20 Emiten Dalam Periode Buyback Saham, Kalian Punya yang Mana?

Kami mengumpulkan 20 emiten yang terpantau sedang dalam periode buyback. Ada yang pakai modal jumbo triliunan rupiah dan berlangsung sampai setahun. Kira-kira bagaimana strategi yang tepat untuk masuk saham ketika ada aksi korporasi ini? 

20 Emiten Dalam Periode Buyback Saham, Kalian Punya yang Mana?

Mikirduit - Ada 20 emiten yang sedang melangsungkan periode buyback, ada yang sudah dekat dateline, ada juga yang masih lama. Apakah menarik untuk masuk saham yang sedang melakukan aksi korporasi ini? Gimana strategi-nya? 

Highlight

  •  Ada 20 emiten yang sedang dalam periode buyback saham. 
  • Aksi buyback bervariasi ada yang bernilai jumbo triliunan, buyback lanjutan, dan buyback jangka panjang. 
  • Saham yang sedang buyback belum tentu langsung menarik, dan saham yang sudah selesai buyback juga belum tentu kehilangan peluang.
  • Untuk diskusi saham secara lengkap, pilihan saham bulanan, dan insight komprehensif untuk member, kamu bisa join di Mikirsaham dengan klik link di sini.

Aksi buyback kerap kali membawa optimisme bagi saham suatu perusahaan. Langkah ini mencerminkan keyakinan manajemen terhadap fundamental perusahaan, dengan cara membeli kembali sahamnya sendiri saat dinilai undervalued atau ketika volatilitas pasar meningkat.

Kami mengumpulkan setidaknya 20 emiten yang masih berada dalam periode buyback. Berikut rincian-nya: 

Dari daftar tersebut, terlihat kombinasi antara emiten yang memasuki putaran buyback lanjutan, emiten yang sudah mendekati tenggat waktu, serta buyback jangka panjang berbasis RUPST yang berfungsi sebagai penopang harga saham secara struktural.

Mulai dari ASII yang diketahui kembali menggulirkan buyback tahap kedua pada periode 19 Januari–25 Februari 2026 dengan alokasi dana Rp2,0 triliun.

Sebelumnya, ASII telah menjalankan buyback dan menyerap sebagian saham beredar. Pada tahap lanjutan ini, realisasi masih sangat awal dengan sisa dana sekitar Rp1,98 triliun, sehingga ruang eksekusi buyback masih terbuka lebar dan berpotensi menjadi penopang harga dalam jangka pendek.

Selain itu, terdapat sejumlah emiten yang kini sudah mendekati deadline buyback, sehingga secara historis berpotensi meningkatkan intensitas pembelian saham menjelang akhir periode. Emiten tersebut antara lain TBIG, BUKA, dan BBHI yang seluruhnya berakhir pada 29 Januari 2026, serta UNTR yang berakhir pada 30 Januari 2026.

Formula Cuan dari Saham Backdoor Listing, Right Issue, dan Mandatory Tender Offer
Saham aksi korporasi menjadi salah satu yang diburu banyak investor ritel saat ini. Untuk itu, kami berikan strategi dan potensi risiko jika ingin masuk ke saham yang ada backdoor listing, right issue, dan mandatory tender offer

Untuk emiten dengan periode buyback yang lebih panjang hingga Maret–April 2026, seperti AMRT, JTPE, GEMA, KLBF, MAHA, dan HRUM buyback cenderung digunakan sebagai alat menjaga volatilitas harga. Pola eksekusinya biasanya lebih bertahap dan tidak ditujukan untuk mendorong reli jangka sangat pendek.

Sementara itu, buyback jangka panjang sejak diumumkan dari RUPST tahun lalu masih berlangsung pada emiten besar seperti BMRI, ADRO, MEDC, dan TLKM. Buyback pada kelompok ini lebih berfungsi sebagai penyangga harga saham secara struktural, bukan sebagai katalis reli cepat.

Perlu dicatat, ketika suatu perusahaan mengumumkan rencana buyback, bukan berarti saham akan langsung dibeli secara agresif dalam waktu singkat. Emiten memiliki periode tertentu untuk mengeksekusi buyback tersebut, sehingga pembelian bisa dilakukan bertahap menyesuaikan kondisi pasar, likuiditas, serta pergerakan harga saham.

Selain itu, alokasi dana buyback yang diumumkan di awal juga belum tentu dihabiskan seluruhnya. 

Dalam praktiknya, perusahaan bisa saja hanya menggunakan sebagian dana jika harga saham sudah dianggap wajar. Sebaliknya, alokasi buyback juga bisa ditambah apabila manajemen menilai valuasi saham masih menarik atau kondisi pasar masih bergejolak, selama tetap sesuai dengan ketentuan dan persetujuan pemegang saham.

Pada prinsipnya, baik perusahaan maupun kita sebagai investor ritel punya pola pikir saham, suka beli saham di harga murah atau paling tidak ketika harga masih berada di fase akumulasi. 

Ketika harga sudah naik kencang tentu perusahaan lebih menahan diri untuk beli saham agresif, meskipun itu masih di periode buyback. Meski begitu, ada pengecualian kalau perusahaan bisa saja beli di pasar nego. 

Strategi Bijak ketika Saham Dalam Periode Buyback

Langkah pertama adalah selektif. Tidak semua saham yang mengumumkan buyback otomatis menarik untuk dibeli.

Buyback hanyalah salah satu sinyal kepercayaan manajemen, bukan jaminan harga saham akan langsung bergerak naik. Investor tetap perlu memilah emiten mana yang buyback-nya relevan dengan kondisi saham saat ini.

Langkah kedua adalah cek teknikal harga saham. Jika harga sudah berada di area tinggi atau mendekati resistance, sebaiknya tidak terburu-buru membeli meskipun ada momentum buyback.

Tunggu koreksi harga atau posisi yang lebih optimal agar risiko lebih terukur dan potensi imbal hasil lebih menarik. Buyback akan jauh lebih efektif ketika harga berada di area support atau fase konsolidasi.

Langkah ketiga adalah memahami skema buyback itu sendiri. Perhatikan buyback dilakukan di pasar reguler atau pasar negosiasi, berapa sisa dana yang masih tersedia, serta sisa waktu periode buyback.

Emiten dengan sisa dana besar dan waktu yang semakin mepet cenderung memiliki insentif lebih kuat untuk mengeksekusi pembelian saham, sehingga potensi support harga lebih terasa.

Langkah terakhir adalah cek fundamental perusahaan. Buyback yang sehat biasanya dilakukan oleh emiten dengan arus kas kuat, neraca yang solid, dan prospek bisnis yang jelas.

Buyback seharusnya menjadi pelengkap dari fundamental yang baik, bukan alat untuk menutupi kinerja yang sedang melemah.

Perlu digarisbawahi bahwa saham dalam periode buyback memang menarik karena ada potensi inflow langsung dari perusahaan ke sahamnya sendiri.

Namun, bukan berarti saham yang sedang buyback pasti langsung layak dibeli, dan bukan berarti saham yang sudah selesai buyback otomatis menjadi tidak menarik.

 Worth to Note

Pada akhirnya, setiap saham punya momennya, punya ceritanya, dan punya katalisnya masing-masing. Buyback adalah salah satu faktor pendukung, bukan satu-satunya alasan dalam pengambilan keputusan investasi.

Dapatkan Insight Saham hingga Diskusi serta Konsultasi Bersama hampir 1.000 Investor Lainnya di Mikirsaham

Yuk join dengan Mikirsaham sekarang untuk bisa dapatkan benefit ini semua:

  • Stockpick investing (dividend, value, growth, contrarian) yang di-update setiap bulan (terbarunya akan diseleksi terbaik maksimal 5 masing-masing strategi dengan analisis yang komprehensif)
  • Stock Ideas (memberikan gambaran besar saham-saham yang menarik, tapi tidak termasuk stockpick)
  • Stockpicking swing trade mingguan (khusus member mikirsaham elite jika kuota masih tersedia)
  • Insight saham terkini serta action-nya
  • Update porto founder
  • IPO dan Corporate Action Digest
  • Event online bulanan
  • Grup Diskusi Saham

Join ke Member Mikirsaham Pro sekarang juga dengan klik link di sini

Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini

💡
Dapatkan Tools Analisis Saham Paling Cocok Untuk Investor Ritel serta Pilihan Saham Indonesia hingga AS dengan AI bersama Investing Pro. Dapatkan Promo Spesial Dari Mikirduit dengan Klik di sini