Membedah Pendorong Kinerja Saham BUMI yang Meroket, Bisa Jadi Momentum Positif?
BUMI mencatat pertumbuhan laba impresif sepanjang tahun lalu, membuka peluang bagi dividen untuk pertama kali di 2026. Kira-kira seberapa menarik dan gimana prospeknya ke depan?
Mikirduit - Kinerja laba BUMI yang melonjak di tahun lalu membuka jalan bagi potensi dividen perdana pada 2026. Tapi, apakah ini cukup menarik bagi investor dan bagaimana outlook ke depannya?
Key Takeaways
- BUMI bersiap membagikan dividen untuk pertama kalinya dalam sejarah setelah ekuitas berbalik positif dan laba tumbuh impresif pada 2025.
- Kontribusi laba banyak dipengaruhi efisiensi dan durian runtuh dari BRMS serta DEWA.
- Prospek bisnis inti batu bara diprediksi bisa tumbuh positif pada paruh pertama 2026 seiring kenaikan harga batu bara global.
- Untuk diskusi saham secara lengkap, pilihan saham bulanan, dan insight komprehensif untuk member, kamu bisa join di Mikirsaham dengan klik link di sini.
Review Kinerja Keuangan BUMI di 2025
Emiten batu bara dan mineral milik grup Bakrie x Salim, Bumi Resources (BUMI), mencatat kinerja yang cukup solid sepanjang tahun 2025, dengan perbaikan yang sudah mulai terlihat sejak kuartal terakhir.
Jika melihat lebih dulu ke kuartal IV/2025, BUMI berhasil mencatatkan turnaround secara tahunan, dengan laba bersih sebesar US$52 juta, berbalik dari posisi rugi US$55 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Perbaikan di akhir tahun ini kemudian mendorong akumulasi kinerja sepanjang 2025, di mana BUMI membukukan laba bersih sekitar US$81 juta atau Rp1,33 triliun, naik 20 persen dibandingkan tahun 2024.
Dari sisi top line, pertumbuhan sebenarnya relatif terbatas. BUMI mencatat pendapatan sekitar US$1,42 miliar, atau setara kurang lebih Rp23,47 triliun. Angka ini naik 5 persen dibanding tahun sebelumnya.
Laba yang tumbuh lebih tinggi dibandingkan pendapatan mengindikasikan bahwa peningkatan kinerja bukan hanya berasal dari kenaikan penjualan, melainkan dari perbaikan operasional dan efisiensi biaya.
Hal ini terlihat jelas pada level laba kotor. Dengan beban pokok pendapatan yang berhasil ditekan, laba kotor BUMI meningkat signifikan menjadi sekitar US$249 juta atau sekitar Rp4,1 triliun. Artinya, meskipun harga jual batu bara cenderung melemah, perusahaan mampu menjaga profitabilitas melalui efisiensi.
Dari sisi operasional, perbaikan margin ini ditopang oleh dua faktor utama.
Pertama, kontribusi dari bisnis emas yang semakin besar berkat kenaikan harga jual emas yang cukup tinggi pada tahun lalu.
Kedua, efisiensi di segmen batu bara.
Meskipun harga jual rata-rata (Average Sellling Price/ASP) batu bara turun pada 2025, tetapi volume penjualan justru meningkat, terutama dari PT Arutmin Indonesia.
Di sisi lain, biaya operasional juga lebih terkendali, tercermin dari penurunan beban royalti dan stripping ratio yang lebih rendah, menunjukkan aktivitas penambangan menjadi semakin efisien.
Sebagai catatan stripping ratio itu menunjukkan seberapa banyak tanah atau lapisan penutup yang harus dipindahkan untuk mendapatkan batu bara.
Misalnya, jika stripping ratio sebesar 8 kali, artinya perlu memindahkan 8 ton tanah untuk memperoleh 1 ton batu bara.
Semakin tinggi angkanya, biaya penambangan akan semakin besar karena pekerjaan yang dilakukan lebih banyak, sedangkan semakin rendah stripping ratio menandakan operasional yang lebih efisien dan biaya yang lebih rendah.
BUMI Ketiban Durian Runtuh BRMS dan DEWA
Kita tarik lebih dalam, kinerja solid BUMI ini juga berasal dari kontribusi besar entitas kunci di ekosistemnya yaitu BRMS sebagai "mesin uang" baru di sektor mineral dan DEWA sebagai penopang efisiensi operasional.
Dari sisi BRMS, kontribusi datang melalui konsolidasi sebagai entitas anak.
Lonjakan laba BRMS yang hampir dua kali lipat dalam setahun didorong oleh kenaikan harga emas dan peningkatan produksi, sehingga memberikan bantalan margin yang lebih tebal dibanding bisnis batu bara.
Ini menjadi penting di tengah kondisi harga batu bara yang cenderung melemah, karena membantu menjaga profitabilitas BUMI tetap stabil. Seperti terlihat di bawah ini, margin BUMI pada kuartal IV/2025 serta secara akumulasi selama 12 bulan pada tahun lalu kompak tumbuh positif.
Sementara itu, kontribusi DEWA masuk sebagai afiliasi yang dapat mengoptimalkan biaya jasa pertambangan.
Secara struktur emiten ini bukan anak usaha langsung. Kepemilikan BUMI atas DEWA itu melalui Zurich Asset International dan Goldwave Capital, keduanya adalah pengendali dari emiten kontraktor itu.
Dalam laporan keuangan 2025, kontribusi DEWA dicatat sebagai investasi pada entitas asosiasi senilai US$ 31,87 juta, melesat signifikan dari laba tahun sebelumnya yang hanya sebesar US$ 164.510.
Kalau dirinci, hanya dalam periode kuartal terakhir 2025, laba entitas asosiasi dan ventura bersama yang dikontribusi oleh DEWA itu mencapai US$ 30 juta, naik signifikan dari kuartal sebelumnya yang hanya US$ 1 juta saja.
Namun, perlu dicatat lonjakan itu hanya terjadi one off alias sekali saja karena pencatatan laba di atas kertas atas pembelian aset yang lebih murah dari nilai aslinya, bukan berasal dari operasional rutin penambangan batu bara.
Sebagai catatan, DEWA itu mengakuisisi Gayo Mineral Resources (GMR) dari anak usahanya sendiri Mahadaya Imajinasi Nusantara (MIN) senilai Rp844 miliar, padahal harga asetnya sekitar Rp6,7 triliun, di sinilah selisih yang dicatat menjadi negative goodwill sebesar Rp4,5 triliun, yang kemudian mendongkrak laba DEWA naik 78 kali lipat dalam setahun.
BUMI Dapat Cuan dari Penyesuaian investasi Akuisisi Tambang Australia
Selaini tu, BUMI juga mencatat tambahan keuntungan sekitar US$9,6 juta dari penyesuaian nilai investasi setelah mengakuisisi perusahaan tambang emas di Australia.
Keuntungan ini membantu menutup sebagian dampak dari denda pajak sekitar US$7 juta yang muncul pada akhir 2025.
Namun di sisi lain, total beban pajak dan bagi hasil justru meningkat cukup tajam, terutama karena pajak dari entitas anak yang lebih tinggi.
Sebagai pemegang IUPK (Izin Usaha Pertambangan Khusus), BUMI memiliki kewajiban bagi hasil sebesar 10% dari laba bersih kepada Pemerintah (Pusat 4% dan Daerah 6%).

Harapan Dividen Pertama Kali dan Prospeknya
Terakhir, yang menarik dari BUMI sekarang setelah akhirnya mencatat lonjakan laba impresif adalah perbaikan struktur keuangan yang semakin sehat, memungkinkannya untuk membagikan dividen pertama kali dalam sejarah.
Asal tahu saja, BUMI juga sudah menyelesaikan kuasi reorganisasi sejak akhri 2024 lalu. Langkah itu membuat akumulasi kerugian lama sudah dibersihkan dari laporan keuangan, sehingga ekuitas jadi lebih kuat.
Namun, jika menggunakan asumsi yang cukup konservatif, misalnya sekitar 20 persen laba dialokasikan sebagai dividen, maka secara nominal angkanya masih akan sangat kecil, kemungkinan di bawah Rp1 per saham. Dengan earning per share (EPS) tahun 2025 yang berada di level Rp3,66, potensi dividend yield juga masih relatif rendah dan belum terlalu menarik secara angka.
Meski demikian, pembagian dividen perdana ini tetap menjadi sinyal positif bagi pasar. Langkah ini menunjukkan bahwa BUMI mulai memasuki fase yang lebih stabil secara finansial, sekaligus menandai perubahan arah perusahaan dari sekadar bertahan menuju tahap penciptaan nilai bagi pemegang saham
Selain soal dividen, yang menarik sekarang adalah prospek pertumbuhan dari bisnis batu bara yang dinilai akan impresif pada paruh pertama 2026, mengingat harga batu bara global saja dalam setahun sudah terbang lebih dari 35 persen.

Kenaikan harga batu bara global tentu akan berpengaruh pada peningkatan harga jual rata-rata batu bara BUMI.
Manajemen BUMI pada 2026 menargetkan volume penjualan batu bara sebesar 76 hingga 78 juta ton, atau tumbuh sekitar 2 sampai 5 persen dibanding realisasi tahun 2025.
Ke depan, prospek pertumbuhan dari bisnis inti batu bara yang potensi naik, ditambah efisiensi operasional yang terus lanjut.
Di saat yang sama, kontribusi dari segmen emas melalui BRMS juga akan menjadi pendorong tambahan, sehingga secara keseluruhan dapat menjadi motor pertumbuhan kinerja perusahaan.
Namun di balik prospek yang mulai membaik, masih ada beberapa PR yang perlu diperhatikan oleh BUMI.
Pertama, kualitas laba masih perlu dicermati karena sebagian ditopang faktor non-rutin, terutama dari kontribusi DEWA yang bersifat satu kali. Tanpa ini, pertumbuhan laba sebenarnya tidak setinggi yang terlihat.
Kedua, bisnis batu bara yang masih menjadi tulang punggung tetap menghadapi risiko dari fluktuasi harga global yang cenderung siklikal.
Ketiga, meskipun BRMS mulai menjadi penopang baru, kontribusinya masih belum cukup besar untuk sepenuhnya mengimbangi volatilitas batu bara.
Artinya, ke depan tantangan utama BUMI adalah memastikan pertumbuhan benar-benar berasal dari kinerja operasional yang berkelanjutan, bukan dari faktor sementara.
Butuh Insight, Pilihan Saham serta Analisis Peluang dan Risiko, dan Konsultasi dengan Ahlinya?
Kamu bisa dapatkan semuanya di Mikirsaham.com, join sekarang dan dapatkan deretan benefit yang membantumu investasi di saham seperti:
- Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
- Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
- Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
- Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US, Aksi korporasi, dan IPO
- Event online bulanan
- Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
- Hingga konsultasi private dengan founder kami
Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini
Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini
