Saham UNVR Buka Peluang Jual Buavita, Mau Jadi Apa Saham Ini?
Aksi divestasi kembali dilakukan UNVR, setelah sebelumnya jualan bisnis es krim dan teh Sariwangi. Terbaru, perusahaan ini mau melepas Buavita, produk minuman jus kemasan. Kira-kira gimana dampaknya? bisa jadi untung atau buntung?
Mikirduit - UNVR rasa-nya masih belum beres berbenah untuk memfokuskan segmen bisnisnya. Kali ini Buavita mau dilepas setelah sebelumnya teh Sariwangi, es krim, dan Blueband dijual. Kira-kira langkah ini benar efektif atau malah sebailknya?
Key takeaways
- Mulai dari Blue Band (2018), es krim (2024–2025), hingga Sariwangi (2026), dan kini berlanjut ke Buavita, UNVR fokus keluar dari bisnis makanan minuman dan mengejar efisiensi, serta margin lebih tinggi.
- Divestasi terbukti jadi booster laba dan meningkatkan peluang bagi dividen sampai 100%, tetapi ini sifatnya cuma sekali.
- Risiko pasar skin care sudah masuk red ocean alias jenuh. PR ke depan, tentu akan kembali lagi pada prospek pertumbuhan bisnis riilnya, bukan cuma divestasi aset saja.
- Untuk diskusi saham secara lengkap, pilihan saham bulanan, dan insight komprehensif untuk member, kamu bisa join di Mikirsaham dengan klik link di sini.
Historis Divestasi UNVR
UNVR dikabarkan mau mengambil langkah divestasi bisnis lagi. Kali ini datang dari Buavita, bisnis produk minuman jus kemasan.
Mengutip DealStreetAsia, dalam proses ini UBS disebut-sebut berpotensi menjadi penasihat transaksi.
Bahkan sebelumnya sempat ada wacana menggabungkan penjualan Buavita dengan SariWangi dalam satu paket, meski akhirnya diputuskan berjalan terpisah karena perbedaan kategori produk dan target pembeli.
Kalau ditarik ke belakang, rencana melepas Buavita ini bukan langkah yang tiba-tiba. Dalam beberapa tahun terakhir, UNVR memang cukup aktif merapikan portofolio bisnisnya, terutama di lini consumer goods, khususnya makanan minuman yang kontribusinya relatif kecil atau pertumbuhannya terbatas.
Berikut rangkaian divestasi yang sudah dilakukan:
Divestasi Blue Band (2018)
Aksi divestasi UNVR sebenarnya sudah dimulai sejak 2018, saat melepas bisnis margarin Blue Band ke Kohlberg Kravis Roberts melalui entitas Upfield dengan nilai sekitar Rp2,92 triliun.
Langkah ini merupakan bagian dari strategi global Unilever yang lebih dulu menjual bisnis spreads secara global pada akhir 2017.
Dari sisi kontribusi, bisnis ini memang bukan tulang punggung UNVR:
- Hanya sekitar 2,8 persen dari total pendapatan
- Dampak ke laba bersih sekitar 3 persen.
Menariknya, setelah divestasi ini, UNVR membagikan dividen jumbo hingga sekitar Rp9 triliun.
Namun, secara historis, langkah ini tidak otomatis membuat bisnis UNVR tumbuh lebih kencang setelahnya.
Justru, pada 2018 itu menjadi peak dari harga saham UNVR yang sempat mencapai level tertinggi secara intraday pada Rp11.625 per saham. Setelah itu, saham UNVR downtrend lebih dari lima tahun sampai saat ini.
Aset Produksi Teh Lipton (2020-2022)
UNVR juga melepas beberapa bisnis tehnya dengan brand Lipton dan Tazo pada 2020. Bisnis teh tersebut dijual ke CVC Capital Partners senilai 5,1 miliar dolar AS. Alasannya, perseroan berencana mencari ruang pertumbuhan yang lebih agresif. Adapun, kala itu beberapa bisnis teh yang tersisa ada di area India, Nepal, dan Indonesia.
Efeknya ke UNVR di Indonesia adalah adanya penjualan aset di unit bisnis teh-nya senilai Rp84,6 miliar yang dilepas.
Namun, dampak dari penjualan bisnis teh Lipton ini juga tidak terlalu signifikan mendorong pertumbuhan kinerja keuangan UNVR. Pasalnya, porsi bisnis teh Lipton ke bisnis teh UNVR di Indonesia tidak begitu signifikan.
Es Krim Magnum (2024-2025)
Setelah jeda beberapa tahun, UNVR kembali jualan bisnis makanan minuman lagi pada 2025 silam yaitu bisnis es krim PT The Magnum Ice Cream Indonesia dengan nilai sekitar Rp7 triliun.
Transaksi penjualan waktu itu mencakup aset tetap Rp2,55 triliun, dengan nilai buku Rp1,99 triliun dan persediaan sekitar Rp172 miliar
Kalau dilihat dari kontribusi, bisnis es krim sebenarnya jauh lebih signifikan dibanding Blue Band :
- Sekitar 9,5 persen dari total pendapatan
- Pendapatan sekitar Rp3,6 triliun
- Laba bersih sekitar Rp264 miliar
Tapi di sisi lain, ada beberapa “PR” dari bisnis ini: yaitu margin-nya terus turun dari 11 persen menjadi 7 persen, butuh capex tinggi sekitar 8 persen dari penjualan, sementara pertumbuhannya stagnan, bahkan cenderung turun dalam beberapa tahun.
Karena itu, pelepasan bisnis es krim lebih ke arah efisiensi, UNVR ingin fokus ke bisnis inti yang lebih ringan dan punya margin lebih menarik.
Sama seperti kasus Blue Band, hasil penjualan ini juga dikembalikan ke pemegang saham dalam bentuk dividen pada 2025 dengan payout ratio 100%, alias seluruh laba bersih di bagi ke investor.

Teh Sariwangi (2026)
Nah yang paling baru pada kuartal pertama tahun ini, UNVR baru saja menjual teh Sariwangi ke grup Djarum melalui PT Savorias Kreasi Rasa senilai Rp1,5 triliun. Catatannya, Savoria ini termasuk bagian dari Grup Djarum.
Dari sisi kontribusi ke perusahaan bisnis teh itu tidak terlalu banyak berkontribusi, ke aset hanya menyumbang 2,5 persen, ke pendapatan 2,7 persen, sementara ke laba bersih sebanyak 3,1 persen.
Artinya, meskipun brand-nya kuat secara historis, secara finansial porsinya tidak terlalu besar terhadap keseluruhan bisnis UNVR.
Untuk efek dari pelepasan ini karena masih baru, efeknya belum kelihatan mau digunakan untuk apa, tetapi yang utama efisiensi bisnis itu sudah pasti.
Berikutnya, kalau UNVR masih berkomitmen pada dividen, tak menutup kemungkinan tren bagi-bagi dividen jumbo masih bisa bergulir pada tahun depan.
Profitabilitas dan Dividen UNVR
Menilik lebih jauh ke kinerja keuangan, efek dari divestasi itu terlihat jelas dari efisiensi yang langsung tercermin ke margin laba bersih (NPM) UNVR.
Lihat di 2018, setelah jualan Blue Band NPM langsung naik jadi 21 persenan dari tahun sebelumnya 11 persenan.
Lalu pada 2025 ketika sudah selesai jualan es krim, melonjak signifikan ke 23 persenan, ini menandai NPM tertinggi, setidaknya hampir dua dekade.
Kinerja 2025 UNVR mencerminkan fase kebangkitan, terutama dari sisi efisiensi. Laba bersih melonjak signifikan menjadi Rp7,64 triliun, dari sebelumnya Rp3,36 triliun, yang sempat menjadi level terendah sejak 2010.
UNVR itu juga termasuk perusahaan yang royal bagi dividen. Dalam satu dekade terakhir perusahaan ini bahkan punya tradisi alokasi dividen dari laba itu mencapai 100%.
Pernah juga lebih, tercatat pada 2023 dividen payout-nya mencapai 111 persen. Artinya, mereka mengeluarkan kas-nya untuk menambah seluruh laba yang dihasilkan tahun sebelumnya sebagai dividen untuk investor.
Hal ini kita pandang menarik sebagai momentum dividen investing, tetapi ke depan investor tetap lebih suka bisnis yang bertumbuh, menghasilkan laba positif. Bukan hanya sekadar memberikan dividen dari aksi jual bisnis yang sudah “mature” untuk bersih-bersih.
Arah bisnis UNVR kalau dilihat sekarang akan lebih fokus ke Beauty & Well-being serta Personal Care yang marginnya jauh lebih tebal.
Seiring dengan divestasi beberapa tahun terakhir ini, efisiensi ke depan harusnya akan lebih terfokus pada beberapa merk saja, sehingga biaya iklan dan distribusi bisa lebih efektif.
Namun, di sisi lain, risiko di segmen ini juga tergolong tinggi. Bisnis skincare saat ini sudah memasuki fase red ocean, dengan tingkat persaingan yang sangat ketat. Selain itu, preferensi konsumen cenderung cepat berubah, terutama pada produk dengan basis harga yang relatif terjangkau.
Di kondisi ekonomi lesu dengan daya beli yang dinilai belum pulih, konsumen cenderung mudah berganti merk ke yang lebih murah, apalagi jika diikuti dengan banyak promo.
Kesimpulan
Ke depan, jika jualan Buavita ini membuahkan hasil, setidaknya pada tahun ini, tentu akan memberikan pertumbuhan positif bagi laba bersih.
Pasca jualan teh Sariwangi saja, laba bersih kuartal I/2026 UNVR sudah bisa diamankan Rp1,5 triliun atau setara 21 persen pertumbuhan secara tahunan dari kuartal 2025.
Saat ini kami belum mendapatkan info pasti berapa nantinya Buavita mau dijual.
Namun, melihat Buavita secara konsisten memegang predikat #1 TOP Brand Award dalam kategori Ready-to-Drink (RTD) Juice di Indonesia. Status sebagai "market leader"juga biasanya memberikan multiplier (pengali) valuasi yang lebih tinggi (sekitar 2x–3x dari pendapatan tahunan).
Jadi, estimasi valuasi bisnis Buavita di Indonesia saat ini berada di kisaran Rp2,5 triliun hingga Rp4 triliun.
Pakai asumsi terendah di Rp2,5 triliun, kalau ini bisa diamankan tahun ini, maka dengan divestasi saja. Total Rp4 trliun dari jualan Buavita ditambah Sariwangi sudah bisa mengamankan lebih dari 50 persen dari laba bersih 2025.
PR-nya adalah bagaimana bisnis utama yang berkontribusi besar saat ini bisa menutup sisanya dan perlu dipahami divestasi itu sifatnya sekali saja.
Selama lima tahun lebih, kita melihat bahwa pada 2018 ketika Blue Band dijual yang terjadi malah itu peak-nya dan harga saham UNVR turun terus, setelah itu laba justru terjun bebas sampai pada 2024 mencatat laba terendah sejak 2010.
Baru pada 2025 setelah jualan es krim laba bangkit lagi ke angka Rp7 triliunan. Setelah ini apakah laba akan terus tumbuh positif, itulah yang harus difokuskan, bukan hanya dari sisi efisiensi dan pembagian dividen selalu 100%.
Mungkin ada saatnya dividen dikurangi seharusnya tidak apa-apa, karena perusahaan juga membutuhkan cash untuk ekspansi ke depan.
Kami melihat gerak harga saham UNVR masih akan cenderung sideways kisaran 1000-2000 dalam 2 tahunan ke depan. Namun, untuk potensi dividen play, UNVR bisa menjadi satu pilihan yang menarik lagi untuk tahun depan.

Dapatkan Analisis dan Diskusi Komprehensif, serta Screeningan Saham yang Menarik untuk Trading hingga Jangka Panjang
Kamu bisa dapatkan semuanya di Mikirsaham.com, join sekarang dan dapatkan deretan benefit yang membantumu investasi di saham seperti:
- Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
- Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
- Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
- Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US,
- Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
- Hingga konsultasi private dengan founder kami
Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini
Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini