6 Saham Baru Umumkan Rencana Right Issue, Begini Ulasan lengkapnya
Parade rights issue 2026 makin sesak, kami mencatat 20 emiten punya rencana tambah modal. Termasuk didalamnya, ada tambahan lagi enam yang siap gelar aksi korporasi itu, kira-kira siapa saja mereka dan gimana prospeknya?
Mikirduit - Gelombang rights issue 2026 semakin ramai. Sekitar 20 emiten telah mengantre aksi korporasi ini, termasuk enam emiten baru yang siap menyusul. Lantas, siapa saja pemainnya dan bagaimana outlook-nya?
Highlight:
- Ada tambahan 6 emiten baru mau right issue, mereka adalah WMUU, TOBA, RMKO, PYFA, RAAM, COCO.
- Mayoritas sudah dapat izin dari investor dari RUPS, tetapi masih belum dapat izin efektif OJK. Gara-gara itu ada yang sampai mundur jadwalnya.
- Paling baru, ada CBRE sudah merilis lengkap prospektus yang termasuk didalamnya ada jadwal dan harga pelaksanaan rights issue.
- Untuk diskusi saham secara lengkap, pilihan saham bulanan, dan insight komprehensif untuk member, kamu bisa join di Mikirsaham dengan klik link di sini.
Musim rights issue alias aksi tambah modal melalui penerbitan saham baru masih berlanjut sampai tahun ini.
Sampai 30 Maret 2026, kami mencatat ada 20 emiten yang punya rencana rights issue, dari jumlah itu yang paling baru ada tambahan enam emiten lagi yaitu WMUU, TOBA, RMKO, PYFA, RAAM, dan COCO.
Serta update terbaru dari sebelumnya, CBRE sudah mengeluarkan prospektus rinci terkait jadwal sampai harga pelaksanaan rights issue. Sayagnya, kami belum mendapatkan kepastian apakah CBRE sudah dapat izin efektif dari OJK atau belum.
Kami juga belajar dari kasus IRSX yang seharusnya dijadwalkan awal bulan itu cum date, tetapi karena hambatan administrasi, surat efektif masih nyangkut di OJK, sehingga rights issue terpaksa harus mundur.
Selain itu, kami juga menambahkan tiga emiten yang punya rencana rights issue meskipun statusnya baru sekadar diskusi internal atau tahap perencanaan dalam daftar pantau,, yaitu NINE, FUTR, dan AIMS.
Adapun berikut rekap 20 emiten yang masuk radar kami punya rencana rights issue pada tahun ini:
Dari sederet emiten itu, kami akan membahas rincian dari enam emiten yang paling baru mengumumkan mau rights issue dan detail rencana aksi tambah modal dari CBRE.
Saham CBRE
Mulai dari CBRE dulu, meskipun efektif OJK belum bisa dipastikan, tetapi jadwal yang keluar ini sudah tinggal menghitung bulan saja.
Cum date dijadwalkan pada 26 Mei 2026, artinya sebelum tanggal itu investor yang beli saham CBRE masih bisa mendapatkan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD).
Kalau nantinya hak sudah didapatkan, investor yang mau menebus bisa mencermati tanggal perdagangan rights issue pada 4-10 Juni mendatang.
Berdasarkan prospektus, harga pelaksanaan berada pada rentang Rp100-Rp150 per lembar dengan rasio setiap 90 saham lama berhak menebus 253 saham baru. Adapun saham baru yang dikeluarkan sebanyak 12,75 miliar lembar, alhasil total dana segar yang diraih maksimal mencapai Rp1,91 triliun.
Asumsi kalau pakai harga pelaksaan Rp100 saja, secara matematis ini akan menghasilkan harga teoritis di Rp280 dari posisi harga terkini di Rp795 per saham. Risiko turunnya bisa 60 persen lebih.
Ada catatan juga dari aksi korporasi ini. Terkait dua pemegang utama, yakni Omudas (61 persen) dan Republik Capital (11 persen), justru memilih tidak mengeksekusi rights mereka dan mengalihkan hak tersebut ke investor baru. Ini sinyal jelas kalau perubahan kepemilikan terjadi di CBRE.
Sebagian besar rights akan diserap melalui mekanisme konversi utang menjadi saham oleh beberapa pihak seperti Hilong Shipping, Saga Investama Sedaya, Yafin Tandiono Tan, dan Superkrane, dengan total sekitar Rp924 miliar. Artinya, aksi ini lebih condong ke arah restrukturisasi neraca dibanding sekadar penggalangan dana biasa.
Dari sisi fundamental, ini sebenarnya positif karena utang berkurang dan leverage membaik, sehingga perusahaan punya ruang napas lebih sehat.
Namun di sisi lain, dilusi yang terjadi sangat besar dan berpotensi menggerus kepemilikan investor lama secara signifikan, bahkan membuka peluang terjadinya perubahan kontrol.
Dengan kondisi seperti ini, membeli saham di harga Rp795 hanya untuk mengejar rights menjadi kurang menarik. Secara sederhana, tidak ada keuntungan instan yang bisa didapat, karena penyesuaian harga saham nantinya akan “mengimbangi” keuntungan dari rights tersebut.
Ditambah lagi dengan risiko penurunan harga dan perubahan kepemilikan, strategi ini jadi cukup berisiko jika hanya berharap cuan cepat dari aksi ini.
Lebih aman kalau kita menunggu harga saham turun ke level yang lebih wajar, atau melihat dulu bagaimana pasar menyerap saham baru dan siapa yang nantinya benar-benar menjadi pengendali setelah rights issue selesai.
Kecuali bagi yang sudah punya harga di bawah Rp300 per saham, kemungkinan untuk ikutan rights issue kali ini jadi cukup menarik karena bisa dapat diskon besar.
Saham WMUU
Berikutnya ada WMUU yang telah mengumumkan rencana penambahan modal dengan target menerbitkan maksimal 6,10 miliar saham baru.
Dana yang dihimpun bertujuan utama untuk memperbaiki struktur permodalan dan modal kerja, di mana pemegang saham pengendali (WMPP) berencana mengambil bagian melalui skema konversi utang menjadi saham (debt-to-equity swap).
Jelas disini arti dari rights issue WMUU adalah mode penyelematan, bukan ekspansi.
Kalau pakai asumsi harga pelaksanaan di Rp50 per saham, dari posisi terkini di Rp62 per saham, harga teoritis bisa mencapai Rp58 per saham. Risiko penurunan masih moderat sekitar 8 persen.
Namun, yang perlu diantisipasi kalau harga jatuh dari level itu tentu karena secara historis saham ini sudah pernah di papan pemantauan khusus (FCA) lama dengan rekor terendah di 9 perak.
Setidaknya, kalau konversi utang ini sukses, neraca perusahaan akan jadi jauh lebih sehat. Namun, ini baru langkah awal, karena pada akhirnya kemampuan mencetak laba tetap menjadi faktor utama untuk menopang valuasi ke depan.
Adapun saat ini, statusnya masih menunggu restu RUPSLB pada 2 April 2026 dan belum mendapatkan pernyataan efektif OJK.
Saham TOBA
TOBA juga berencana menggelar rights issue dengan menerbitkan sebanyak-banyaknya 1,39 miliar saham baru.
Dana dari aksi korporasi ini akan difokuskan untuk mendukung transisi energi perusahaan, khususnya pengembangan ekosistem kendaraan listrik melalui Electrum, serta proyek energi terbarukan dan pengelolaan limbah.
Saat ini, rencana tersebut masih berada pada tahap menunggu persetujuan RUPSLB yang dijadwalkan pada 16 April 2026
Hingga saat ini, harga pelaksanaan rights issue memang belum ditetapkan. Namun, jika diasumsikan menggunakan harga sekitar Rp300 per saham, atau diskon kurang lebih 50% dari harga pasar terbaru per 30 Maret 2026 di Rp595, maka potensi dana segar yang dapat dihimpun mencapai sekitar Rp417 miliar.
Jika dihitung secara sederhana, aksi ini juga akan menekan harga saham secara teoritis. Dengan asumsi jumlah saham lama sekitar 8,38 miliar lembar (berdasarkan estimasi dilusi 14,23%), maka harga teoritis setelah rights (TERP) dapat dihitung sebagai berikut:
- Nilai saham lama: 8,38 miliar × Rp595 = Rp4,99 triliun
- Nilai saham baru: 1,39 miliar × Rp300 = Rp417 miliar
- Total nilai: Rp5,41 triliun
- Total saham setelah rights: 9,77 miliar lembar
Sehingga, harga teoritisnya berada di kisaran Rp553 per saham.
Ini berarti potensi penurunan harga sekitar 7% dari level saat ini, tergolong relatif moderat dibanding rights issue dengan dilusi besar.
Secara keseluruhan, dibandingkan rights issue dengan dilusi ekstrem, aksi TOBA ini terlihat lebih “sehat” karena dilusinya relatif kecil dan tujuan penggunaan dananya cukup jelas, yaitu untuk ekspansi bisnis yang sedang dibangun.
Namun demikian, investor tetap perlu mencermati harga pelaksanaan final dan eksekusi penggunaan dana, karena kedua hal tersebut akan sangat menentukan apakah rights issue ini benar-benar menciptakan nilai tambah atau hanya sekadar menambah jumlah saham beredar.
Apalagi perlu dicatat, setelah masuk bisnis “sampah jadi energi”, TOBA ini malah mencatat rugi US$162 juta (sekitar Rp2,7 triliun) pada tahun buku 2025, berbalik dari posisi laba tahun sebelumnya.

Saham RMKO
RMKO juga berencana menggelar rights issue dengan menerbitkan maksimal 512 juta saham baru atau setara sekitar 29,06% dari total modal setelah aksi korporasi. Dana yang dihimpun dari aksi ini akan difokuskan untuk memperkuat modal kerja serta mendukung pengembangan infrastruktur jasa kontraktor tambang, termasuk ekspansi layanan dan peningkatan kapasitas operasional.
Hingga saat ini, belum terdapat informasi mengenai pembeli siaga (standby buyer), dan pelaksanaannya masih menunggu persetujuan RUPSLB yang dijadwalkan pada 8 April 2026.
Secara fundamental, rights issue RMKO ini tergolong cukup jelas untuk mendukung operasional dan ekspansi bisnis, bukan untuk restrukturisasi utang besar atau perubahan kepemilikan.
Seluruh dana akan digunakan untuk modal kerja dan pengembangan usaha, yang diharapkan dapat meningkatkan likuiditas serta memperkuat struktur permodalan perusahaan.
Dari sisi bisnis, RMKO sendiri berada di sektor jasa penunjang pertambangan dengan model usaha terintegrasi, mulai dari pembangunan infrastruktur tambang, penyewaan alat berat, hingga jasa hauling batubara.
Perusahaan juga memiliki keunggulan berupa integrasi dengan ekosistem grup RMK, termasuk akses ke hauling road dan jaringan logistik batubara, yang menjadi faktor penting dalam efisiensi operasional.
Prospeknya ke depan cukup menarik, terutama karena RMKO sedang berada dalam fase ekspansi dan peningkatan utilisasi aset. Perusahaan menargetkan peningkatan volume angkutan dan aktivitas operasional seiring bertambahnya klien baru serta optimalisasi infrastruktur yang sudah ada. Sinergi dengan grup juga menjadi katalis penting untuk mendorong pertumbuhan volume dan pendapatan ke depan.
Namun demikian, ada beberapa hal yang tetap perlu diperhatikan.
Pertama, dilusi yang mencapai sekitar 29% tergolong cukup besar bagi pemegang saham yang tidak ikut rights.
Kedua, belum adanya pembeli siaga membuat tingkat kepastian penyerapan rights masih bergantung pada minat pasar.
Ketiga, karena dana digunakan untuk modal kerja, dampaknya terhadap peningkatan laba biasanya tidak langsung terasa, melainkan bertahap mengikuti pertumbuhan volume bisnis.
Saham PYFA
Selanjutnya ada PYFA yang tengah menjalankan rencana ekspansi yang cukup ambisius melalui rights issue dengan menerbitkan hingga 5,70 miliar saham baru.
Dana yang dihimpun akan digunakan untuk mendanai akuisisi strategis pabrik milik Mayne Pharma di Australia dengan nilai sekitar US$ 90 juta atau setara Rp1,4 triliun.
Untuk meningkatkan daya tarik aksi korporasi ini, PYFA juga menyertakan waran sebagai insentif tambahan bagi investor, serta membuka peluang keterlibatan investor strategis sebagai pembeli siaga guna memastikan keberhasilan transaksi.
Saat ini, rencana tersebut masih menunggu persetujuan RUPSLB yang dijadwalkan pada 22 April 2026.
Jika aksi ini sukses, PYFA akan naik kelas, dari perusahaan farmasi yang fokus di pasar domestik menjadi perusahaan multinasional. Dengan memiliki pabrik di Australia, PYFA secara otomatis memiliki basis operasional di luar negeri.
Namun, mengelola bisnis lintas negara memiliki tantangan tersendiri, mulai dari perbedaan regulasi, mata uang, hingga manajemen sumber daya manusia di Australia.
Dalam jangka panjang, jika integrasi berjalan mulus, pendapatan dari pasar internasional diharapkan bisa mendongkrak laba bersih PYFA secara signifikan karena margin produk farmasi di pasar global (seperti Australia dan AS) biasanya lebih tinggi daripada pasar domestik.
Saham RAAM
RAAM juga berencana rights issue dengan menerbitkan maksimal 1,36 miliar saham baru (20% modal) untuk mendanai produksi konten kreatif dan penyertaan modal ke anak usaha guna membangun 50 bioskop baru (Platinum Sinema).
Berbeda dengan kompetitor besar yang fokus di mall-mall elit kota metropolitan, strategi RAAM melalui Platinum Cineplex adalah melakukan penetrasi ke wilayah yang belum terjamah. Dengan membangun 50 bioskop baru, RAAM ingin:
- Menguasai Pangsa Pasar Lokal: Memperluas jangkauan distribusi film hasil produksi sendiri (integrasi vertikal).
- Pendapatan Berulang (Recurring Income): Selain dari penjualan tiket, ekspansi bioskop meningkatkan pendapatan dari sektor makanan dan minuman (F&B) serta iklan di area bioskop.
Saat ini belum ada pembeli siaga yang dipublikasikan secara resmi, dan statusnya masih menunggu RUPSLB pada 5 Mei 2026.
Saham COCO
Terakhir ada COCO, emiten produsen coklat yang mau rights issue dengan target dana mencapai Rp266,9 miliar melalui penerbitan maksimal 10,67 miliar saham baru (termasuk waran).
Dana ini akan digunakan sepenuhnya untuk modal kerja dan ekspansi pabrik pengolahan cokelat guna meningkatkan kapasitas ekspor. Rinciannya:
- Ekspansi Pabrik Pengolahan Cokelat : Sebagian besar dana akan dialokasikan untuk belanja modal (Capex), mencakup pembelian mesin-mesin baru dan peningkatan fasilitas pabrik. Tujuannya adalah meningkatkan kapasitas produksi guna memenuhi permintaan pasar ekspor yang terus tumbuh, terutama ke wilayah Asia dan Eropa.
- Modal Kerja Operasional : Dana juga akan digunakan untuk pengadaan bahan baku biji kakao dalam volume yang lebih besar serta biaya operasional lainnya. Hal ini krusial untuk menjaga kelancaran rantai pasok seiring dengan peningkatan kapasitas pabrik.
Statusnya saat ini adalah menunggu RUPSLB pada 7 April 2026 dan belum efektif OJK. Standby buyer juga belum diketahui, jadi investor masih perlu memantau apakah pemegang saham pengendali (PT Interfood Sukses Mandiri) akan menyerap seluruh haknya atau membawa investor strategis baru.
So, dari deretan saham-saham yang mau rights issue mana nih yang kalian incar?
Kami Sudah Ulas Strategi untuk TOBA, RMKO, PYFA, CBRE, dan RAAM agar Nggak Salah Langkah
Kamu bisa dapatkan insightnya di Mikirsaham.com, join sekarang dan dapatkan deretan benefit yang membantumu investasi di saham seperti:
- Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
- Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
- Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
- Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US, Aksi korporasi, dan IPO
- Event online bulanan
- Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
- Hingga konsultasi private
Langsung langganan sekarang dengan klik di sini
Jangan lupa, Cek KODE PROMO-nya sesuai dengan plan yang kamu butuhkan dengan klik di sini
Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini
