4 Saham Bank yang Berpotensi Bagikan Dividen dengan Yield di Atas 7 persen

Saham bank menjadi salah satu pilihan untuk dividend investing. Selain karena probabilitas laba bersih cenderung naik kecuali ada risiko NPL, tingkat yield-nya juga rata-rata menarik bisa di atas 7 persen. Lalu, apa saja saham bank yang bakal bagikan dividen yield menarik?

saham dividen bank

Mikirduit – Saham BBNI akan mencatatkan ex-date dividen pada 25 Maret 2026, artinya yang baru beli sahamnya tidak akan mendapatkan dividen. Lalu, apa saja pilihan saham bank yang masih memiliki potensi dividen dengan yield di atas SBN? kami mencatat ada 3 saham bank yang berpotensi bagikan dengan level tersebut.

Key Takeaways
  • BBNI telah menetapkan ex-date dividen pada 25 Maret 2026 dengan yield yang sedikit di bawah ekspektasi, sementara masih ada beberapa saham bank lain yang menawarkan potensi dividend yield di atas SBN.
  • BJBR, BNGA, dan BMRI sama-sama menawarkan potensi dividend yield menarik di kisaran 8–9 persen, namun pertumbuhan laba mereka cenderung stagnan akibat tekanan biaya operasional, pencadangan, dan efisiensi.
  • Selain tiga bank tersebut, BJTM juga berpotensi memberikan dividend yield tertinggi hingga sekitar 10 persen, tetapi masih menunggu rilis laporan keuangan full year 2025 untuk konfirmasi.
  • Untuk diskusi saham secara lengkap, pilihan saham bulanan, dan insight komprehensif untuk member, kamu bisa join di Mikirsaham dengan klik link di sini.

Sebelumnya, BBNI memutuskan pembagian dividen sekitar Rp349 per saham dari tahun buku 2025. Tingkat dividen BBNI itu agak sedikit di bawah ekspektasi kami yang memproyeksikan sekitar Rp354 per saham.

Selain BBNI, Kami mencatat ada 3 saham bank yang bisa kasih tingkat dividend yield di atas SBN yang masih menarik berdasarkan saham-saham yang sudah rilis laporan keuangan full year 2025. Selain itu, sebenarnya ada 1 bank lagi yang menarik. Siapa saja mereka?

Saham BJBR

BJBR mencatatkan penurunan laba bersih hingga 15,82 persen sepanjang 2025. Namun, hal itu tidak menyurutkan posisi BJBR sebagai emiten yang berpotensi membagikan dividen dengan yield menarik selaras dengan penurunan harga saham sepanjang 2025.

Kami memproyeksikan BJBR membagikan dividen 65 persen dari laba bersih menjadi Rp73,3 per saham. Dengan menggunakan harga penutupan per 17 Maret 2026 di Rp805 per saham, tingkat dividend yield mencapai 9,11 persen.

Saham BJBR menjadi saham dividen dengan potensi tingkat yield terbesar ke-5 dari total 143 saham yang kami nilai berpotensi bagikan dividen dan sudah merilis laporan keuangan full year 2025.

Tekanan laba bersih BJBR di 2025 terjadi karena adanya kenaikan pencadangan hingga 65 persen menjadi Rp1,38 triliun dibandingkan dengan periode sama pada tahun sebelumnya. Sehingga kenaikan pendapatan bunga bersih konsolidasi yang naik 13 persen menjadi Rp7,51 triliun.

Pencadangan meningkat signifikan selaras dengan kenaikan rasio kredit bermasalah dari segi NPL gross (secara keseluruhan) maupun NPL net (setelah pencadangan). Secara NPL Gros BJBR naik menjadi 2,91 persen dibandingkan dengan 2,22 persen pada periode sama tahun sebelumnya. Lalu, NPL net juga naik menjadi 1,29 persen dibandingkan dengan 1 persen pada periode sama tahun sebelumnya.

Dari catatan kami, kondisi cost to income BJBR menjadi sedikit lebih efisien setelah turun menjadi 70,89 persen dibandingkan dengan 71,47 persen pada periode sama tahun sebelumnya. Meski, tingkat rasio BOPO naik menjadi 92,18 persen dibandingkan dengan 90,2 persen. Dengan skala bank BJBR, kami menilai tingkat BOPO perseroan harus dibuat lebih efisien.

Di luar itu, hal yang menarik BJBR adalah perseroan mulai mencatatkan perbaikan net interest margin yang naik tipis menjadi 3,84 persen dibandingkan dengan 3,83 persen pada periode sama tahun sebelumnya.

Dari segi prospek, kami menilai BJBR akan sangat menarik jika laju pencadangan mulai melandai hingga diturunkan sehingga berpotensi terjadi turn around kinerja laba bersihnya. Cek proyeksi dividen dari 142 saham yang sudah rilis laporan keuangan full year di sini

Saham BNGA

BNGA yang mencatatkan pertumbuhan laba bersih stagnan di 0,74 persen berpotensi membagikan dividen sekitar Rp153 per saham. Dari tingkat dividen itu jika dihitung dari harga penutupan pada 17 Maret 2026, berarti tingkat yield masih sekitar 8,59 persen. BNGA menjadi saham dengan potensi dividen terbesar ke-8 dari total 143 saham dividen yang sudah rilis laporan keuangan full year 2025 dari proyeksi kami.

Lalu, bagaimana prospek kinerja BNGA?

Jika melihat kinerja keuangan BNGA di 2026, kami menilai tekanan kinerja yang membuat pertumbuhannya cenderung stagnan karena ada penurunan pendapatan bunga bersih dari bisnis bank yang turun 0,0001 persen menjadi Rp12,12 triliun. Untungnya, dari konsolidasi anak usaha masih mampu mencatatkan kenaikan pendapatan bunga bersih sebesar 0,015 persen menjadi Rp13,47 triliun.

Bahkan, dengan penurunan pencadangan sebesar 27 persen menjadi Rp859 miliar, BNGA belum mampu mencatatkan pertumbuhan laba bersih yang lebih agresif.

Kami menyoroti tekanan pertumbuhan laba bersih BNGA yang cukup lambat juga disebabkan kenaikan cost to income ratio menjadi 47 persen dibandingkan dengan 45,24 persen. Cost to income rasio adalah metriks dari laporan keuangan bank yang membandingkan total biaya operasional dengan pendapatan bunga bersih dan fee based income sebuah bank. Sehingga jika ratio-nya makin rendah berarti biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan pendapatan bank semakin efisien.

Jika melirik perkembangan rasio kredit bermasalah BNGA sebenarnya masih aman. Meski, NPL gross (secara keseluruhan) dan NPL net (setelah pencadangan) masih mengalami kenaikan. Jika ada faktor-faktor tertentu yang meningkatkan NPL net BNGA, ada potensi pencadangan kembali dinaikkan.

Jika ada kenaikan pencadangan di 2026 berarti laju pertumbuhan laba bersih bisa menjadi lebih seret. Kecuali ada faktor lain seperti pemulihan permintaan kredit yang terjadi beriringan.

Alasan Saham dengan Rasio Dividen Jumbo Memiliki Peluang Kenaikan Harga Lebih Rendah
Penasaran nggak kenapa harga saham yang punya siklus dividen rasio jumbo (payout ratio di atas 80 persen per tahun) itu harga sahamnya cenderung lambat atau tren turun dalam 5 tahun terakhir? simak ulasan lengkapnya di ini

Saham BMRI

Saham BMRI mencatatkan pertumbuhan laba bersih yang cenderung stagnan dengan kenaikan hanya 0,92 persen. Namun, dari kinerja tahun buku 2025 ini, BMRI bikin kejutan dengan memberikan dividen interim senilai Rp100 per saham pada akhir 2025.

Kami memproyeksikan BMRI membagikan dividen sekitar 78 persen dari laba bersih dari tahun buku 2025. Sehingga potensi dividen di luar interim menjadi sekitar Rp378 per saham. Jika menggunakan harga penutupan per 17 Maret 2026, berarti tingkat dividend yield sekitar 8 persen.

BMRI menjadi saham dividen dengan yield terbesar ke-10 dari total 143 saham yang sudah rilis laporan keuangan full year 2025 hingga 18 Maret 2026.

Kami menyoroti kasus BMRI juga hampir sama degan BNGA. Dari segi pendapatan bunga bersih secara konsolidasi mampu mencatatkan kenaikan 2 persen. Bahkan, pencadangannya turun 14 persen menjadi Rp10,09 triliun. Namun, pertumbuhan laba bersih masih di bawah 1 persen.

Setelah kami cek, faktor utamanya ada di kenaikan CIR yang cukup signifikan menjadi 41 persen dibandingkan dengan 35 persen pada periode saham tahun sebelumnya. Bedanya dengan BNGA, BMRI juga mencatatkan kenaikan BOPO menjadi 60 persen dibandingkan dengan 56 persen. Artinya, meski BMRI mampu mencatatkan pendapatan lebih tinggi, tapi biaya yang dikeluarkan juga lebih tinggi lagi.

Dari segi rasio kredit bermasalah, BMRI mencatatkan NPL gross yang lebih rendah menjadi 0,96 persen dibandingkan dengan 0,97 persen pada periode sama tahun sebelumnya.

Namun, NPL net BMRI mencatatkan kenaikan menjadi 0,4 persen dibandingkan dengan 0,33 persen pada periode sama tahun sebelumnya. Jika ada kenaikan NPL net yang cukup signifikan bisa memicu BMRI kembali meningkatkan pencadangan yang bisa menghambat pertumbuhan laba bersih.

Perkembangan ekonomi terkait risiko kenaikan harga BBM dan daya beli masyarakat bisa jadi penentu prospek kinerja BMRI di 2026. Dari proyeksi kinerja konsensus analis, laba bersih BMRI diproyeksikan tumbuh tipis 0,001 persen menjadi Rp56 triliun pada 2026. Lalu, baru mulai tumbuh agresif di 2027 dengan estimasi pertumbuhan hingga 7,4 persen.

Saham Bank Lainnya yang Belum Rilis Laporan Keuangan

Sebenarnya, ada satu saham bank lain yang punya potensi dividen menarik, yakni saham BJTM. Namun, saham BJTM belum merilis laporan keuangan full year 2025 sehingga kami masih menunggu rilis laporan keuangannya terlebih dulu.

Kami memproyeksikan laba bersih BJTM bisa naik sekitar 10,58 persen menjadi Rp94 per saham. Dengan menggunakan asumsi dividen payout rasio lebih konservatif di 60 persen, berarti dividen per saham-nya sekitar Rp56,4 per saham. Dengan harga saham penutupan pada 17 Maret 2026, berarti potensi dividen yield-nya bisa tembus 10 persen.

Kami Sudah Rilis Proyeksi Dividen dari 142 Saham yang Sudah Rilis Lapkeu hingga 23 Maret 2026 di Mikirsaham

Kamu bisa dapatkan semuanya di Mikirsaham.com, join sekarang dan dapatkan deretan benefit yang membantumu investasi di saham seperti:

  • Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
  • Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
  • Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
  • Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US, Aksi korporasi, dan IPO
  • Event online bulanan
  • Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
  • Hingga konsultasi private

Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini

Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini

💡
Dapatkan Tools Analisis Saham Paling Cocok Untuk Investor Ritel serta Pilihan Saham Indonesia hingga AS dengan AI bersama Investing Pro. Dapatkan Promo Spesial Dari Mikirduit dengan Klik di sini