23 Digest: Harap-harap Cemas Krisis Keuangan

23 digest maret harap-harap cemas krisis keuangan

Hai para Pemikir Duit, Maret bisa dibilang menjadi bulan yang penuh kejutan. Tiba-tiba, beberapa bank di Amerika Serikat bangkrut karena aksi rush money. Penyebab lainnya, kinerja bank itu jelek akibat periode crypto and tech winter, sebuah frasa yang menggambarkan industri kripto dan teknologi yang lagi kacau.

­čĺí
Crypto dan tech winter terjadi akibat efek kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed), bank sentral AS, yang terlalu tinggi. Kenaikan suku bunga akan berdampak kepada laju ekonomi yang lebih lambat

Sebagai penjelasan, kita akan paparkan kronologi bagaimana bank-bank di AS itu bisa bangkrut:

Daftar Isi Konten

Kronologi Silvergate

Silvergate menyatakan tutup operasinya dan mengembalikan seluruh uang deposit pada awal Maret 2023. Penyebabnya, tingkat penarikan uang tunai semakin meningkat sejak crypto memasuki fase penurunan drastis. Ditambah, Silvergate juga menjadi partner FTX dan Genesis yang sempat bermasalah pada akhir 2022.

Gara-gara itu, Silvergate harus rugi 1 miliar dolar AS setelah adanya penarikan uang oleh nasabahnya hingga 8,1 miliar dolar AS.

Bahkan, Silvergate menunjukkan kondisi keuangannya bisa lebih buruk dari yang ditunjukkan dalam laporan kuartalan sebelumnya.

Silvergate mungkin memang bukan bank besar, tapi kejadian yang dialami menjadi pertanda risiko untuk bank-bank lainnya yang terkait dengan dunia crypto.

Kronologi Sillicon Valley Bank (SVB)

Sillicon Valley Bank (SVB) adalah bank yang fokus melayani ekosistem startup di Amerika Serikat (AS). Ketika periode booming teknologi, banyak startup yang menempatkan uang pendanaan dari investor ke bank tersebut. Bukan cuma startup, tapi juga investor-investor, termasuk modal ventura startup menyimpan uangnya di bank tersebut, agar mudah jika ingin berinvestasi ke perusahaan-perusahaan teknologi.

Namun, era kenaikan suku bunga Federa Reserve (The Fed) yang agresif sepanjang 2022 membuat perusahaan teknologi kelabakan. Investor pun mulai ogah menyalurkan pendanaan ke startup karena risiko ekonomi tinggi.

Akhirnya, masalah terjadi di 2023. Beberapa investor teknologi ingin menarik uangnya di SVB senilai 2 miliar dolar AS. Nilai itu cukup besar, sehingga akhirnya SVB melakuan cut loss obligasi negara yang dimilikinya senilai 1,8 miliar dolar AS.

Kenapa bisa rugi di obligasi negara? ya karena SVB ini menyimpannya di obligasi tenor jangka panjang. Di sisi lain, harga obligasi bergerak berlawanan dengan arah suku bunga. Artinya, ketika The Fed secara agresif menaikkan suku bunga, berarti harga obligasi yang dipegang SVB turun. Akhirnya, ketika butuh dana cepat, SVB terpaksa jual rugi.

Di sisi lain, tech winter membuat pertumbuhan jumlah simpanan SVB melambat. Tidak ada lagi startup yang mendapatkan dana besar dan menyimpan uang baru di bank tersebut.

Kondisi itu langsung membuat banyak investor teknologi menarik uangnya dari SVB. Lalu, mereka juga mengingatkan kepada startup yang diinvestasikannya kalau kondis likuiditas SVB sangat ketat. Akhirnya, para startup juga melakukan rush money karena uang yang disimpan di bank itu digunakan untuk operasional mereka.

Di sini, SVB pun goyah, harga sahamnya turun drastis. Kondisi itu menular ke saham-saham bank lainnya seperti, First Republic, Signature Bank, dan West Alliance. Banyak pihak langsung menganalisis bagaimana kondisi likuiditas bank-bank tersebut, serta risiko bisnisnya.

­čĺí
Likuiditas bank adalah gambaran seberapa mampu bank mengembalikan uang nasabah jika ditarik sewaktu-waktu. Jika likuiditas ketat, berarti bank butuh pendanaan lebih banyak, sedangkan likuiditas longgar bank bisa menyalurkan kredit lebih ekspansif lagi.

Sampai akhirnya, Federal Deposit Insurance Corporation, semacam Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) di AS mengumumkan kalau dana nasabah yang tidak memenuhi ketentuan dijamin seperti simpanan di atas 250.000 dolar AS akan tetap dijamin. Pemerintah AS pun memberikan pinjaman kepada bank untuk menyelesaikan masalah likuiditasnya. Tujuannya agar tidak berefek kepada ekonomi lebih parah lagi seperti 2008.

Sampai akhirnya SVB diakuisisi oleh First Citizens Bank senilai 72 miliar dolar AS atau Rp1.086 triliun pada 28 Maret 2023. Nantinya, 17 cabang bekas SVB akan beroperasi sebagai divisi dari First Citizens Bank.

Kronologi Signature Bank

Di tengah kasus SVB sebagai kegagalan terparah sejak 2008, Signature Bank juga kena imbasnya. Sebenarnya, Signature Bank adalah bank yang fokus di segmen pembiayaan real estate dan firma hukum, serta ada beberapa portofolio simpanan di industri crypto. Nah, gejolak di SVB dan Silvergate membuat Signature Bank juga kena rush money.

Demi menahan laju rush money, akhirnya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di AS menyita Signature Bank. Sampai akhirnya, LPS AS menyetujui Signature Bank diakuisisi oleh Flagstar Bank pada 19 Maret 2023.

Kronologi Credit Suisse

Di tengah hebohnya bank Amerika Serikat yang kolaps, tiba-tiba nama Credit Suisse muncul jadi salah satu bank yang bermasalah. Jelas, kasus Credit Suisse bisa lebih besar daripada SVB, Silvergate, dan Signature Bank karena bank asal Swiss itu adalah bank global sistemik.

Sebenarnya, masalah Credit Suisse sudah terjadi sejak 2021. Waktu itu, Credit Suisse terbebani oleh kerugian gara-gara hedge fund milik keluarga Archegos Capital akibat drama saham meme Game Stop, serta bangkrutnya perusahaan Grensill Capital yang didanai oleh bank asal Swiss tersebut.

Dari situ, kinerja keuangan Credit Suisse, belum lagi berbagai skandal yang mempengaruhi operasional bank besar tersebut.

Puncaknya terjadi ketika Credit Suisse melaporkan alami kerugian bersih 7,3 miliar franc swiss atau setara Rp119 triliun sepanjang 2022. Bahkan, kondisi likuiditas Credit Suisse mengetat setelah adanya penarikan aset hingga 110,5 miliar franc Swiss setara Rp172 triliun pada kuartal IV/2022.

Di sini, mulai muncul kekhawatiran kalau Credit Suisse bisa kolaps sewaktu-waktu. Akhirnya credit default swap (CDS), instrumen derivatif yang menggambarkan tingkat risiko bangkrut, milik Credit Suisse meningkat drastis. Artinya, banyak yang memprediksi Credit Suisse bisa kolaps sewaktu-waktu.

Masalah Credit Suisse memburuk ketika salah satu pemegang sahamnya, Saudi National Bank dengan tegas tidak akan memberikan modal lagi kepada bank asal Swiss tersebut. Namun, alasannya bukan karena prospek bank jelek, melainkan adanya pembatasan aturan.

Sayangnya, hal itu memicu kekhawatiran kepada Credit Suisse secara berlebihan.

Sampai akhirnya, Credit  Suisse mengumumkan gunakan opsi meminjam uang Swiss National  Bank senilai 50 miliar franc Swiss atau setara Rp81 triliun.

Namun, uang itu ternyata tidak cukup menjadi solusi agar Credit Suisse membaik. Hingga akhirnya, UBS, saingan dari Credit Suisse, sepakat untuk akuisisi kompetitornya tersebut.

UBS sepakat akuisisi 60 persen saham CreditSuisse senilai 3 miliar franc Swiss atau setara Rp49 triliun. Harga jualnya sekitar 0,76 franc Swiss per saham atau Rp12.400 per saham.

Aksi UBS itu dilakukan untuk mencegah krisis meluas ke seluruh sistem keuangan global.

Sekarang tinggal kita nantikan bagaimana integrasi kedua bank besar Swiss itu.

Kronologi First Republic Bank

Kisah First Republic Bank masih lanjutan dari gejolak Silvergate, SVB, dan Signature Bank. Gara-gara mayoritas porsi simpanan First Republic tidak dijamin LPS di AS, akhirnya para deposan melakukan rush money. Mereka khawatir First Republic akan jadi bank selanjutnya yang kolaps.

Hal itu membuat likuiditas First Republic mengetat. Hingga akhirnya, beberapa bank besar seperti, JPMorgan Chase, Wells Fargo, dan Morgan Stanley senilai 30 miliar dolar AS.

Kronologi Deutsche Bank

Sebenarnya, belum terlihat, apa masalah dari Deutsche Bank. Namun, gejolak perbankan di AS dan Credit Suisse membuat investor mulai cermat. Harga saham Deutsche Bank mengalami penurunan sejak awal Maret 2023. Ditambah, CDS dari Deustche Bank juga meningkat yang berarti risiko gagal bayar meningkat.

Dari sini, para pemegang obligasi dari Deutsche Bank mulai harap-harap cemas. Kenaikan CDS Deutsche Bank jelas menjadi risiko para pemegang obligasi tersebut.

Di sisi lain, jika melihat kinerja Deutsche Bank sepanjang 2022 tidak ada masalah signifikan. Malah, Deutsche Bank mencatatkan pertumbuhan laba bersih sepanjang 2022 sebesar 133 persen menjadi 5,5 miliar euro.

Rasio keuangannya pun tidak ada yang menunjukkan tanda-tanda bahaya. Seperti, pengelolaan biaya sangat efisien, Deutsche Bank mencatat cost to income ratio (CIR) dari 84 persen pada 2021 menjadi 74 persen pada 2022. Artinya, biaya untuk mendapatkan pendapatan lebih efisien.

Rasio lainnya seperti, Net interest margin (NIM) juga lebih baik pada 2022 sebesar 1,4 persen dibandingkan dengan 1,2 persen pada periode sebelumnya.

Terakhir, likuiditas Deutsche Bank juga terjaga dengan baik. Loan to deposit ratio (LDR) konsisten berada di level 78 persen.

Jadi, jika melihat data-data itu, sebenarnya belum ada tanda bahaya dari bank asal Jerman tersebut. Namun, kita tidak tahu pasti apa yang terjadi di lapangan yang bisa membuat Deutsche Bank menjadi salah satu bank yang berpotensi bermasalah juga. Kita tunggu kabar terbarunya.

Kesimpulan

Gejolak perbankan di AS itu terjadi karena kenaikan suku bunga yang terlalu agresif oleh Federal Reserve sepanjang 2022. Apalagi, jika menarik historis, ketika The Fed menaikkan suku bunga terlalu agresif pasti ada potensi gejolak terjadi.

Hal itu terjadi seperti dalam resesi besar 1982 yang sejarahnya bisa kamu baca di sini. Belum lagi krisis Asia Timur di 1997-1998 akibat The Fed mulai menaikkan suku bunga sehingga dolar AS menjadi super power, sedangkan posisi sistem foreign exchange bank sentral di ASEAN masih fix dan floating managed exchange rate.

Hasilnya, ketika dolar AS menguat, bank sentral negara ASEAN mati-matian intervensi hingga cadangan devisa jebol dan mengubah sistem foreign exchange menjadi floating exchange rate. Hasilnya, kurs mata uang melemah drastis hingga ekonomi porak poranda.

Kenaikan suku bunga The Fed juga yang membuat pecahnya bubble dotcom di AS pada 2000. Sampai krisis keuangan subprime mortgage di AS pada 2008 yang dijuluki The Great Recession.

Dengan kondisi itu, banyak pihak berekspektasi The Fed melakukan pivot atau perubahan kebijakan dari menaikkan jadi menurunkan. Tujuannya untuk meredam gejolak sistem keuangan. Namun, hingga pertemuan terakhir, The Fed masih menaikkan suku bunga 25 bps. Harapannya, di pertemuan selanjutnya setidaknya The Fed bisa menahan kenaikan suku bunga.

Apakah hal ini akan menciptakan krisis baru? jujur untuk itu tidak ada yang bisa prediksi. Krisis itu selalu datang tiba-tiba. Jika melihat sekilas dari luar seharusnya tidak terjadi krisis yang signifikan dengan syarat  The Fed menghentikan laju kenaikan suku bunga.

Namun, jika The Fed terus menaikkan suku bunga, ada risiko krisis besar akan terjadi.

Lalu, apa efeknya ke Indonesia? jika akhirnya The Fed menahan suku bunga akan jadi positif untuk pasar saham Indonesia. Apalagi, sistem keuangan Indonesia masih cukup solid dengan likuiditas yang terjaga baik.

Hal itu mulai terlihat dari aksi bersih investor asing yang di atas Rp1 triliun dalam dua hari terakhir. Kita akan tunggu apa keputusan The Fed selanjutnya yang akan menentukan arah pasar saham kita. Kalau The Fed masih menaikkan suku bunga, ya ekonomi se dunia juga terancam.

Mau ARA-ARB Simetris, BEI Masih Galau Tingkat Dewa

Pas udah mau siap, tiba-tiba sektor keuangan AS bergejolak, kan jadi ngeri-ngeri sedap

Bursa Efek Indonesia (BEI) sempat memberikan sinyal kebijakan auto reject atas dan bawah (ARA-ARB) akan kembali simetris pada April 2023. Namun, kebijakan itu ditunda setelah ketentuan perdagangan per awal April 2023 hanya kembali normalisasi jam perdagangan yang saat ini jam 9 pagi sampai jam 3 sore menjadi jam 9 pagi sampai jam 4 sore.

Adapun wacana ARA-ARB yang ditunda pun wajar mengingat sektor keuangan AS bergejolak di awal Maret 2023 setelah Silvergate hingga SVB kolaps. Apalagi, banyak juga investor saham anyar yang ada di Indonesia khawatir kebijakan ARA-ARB simetris berefek buruk kepada mereka.

Apa Itu ARA-ARB Simetris?

ARA-ARB adalah salah satu mekanisme penenang pasar untuk harga saham yang melejit terlalu tinggi atau turun terlalu dalam. Jadi, ARA-ARB akan memberikan batasan kepada harga saham agar tidak bergerak terlalu liar.

Misalnya, dalam ketentuan awal, ARA-ARB untuk harga saham Rp50-Rp200 per saham masing-masing 35 persen.

Lalu, untuk harga saham dari Rp200 sampai Rp5.000 per saham masing-masing 25 persen.

Untuk harga saham di atas  Rp5.000 per saham  masing-masing 20 persen.

Untuk saham yang ada di papan akselerasi, tingkat ARA-ARBnya masing-masing 10 persen.

Namun, pandemi Covid-19 terjadi market crash yang cukup parah hingga BEI menerapkan kebijakan ARA-ARB asimetris.

Jadi, untuk harga saham Rp50-Rp200 per saham batas maksimal ARA 35 persen, tapi batas ARB cuma 7 persen. Begitu juga untuk kategori harga saham lainnya.

Akhirnya BEI Mulai Normalkan Kebijakan Secara Bertahap

Dalam pengumuman pada 30 Maret 2023, BEI mulai membuka diri untuk keluar dari kebijakan ARA-ARB asimetris secara bertahap.

Pertama, BEI akan meningkatkan persentase ARB per 5 Juni 2023 dari 7 persen menjadi 15 persen. Kedua, BEI akan mulai menormalkan ARA-ARB menjadi kembali simetris per 4 September 2023.

Efek ARA-ARB Balik Jadi Simetris

Merasa nggak, pasar saham cenderung sideways sejak pandemi Covid-19 atau ketika penerapan ARA-ARB asimetris? pernah sih naik, tapi cuma sebentar setelah itu turun lagi sedalam kenaikannya.

Nah, salah satu penyebab pasar saham cenderung sepi bisa diakibatkan oleh efek ARA-ARB yang asimetris. Soalnya, dengan posisi asimetris, bikin harga saham cepat ARB. Ketika harga saham mengalami ARB ya sudah tidak ada lagi yang bisa dilakukan.

Bayangkan kalau ARA-ARB simetris, ketika sudah turun 15 persen, trader bisa mencoba peruntungan dengan jual dan mencari saham potensial lainnya. Sehingga transaksi menjadi bisa jalan terus.

Harapannya dengan ARA-ARB kondisi pasar saham bisa kembali normal ya. Semoga juga tidak ada krisis besar dari gejolak sistem keuangan di AS dan Eropa. Aminn.

Sekian bye-bye Selamat Datang April, Selamat Tinggal Maret.

-SR-


23 Digest adalah publikasi bulanan dari Mikirduit yang merekap ada kejadian keuangan besar apa sepanjang bulan tersebut. Publikasi ini bakal dirilis setiap akhir bulan.

Surya Rianto

Surya Rianto

Ex-Journalist Stock Market Enthusiast
Indonesia