Tekanan Pasar Saham Akibat Perang AS-Iran, Ini 4 Saham Bluechip yang Bisa Dilirik

Saat perang memicu volatilitas, saham blue chip pun bisa terguncang. Namun dengan fundamental yang kuat, koreksi tersebut bisa menjadi peluang akumulasi. Mana saja blue chip yang menarik untuk diburu?

saham yang lagi turun

Mikirduit -  Gejolak perang bisa membuat saham blue chip ikut berfluktuasi. Namun, karena didukung kinerja dan fundamental yang solid, penurunan harga justru bisa menjadi kesempatan emas untuk masuk. Jadi, saham blue chip apa yang patut masuk radar investor?

Highlight

  • Tekanan geopolitik akibat serang AS dan Israel melawan Iran masih panas sampai perdagangan 2 Maret 2026 membuat IHSG koreksi.
  • Namun, koreksi membuka peluang saham bluechip kembali ke zona murah yang menarik untuk diakumulasi lagi.
  • Untuk diskusi saham secara lengkap, pilihan saham bulanan, dan insight komprehensif untuk member, kamu bisa join di Mikirsaham dengan klik link di sini.

Kronologi Perang AS-Israel Vs Iran dan Update Terkini 

Pada 28 Februari 2026, Amerika Serikat (AS)  dan Israel melancarkan serangan militer besar secara bersamaan terhadap Iran. Operasi ini dinamai Operation Epic Fury oleh AS dan Roaring Lion oleh Israel. 

Target utamanya adalah menghancurkan program nuklir Iran, melumpuhkan kemampuan rudal balistik, melemahkan kekuatan angkatan laut, serta menggoyang stabilitas rezim Republik Islam Iran.

Serangan terjadi setelah perundingan nuklir di Jenewa gagal total, menyusul penolakan Iran untuk membongkar fasilitas nuklir utama dan menghentikan pengayaan uranium. 

Sejumlah kota strategis seperti Tehran, Isfahan, Natanz, Fordow, Qom, dan Tabriz menjadi sasaran. Beberapa pejabat tinggi Iran dilaporkan tewas, termasuk Pemimpin Tertinggi dan komandan militer penting. 

Iran membalas dengan meluncurkan ratusan rudal balistik dan drone ke wilayah Israel serta pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk. Serangan balasan tersebut menimbulkan korban sipil dan memicu penutupan ruang udara di sejumlah negara, sementara harga minyak dunia melonjak tajam.

Memasuki 1 Maret 2026, serangan lanjutan masih berlangsung dengan target fasilitas militer dan sistem persenjataan Iran. Tiga tentara Amerika Serikat dilaporkan tewas di Kuwait, menjadi korban pertama dari pihak AS. 

Iran memperluas serangan ke berbagai titik di kawasan Timur Tengah, termasuk Irak dan Yordania, serta mengancam jalur pelayaran global dengan klaim penutupan Selat Hormuz. 

Hingga 2 Maret 2026 pagi, situasi tetap memanas dengan intensitas serangan tinggi, pertahanan udara aktif di banyak wilayah, dan keterlibatan kelompok proksi yang meningkatkan risiko eskalasi regional.

Di tengah konflik yang masih berlangsung, Presiden AS, Donald Trump menyatakan kesediaannya untuk membuka jalur negosiasi dengan kepemimpinan baru Iran setelah wafatnya Ayatollah Ali Khamenei. 

Meski belum ada konfirmasi resmi dari Teheran terkait permintaan perundingan tersebut, pernyataan ini dipandang sebagai peluang diplomatik di tengah tekanan militer yang terus berlangsung. 

Kesediaan Washington untuk kembali ke meja perundingan memberi harapan bahwa konflik tidak akan berkepanjangan, sekaligus menjadi sinyal bahwa opsi diplomasi masih terbuka di tengah eskalasi yang tinggi.

Bagaimana Respon IHSG? 

Respon pasar sampai perdagangan sesi pertama pada Senin (2/3/2026) terpantau koreksi kisaran 1 persen. Gejolak perang memang menjadi pemicu utama gerak pasar yang masih di zona merah, tetapi volatilitas pasar terkendali, tidak sekencang waktu MSCI Crash. 

Kondisi ini mengindikasikan bahwa pelaku pasar mulai memposisikan diri secara lebih terukur. 

Alih-alih melakukan panic selling, investor cenderung melakukan rebalancing portofolio dan selektif memilih sektor yang dinilai lebih defensif atau diuntungkan oleh situasi geopolitik. Saham berbasis komoditas seperti energi dan emas relatif lebih resilien, seiring lonjakan harga minyak dan meningkatnya permintaan aset safe haven.

Di sisi lain, saham dengan eksposur asing tinggi dan sektor yang sensitif terhadap stabilitas global masih menghadapi tekanan. 

Namun, tidak terlihat gelombang kepanikan besar yang memicu pembalikan arah secara ekstrem. Hal ini menunjukkan bahwa pasar masih menilai konflik sebagai risiko serius, tetapi belum sepenuhnya priced in sebagai krisis berkepanjangan.

Jika sinyal negosiasi benar-benar terealisasi dalam waktu dekat, potensi technical rebound tetap terbuka. 

Sebaliknya, apabila eskalasi meluas terutama terkait ancaman penutupan Selat Hormuz, tekanan terhadap pasar domestik dan global berpotensi kembali meningkat. 

Untuk sementara, pelaku pasar tampaknya memilih pendekatan wait and see sambil mencermati perkembangan geopolitik dan respons diplomatik selanjutnya.

Sambil menunggu arah pasar yang lebih jelas, momentum ini bisa dimanfaatkan untuk mengamati saham blue chip berkualitas. Fokus pada perusahaan dengan struktur keuangan sehat, valuasi yang belum mahal, serta prospek bisnis yang masih kuat. Berikut rangkuman saham blue chip yang layak masuk radar.

Saham SIDO 

Pertama, ada emiten consumer sekaligus farmasi yaitu PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO). 

Menurut kami emiten ini menarik seiring kinerja keuangannya yang solid sepanjang tahun lalu, struktur neraca juga baik karena tidak punya utang berbunga sama sekali, bahan baku nya juga lebih banyak dari rempah-rempah lokal untuk membuat jamu/obat-obatan ketimbang impor. 

Pada tahun buku 2025, SIDO mencatatkan kenaikan penjualan dan laba. Total penjualan tumbuh sekitar 4 persen dibanding tahun sebelumnya menjadi Rp4,07 triliun. Pendapatan terbesar masih berasal dari produk jamu herbal dan suplemen sebesar Rp2,49 triliun, disusul makanan dan minuman Rp1,45 triliun, serta produk farmasi sekitar Rp128 miliar.

Di sisi lain, biaya produksi juga ikut naik hampir 6 persen menjadi Rp1,71 triliun. Meski begitu, laba kotor tetap meningkat sekitar 3 persen menjadi Rp2,36 triliun.

Pada akhirnya, laba bersih yang menjadi hak pemegang saham naik hampir 5 persen menjadi Rp1,22 triliun. Laba per saham juga ikut meningkat menjadi Rp41,36 per lembar. Secara keseluruhan, kinerja SIDO di 2025 masih menunjukkan pertumbuhan yang stabil meskipun biaya ikut naik.

PR di saham SIDO ini hanya geraknya yang sideways panjang dan cenderung lambat, karena di satu sisi valuasi memang tidak terlalu murah, tetapi sudah berada dekat harga wajarnya, tercermin dari PBV terkini di 5,14 kali dibandingkan rata-rata 10 tahun di 5,43 kali. 

Kami menggunakan periode pembanding 10 tahun, bukan lima tahun, karena tahun 2020 merupakan masa pandemi Covid-19 yang bersifat anomali. Dengan rentang waktu yang lebih panjang, pergerakan harga dinilai lebih mampu merefleksikan dinamika pasar yang lebih kompleks dan beragam siklus ekonomi.

Israel-AS Serang Iran Habis-habisan Bikin Khawatir Market Jeblok, Apa yang Bisa Dilakukan Investor Saham?
Perang timur tengah makin panas setelah Amerika Serikat dan Israel memborbardir Iran. Lalu, bagaimana strategi investasi saham yang oke saat kondisi perang ini?

Saham BBNI

Emiten kedua ada perbankan pelat merah, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) yang menarik perhatian kami karena potensi dividen yield ciamik. 

Sebagai catatan dulu, BBNI ini historisnya tidak pernah membagikan dividen interim. Artinya, pada tahun ini, dividen yang bakal dibagikan adalah dividen full untuk tahun buku 2025 lalu. 

Meskipun kinerja tahun lalu mengalami perlambatan, tetapi penurunan harga telah membuka peluang yield dividen lebih tinggi. 

Kami mengasumsikan potensi dividen per lembar yang lebih konservatif di kisaran Rp350, akan mengimplikasikan yield sekitar 8,03 persen dari harga saham Rp4.360 per lembar. 

Selain itu, perbaikan kinerja fundamental seharusnya akan terasa pada tahun ini karena suku bunga sudah turun sebanyak lima kali pada 2025 lalu. 

Prospek pemulihan ekonomi dan minat kredit juga diharapkan lebih ekspansif ke depan. Pada 2026 laba diproyeksi akan bangkit menjadi Rp22,28 triliun dari realisasi 2025 sebesar Rp20,04 triliun. 

Saham BRIS 

Berikutnya masih dari kelompok bank pelat merah, yaitu PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS). 

Saham ini menarik untuk dicermati karena prospek pertumbuhannya dinilai berpotensi lebih agresif tahun ini setelah resmi menjadi persero. Apalagi, sepanjang tahun lalu kinerjanya masih menunjukkan pertumbuhan yang solid.

Setelah melakukan spin off dari BMRI, BRIS tetap mencatatkan tren kinerja yang sehat. Pendapatan bagi hasil bersih atau NII tumbuh 9,92 persen secara tahunan, sementara laba bersih meningkat 8,02 persen. Hal ini mencerminkan ekspansi pembiayaan syariah yang masih berjalan kuat, baik dari sisi pembiayaan ritel, UMKM, maupun korporasi berbasis prinsip syariah.

Dari sisi risiko, biaya pencadangan memang naik 24,45 persen dengan rasio pembiayaan bermasalah atau NPF gross di level 1,81 persen. Meski ada kenaikan seiring ekspansi, level tersebut masih tergolong terjaga. 

Struktur pendanaan juga cukup solid, terlihat dari rasio CASA 61,62 persen dan CAR di level 22 persen, yang menunjukkan permodalan kuat untuk mendukung pertumbuhan lanjutan.

Dari sisi prospek, industri perbankan syariah di Indonesia masih memiliki ruang pertumbuhan yang besar. 

Pangsa pasar perbankan syariah secara nasional masih relatif kecil dibanding total industri perbankan, sehingga potensi ekspansi jangka panjang masih terbuka lebar. 

Dengan populasi muslim terbesar di dunia dan meningkatnya kesadaran terhadap produk keuangan berbasis syariah, BRIS berada pada posisi strategis untuk menangkap peluang tersebut.

 Jika ekspansi pembiayaan tetap terjaga dengan kualitas aset yang stabil, pertumbuhan BRIS berpotensi berlanjut secara berkelanjutan. 

Secara teknikal, saham BRIS pada 2 Maret 2026 mengalami tekanan berat dengan koreksi tiga persen lebih. Kami nilai, pergerakannya akan cenderung aman selama tidak lanjut turun ke bawah area 2000 lagi. 

Saat ini terpantau sedang menguji pembentukan higher low baru, jadi menarik untuk area buy on weakness lagi. 

Saham SMGR

Terakhir ada saham SMGR yang sudah pernah kami ulas sejak November 2025 karena prospeknya potensial dilirik Danantara, lantaran valuasi sudah sangat murah dan harga sudah jatuh 70 persen dalam lima tahun. 

Prospek permintaan semen tahun ini berpotensi tumbuh positif seiring mulai berjalannya sejumlah proyek strategis di berbagai daerah. Program Koperasi Merah Putih yang sudah berjalan, target pembangunan tiga juta rumah, serta proyek konstruksi lain yang sempat tertunda akibat tingginya suku bunga tahun lalu, kini mulai kembali bergulir.

Dengan kembali aktifnya proyek-proyek tersebut, kebutuhan material bangunan, termasuk semen, diperkirakan meningkat secara bertahap. Jika realisasi proyek berjalan sesuai rencana, kondisi ini dapat menjadi katalis yang mendukung pemulihan volume penjualan di sektor semen sepanjang tahun ini.

Secara teknikal, saham SMGR mulai menunjukkan tanda keluar dari fase sideways panjang yang sebelumnya membatasi pergerakan harga. Meski tekanan akibat sentimen perang membuat harga kembali terkoreksi ke area konsolidasi tersebut, kondisi ini justru bisa membuka peluang akumulasi di area support.

Tantangannya, saham ini memang lebih cocok untuk investor dengan karakter sabar. Pergerakannya cenderung tidak agresif dan membutuhkan waktu hingga katalis fundamentalnya benar-benar terealisasi dalam kinerja. Jadi, strategi hold dengan disiplin di area beli yang terukur menjadi kunci jika ingin memanfaatkan potensi pemulihan jangka menengah.

Jadi saham bluechip mana yang jadi pilihan kamu?

Mikirduit Lagi Ada Diskon Mulai dari Rp200.000 untuk Join Mikirsaham Nih!

Benefitnya mencakup:

  • Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
  • Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
  • Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
  • Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US, Aksi korporasi, dan IPO
  • Event online bulanan
  • Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
  • Hingga konsultasi private

Untuk detail kamu bisa baca lebih detail terkait benefit dengan klik di sini

Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini

💡
Dapatkan Tools Analisis Saham Paling Cocok Untuk Investor Ritel serta Pilihan Saham Indonesia hingga AS dengan AI bersama Investing Pro. Dapatkan Promo Spesial Dari Mikirduit dengan Klik di sini