode sembilan bulan 2025 atau kurang lebih Rp12 miliar.
Artinya, kontribusi laba MyRepublic saat ini masih negatif dalam skala yang relatif kecil dibandingkan laba MORA.
Jika angka tersebut digunakan sebagai pendekatan tahunan, dampaknya terhadap laba bersih konsolidasi tidak akan signifikan, hanya mengurangi sebagian kecil dari laba MORA yang saat ini berada di kisaran Rp330 miliar secara tahunan.
Dengan demikian, secara proforma pendapatan konsolidasi bisa meningkat hampir 70 persen menjadi sekitar Rp6,3 triliun, sementara dari sisi laba bersih efek awalnya cenderung netral atau akan turun sedikit, tergantung pada perbaikan kinerja operasional MyRepublic pasca integrasi.
Jika sinergi berjalan optimal dan kinerja MyRepublic membaik, maka kontribusi laba ke depan berpotensi menjadi katalis pertumbuhan bagi MORA.
Saham DATA
Kami juga menambahkan DATA sebagai pemain internet murah, namun berbeda dengan model FWA berbasis spektrum 1,4 GHz karena DATA berfokus pada pengembangan jaringan fixed broadband berbasis fiber optik.
Perusahaan menunjukkan keseriusannya dengan menandatangani MoU bersama sejumlah vendor infrastruktur telekomunikasi seperti Huawei, CCSI, VOKS, KTER, Guangzhou V-Solution Telecommunication Technology, dan Kosmos Wavelength Technology untuk mendukung percepatan ekspansi jaringan. Dalam jangka pendek, DATA menargetkan pembangunan 1 juta homepasses dengan 500 ribu home connect.
Saat ini, DATA telah mengoperasikan layanan fixed broadband melalui brand NEThome.id yang menawarkan paket 500 Mbps seharga Rp100 ribu dan 1 Gbps seharga Rp200 ribu.

Layanan ini tersedia di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Karawang, serta beberapa wilayah sekitar Cirebon. DATA juga telah bekerja sama dengan Huawei untuk menghadirkan layanan internet berkecepatan di atas 10 Gbps bagi pelanggan residensial.
Ke depan, DATA menyiapkan roadmap ekspansi agresif dengan target 5 juta homepasses dalam dua tahun dan hingga 25 juta homepasses dalam lima sampai sepuluh tahun mendatang.
Sebagai catatan, homepasses mencerminkan jumlah rumah atau gedung yang telah terjangkau jaringan fiber, sementara home connect adalah pelanggan yang sudah aktif dan berlangganan layanan.
Dari sisi laporan keuangan, pasca diakuisisi oleh Grup Djarum, DATA meraih pendapatan sebesar Rp 314,4 miliar, atau meningkat 26 persen dikuartal ketiga 2025, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (YoY)./
EBITDA yang dinormalisasi sebesar Rp 144 miliar dengan margin EBITDA 46 persen dan laba bersih sebesar Rp 65 miliar, naik tipis dari posisi tahun sebelumnya sebesar Rp64,4 miliar.
Kesimpulan
Jika ditarik ke kesimpulan, kemunculan paket internet Rp100 ribu per bulan bukan sekadar strategi promosi, melainkan fase awal konsolidasi dan transformasi industri broadband nasional.
Kepemilikan spektrum 1,4 GHz menjadi faktor pembeda utama karena menciptakan barrier to entry yang tinggi dan memungkinkan ekspansi cepat melalui teknologi 5G FWA.
Di sisi lain, pemain berbasis fiber tetap memiliki keunggulan dalam kualitas jaringan dan stabilitas jangka panjang. Artinya, persaingan tidak hanya ditentukan oleh harga, tetapi oleh kombinasi spektrum, skala infrastruktur, kekuatan modal, dan disiplin eksekusi.
Dari sisi saham, karakter ketiganya berbeda.
WIFI menawarkan potensi pertumbuhan paling agresif dengan risiko leverage yang ikut meningkat.
MORA berada di posisi lebih defensif dengan fondasi backbone nasional dan potensi sinergi pasca-merger yang dapat memperbesar skala usaha secara signifikan.
Sementara DATA hadir dengan pendekatan ekspansi fiber yang lebih terukur dan margin yang sudah relatif sehat.
Pada akhirnya, pilihan kembali pada profil risiko investor: mengejar growth tinggi dengan volatilitas lebih besar, atau memilih jalur pertumbuhan yang lebih bertahap namun stabil.
Internet Rp100 ribu bisa menjadi titik balik penetrasi broadband Indonesia.
Namun dalam jangka panjang, yang akan unggul bukan hanya yang paling murah, melainkan yang paling siap secara struktur bisnis, pendanaan, dan kemampuan mempertahankan kualitas layanan di tengah kompetisi harga yang semakin ketat.
So, gimana menurut kalian, dari tiga pemain internet murah, mana yang paling menarik?
Mikirduit Lagi Ada Diskon Rp200.000 sampai Rp1 juta untuk Join Mikirsaham Nih!
Benefitnya mencakup:
- Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
- Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
- Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
- Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US, Aksi korporasi, dan IPO
- Event online bulanan
- Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
- Hingga konsultasi private
Untuk detail kamu bisa baca lebih detail terkait benefit dengan klik di sini
