Adu Saham AMRT (Alfamart) dan DNET (Indomaret) di Tengah Pusaran Koperasi Merah Putih, Masih Menarik?

Minimarket di desa seperti Alfamart dan Indomart dianggap menjadi tantangan bagi Koperasi Merah Putih. Jadi, bagaimana prospek saham AMRT dan DNET di tengah privilege Koperasi Desa Merah Putih?

Saham AMRT

Mikirduit -  Saham AMRT dan DNET masih loyo dari awal tahun, apakah ini gara-gara dipersulit izin untuk buka gerai baru setelah Koperasi Desa Merah Putih jalan? 

Highlight: 

  • Koperasi Merah Putih mulai mengganggap peritel modern yang ada di Desa seperti Alfamart dan Indomart sebagai tantangan. 
  • Di sisi lain, peritel modern malah tidak menganggap Koperasi Merah Putih sebagai saingan. 
  • Namun, harga saham AMRT sudah koreksi dari awal tahun, sementara saham DNET tidak kemana-mana. 
  • Untuk diskusi saham secara lengkap, pilihan saham bulanan, dan insight komprehensif untuk member, kamu bisa join di Mikirsaham dengan klik link di sini.

Alfamart Indomart Vs Koperasi Merah Putih 

Harga saham emiten ritel modern seperti AMRT dan DNET masih cenderung loyo dari awal tahun. Saham AMRT malah sudah koreksi nyaris 15 persen, sementara DNET turun tipis 1 persenan, tetapi geraknya sideways panjang. 

Salah satu tantangan yang diantisipasi pasar tampaknya datang dari Koperasi Merah Putih. 

Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDT), Yandri Susanto, mengusulkan penghentian pemberian izin baru bagi ritel modern di desa. Usulan tersebut disampaikan secara tertulis melalui unggahan di akun Instagram resminya.

Kebijakan yang dimaksud bukan penutupan gerai yang sudah beroperasi, melainkan penghentian ekspansi atau penerbitan izin baru di wilayah desa. Langkah ini bertujuan untuk melindungi usaha rakyat lokal serta memperkuat peran Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih.

Sebelumnya, pernyataan terkait “STOP” sempat menimbulkan kegaduhan dan ditafsirkan sebagai ajakan menutup gerai ritel modern di desa. Namun, Yandri menegaskan bahwa dirinya tidak pernah mengusulkan penutupan gerai yang sudah ada.

Menurutnya, ekspansi ritel modern seperti Alfamart dan Indomaret ke wilayah desa berpotensi mengancam usaha rakyat, termasuk koperasi desa.

Dalam unggahan resminya pada Rabu (25/2/2026), Yandri menyatakan:

“Minimarket-minimarket yang sudah ada, ya silakan jalan. Indomaret, Alfamart yang sudah ada silakan jalan, saya tidak pernah mengusulkan untuk ditutup. Yang distop itu izin baru, jangan sampai minimarket-minimarket ini sampai ke desa-desa dan bisa mematikan usaha-usaha rakyat di desa.”

Beralih ke sisi peritel modern, mereka justru tidak menganggap Koperasi Desa Merah Putih sebagai saingan yang sampai mengancam bisnis mereka. 

Melansir Kontan, Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) menyampaikan fokus jaringan minimarket modern seperti Alfamart dan Indomaret lebih pada peningkatan pelayanan dan efisiensi operasional, bukan bersaing secara langsung dengan model koperasi desa yang berbeda dalam struktur dan tujuan usahanya. 

Aprindo menilai Kopdes Merah Putih bukanlah rival yang akan memaksa minimarket menutup gerainya, melainkan sekadar bagian dari ekosistem ekonomi desa yang bisa berkembang secara paralel tanpa saling meniadakan

Dengan kata lain, meskipun Kopdes Merah Putih berupaya memperkuat akses barang di pedesaan, jaringan ritel modern tetap melihatnya sebagai entitas yang berbeda dan tidak langsung memotong pangsa pasar mereka, terutama di area yang telah mapan.

Di sisi lain, tantangan utama industri ritel saat ini sebenarnya lebih berkaitan dengan daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih. Pada Januari, Indonesia kembali mengalami deflasi, padahal periode tersebut biasanya mulai mendekati momentum Ramadan yang identik dengan peningkatan konsumsi.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pemulihan konsumsi rumah tangga masih belum merata. 

Namun demikian, pelaku industri tetap berharap akan terjadi penguatan permintaan (demand) menjelang dan selama Ramadan, yang secara historis menjadi salah satu pendorong utama kinerja sektor ritel.

Lantas bagaimana prospek AMRT dan DNET setelah ada Koperasi Merah Putih?

Prospek Saham AMRT (Alfamart) 

Mulai dari AMRT dulu, dalam menghadapi persaingan dengan Koperasi Merah Putih, mereka sudah lebih dulu menyiapkan ekosistem digital yang apik. 

Septerti plarform Alfagift yang melayani pembelian pick up sendiri atau  pengiriman sampai depan rumah tanpa mematok biaya ongkos kirim (ongkir). 

Platform Alfagift mulai menunjukkan kontribusi yang semakin berarti terhadap kinerja perusahaan, tercermin dari pertumbuhan penjualan online yang solid. Sampai September 2025, kanal digital kini menyumbang sekitar 8 persen terhadap total pendapatan, dengan pertumbuhan sekitar 32 persen secara tahunan (YoY).

Selain Alfagift, platform Alfamind juga kami nilai merupakan jalur efisiensi marketing yang cerdik. Kenapa?

Karena platform ini bisa menarik orang sebagai mitra atau reseller untuk jualan produk Alfamrt tanpa harus punya toko. Mitra bisa lebih leluasa promosi produk melalui sosial media, mulai dari hanya postingan biasa sampai live streaming. Nanti, kalau ada yang beli, barang tetap dikirim dari sistem Alfamart. Si reseller hanya  bantu promosi dan dapat komisi.

Sistem ini jadi simple. Alfamart tidak perlu keluar biaya besar buat buka gerai baru dan lebih hemat biaya marketing. 

Ini juga menjadi strategi yang pintar apabila ke depan izin pembukaan gerai baru semakin dipersulit. Sebab pada akhirnya, pelanggan akan semakin terbiasa berbelanja secara online. 

Ketika konsumen sudah masuk ke dalam ekosistem digital seperti ini, faktor kenyamanan akan menjadi kunci.

Pelanggan tidak perlu datang ke toko, cukup pesan lewat ponsel. Prosesnya lebih praktis, pilihan produk tetap lengkap, dan distribusi tetap ditopang oleh jaringan ritel yang sudah kuat. 

Jika kebiasaan ini sudah terbentuk, loyalitas pelanggan biasanya ikut meningkat karena mereka merasa sistemnya mudah, cepat, dan familiar. Dengan kata lain, meskipun ekspansi fisik dibatasi, pertumbuhan penjualan tetap bisa berjalan melalui kanal digital dan komunitas.

Hingga saat ini, Alfamart punya sekitar 3.000 gerai telah ditetapkan sebagai titik pengiriman (delivery points). Dengan dukungan jaringan ini, proses pengantaran bisa dilakukan dengan relatif cepat, rata-rata hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit hingga 1 jam.

Dari sisi perilaku konsumen, belanja melalui kanal online juga menunjukkan kualitas transaksi yang lebih baik. Nilai belanja rata-rata per transaksi online tercatat lebih dari dua kali lipat dibandingkan transaksi di toko fisik.

Sementara itu, basis pelanggan terus berkembang. Jumlah anggota saat ini mencapai sekitar 22,9 juta, dengan sekitar 14,8 juta di antaranya merupakan anggota aktif. Anggota aktif ini tumbuh sekitar 17 persen secara tahunan dan menyumbang sekitar 57 persen  dari total pendapatan.

Selain itu, sebagai langkah ekspansi, sekarang Alfamart juga sedang menjajaki kerja sama dengan Layar Digi untuk menghadirkan bioskop mini atau microcinema di sejumlah gerai minimarket-nya.

Dalam kerja sama tersebut, Alfamart menyediakan ruang di lantai dua gerainya untuk digunakan sebagai bioskop mini. 

Sementara itu, seluruh aspek teknis pengelolaan, mulai dari pemilihan film, penetapan harga tiket, hingga pengaturan kapasitas studio, sepenuhnya menjadi tanggung jawab Layar Digi.

Namun, tidak semua gerai Alfamart akan dilengkapi fasilitas bioskop mini. Penentuan lokasi dilakukan secara selektif dan berada di bawah kewenangan Layar Digi, yang dinilai memiliki pengalaman dalam mengukur potensi pasar serta kelayakan suatu area.

Strategi ini menunjukkan bahwa Alfamart berperan sebagai penyedia ruang dan mitra kolaborasi, sedangkan operasional bisnis bioskop tetap dijalankan oleh pihak yang memiliki kompetensi di bidangnya.

Di Balik Drama MSCI, Ini 20 Saham yang Diakumulasi Investor Asing Pasca Trading Halt
Ternyata setelah kejatuhan IHSG karena MSCI bulan lalu, asing masih beli saham-saham Indonesia, apakah ini jadi strategi mereka dapat harga murah?

Prospek Saham DNET (Indomaret) 

Beralih ke Indomaret atau kalau dilantai bursa kita lebih akrab dengan saham DNET. 

Secara lanskap bisnis, DNET justru tergolong terdiversifikasi.

Jika dikaitkan dengan isu Koperasi Merah Putih, potensi dampak persaingan terhadap DNET relatif terbatas. 

Pasalnya, sumber pendapatan DNET tidak hanya bergantung pada toko ritel modern, tetapi juga berasal dari lini lain seperti distribusi produk makanan (KFC, Sari Roti) serta bisnis infrastruktur digital melalui FiberStar yang menjadi kontributor terbesar.

Khusus Indomaret,  DNET memiliki sekitar 40% kepemilikan saham, sehingga berperan sebagai pemegang saham pengendali dalam operasional bisnis ritel tersebut.

Namun, dari laporan keuangan, Indomaret tidak terlalu berdampak signifikan ke pendapatan karena masuk segmen lain lain yang hanya mencatat revenue Rp65,82 miliar, kontriibusinya tak sampai 10 persen dari total pendapatan Rp1,22 triliun. 

Pendapatan DNET terbesar datang dari segmen korporasi dengan Rp692,25 miliar atau sekitar 57% dari total pendapatan. Segmen ini mencakup layanan konektivitas data seperti IP Transit, MPLS, DWDM, dan berbagai solusi telekomunikasi untuk operator maupun pelanggan internasional. 

Sementara kontributor pendapatan kedua dari segmen ritel menyediakan produk layanan data telekomunikasi berbasis serat optik untuk pelanggan rumahan (fiber to the home) / FTTH broadband yang diberikan kepada operator telekomunikasi dan perusahaan Internet Service Provider (ISP). 

Beralih lagi ke Indomaret, di tengah persaingan dengan Koperasi Merah Putih, tampaknya punya strategi yang mirip dengan Alfamaret melalui digitalisasi. 

Indomaret punya aplikasi namanya Klik Indomaret, yang menyediakan layanan pesan-antar (delivery) dan ambil di toko (pick up) untuk berbagai produk, dan pengiriman cepat yang diantar langsung sampai depan rumah. 

Jadi, menurut kalian lebih pilih saham AMRT atau DNET? atau kalian mau coba ngelarisin produk Koperasi Merah Putih? 

Mikirduit Lagi Ada Diskon Rp200.000 sampai Rp1 juta untuk Join Mikirsaham Nih!

Benefitnya mencakup:

  • Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
  • Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
  • Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
  • Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US, Aksi korporasi, dan IPO
  • Event online bulanan
  • Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
  • Hingga konsultasi private

Untuk detail kamu bisa baca lebih detail terkait benefit dengan klik di sini

Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini

💡
Dapatkan Tools Analisis Saham Paling Cocok Untuk Investor Ritel serta Pilihan Saham Indonesia hingga AS dengan AI bersama Investing Pro. Dapatkan Promo Spesial Dari Mikirduit dengan Klik di sini