Purbaya Ngebet Ambil Alih PNM untuk Jadi Bank UMKM, Begini Nasib Saham BBRI

Purbaya mengaku sudah dapat persetujuan Danantara untuk ambil alih PNM dari BBRI. Rencananya, PNM mau dijadikan bank UMKM, lalu bagaimana nasib BBRI?

Purbaya mau ambil alih PNM dari BBRI

Mikirduit – Menteri Keuangan ngebet untuk ambil alih PT Permodalan Nasional Madani dari BBRI dan menjadikannya bank UMKM. Kalau begitu, bagaimana nasib BBRI yang merupakan holding ultra mikro?

Key Takeaways
  • Pelepasan PNM dari BBRI secara historis belum terlalu material ke kinerja konsolidasi BBRI karena kontribusi PNM masih di bawah 10 persen terhadap pendapatan dan hanya sekitar 2 persen terhadap laba bersih BBRI, tetapi risikonya bisa membesar jika porsi penyaluran KUR BBRI ikut beralih.
  • Agar PNM bisa menyalurkan seluruh alokasi KUR secara mandiri, perusahaan ini butuh tambahan modal inti sangat besar, sumber pendanaan murah, dan kapasitas jaringan yang jauh lebih kuat, sehingga transformasi PNM menjadi bank UMKM jumbo tidak mudah diwujudkan dalam waktu dekat.
  • Risiko utama bagi BBRI bukan hanya potensi berkurangnya porsi KUR, tetapi juga kemungkinan tekanan margin bila pendanaan PNM memakai skema channeling murah dari bank Himbara, sementara di saat yang sama BBRI justru bergerak ke model bank universal yang bisa mengurangi keunggulan khususnya di segmen mikro.
  • Untuk diskusi saham secara lengkap, pilihan saham bulanan, dan insight komprehensif untuk member, kamu bisa join di Mikirsaham dengan klik link di sini. 

Dalam rencana Purbaya, nantinya PNM akan menjadi salah satu Special Mission Vehicle (SMV) Kementerian keuangan seperti, PT Sarana Multi Infrastruktur atau Pusat Investasi Pemerintah.

Adapun, dari catatan Purbaya, pihaknya harus membayar subsidi bunga sekitar Rp40 triliun per tahun. Sehingga, jika PNM yang langsung menyalurkan KUR, pihaknya akan menjadikan dana pembayaran subsidi bunga itu sebagai suntikan modal untuk PNM setiap tahunnya.

Dengan begitu, Purbaya merasa bisa menjadikan PNM sebagai bank UMKM jumbo.

Lalu, dari kebijakan ini, apa dampak ke BBRI?

Memahami Kontribusi PNM Terhadap Kinerja BBRI

Jika melihat realisasi kinerja 2025, kontribusi PNM terhadap total bisnis anak usaha BBRI dari segi pendapatan sekitar 34,92 persen dari total pendapatan. Lalu, dari segi laba bersih sekitar 18 persen dari total laba entitas anak.

Untuk ke kinerja BBRI secara keseluruhan, porsi dari PNM di bawah 10 persen. Seperti, pendapatan hanya 8,79 persen, laba bersih hanya 2 persen dari total kinerja BBRI.

Sehingga jika melihat secara historis, dampak dilepasnya PNM dari BBRI tidak terlalu signifikan. Namun, yang jadi pertanyaan, jika PNM dilepas ke BBRI, apakah nantinya seluruh KUR akan disalurkan melalui PNM?

Jika melihat kinerja 2025, portofolio kredit mikro BBRI sebesar 50 persen berasal dari KUR senilai Rp235 triliun. Selain itu, dari program kredit Kupedes dan Briguna masing-masing Rp175 triliun dan Rp59 triliun. Total peminjam dengan KUR di BBRI mencapai 8 juta pihak, sedangkan untuk kredit UMKM non-KUR sekitar 5,3 juta pihak.

Artinya, jika KUR dilepas dari BBRI ada risiko perseroan mencatatkan perlambatan signifikan dari segi pertumbuhan kredit mikro.

Namun, untuk memproyeksikan hal tersebut, kita perlu memahami kapasitas dari PNM terlebih dulu.

Kapasitas PNM untuk Menyalurkan KUR

PNM bukanlah bank, melainkan perusahaan pembiayaan yang fokus di bisnis mikro. Lalu, dari mana PNM dapat funding untuk menyalurkan kredit?

Jawabannya dari obligasi hingga utang bank. Kami mencatat hingga 2025, PNM mencatatkan total dana  yang dihimpun dari utang bank dan lembaha keuangan, surat utang jangka menengah dan sukuk, utang obligasi, pinjaman pemerintah dan lembaga kredit luar negeri itu mencapai Rp39 triliun.

Dari situ, PNM menyalurkan kredit yang sampai akhir 2025 tercatat otustanding sekitar Rp44,74 triliun (nilai setelah pencadangan Rp3,74 triliun), serta pembiayaan modal sekitar Rp1,69 triliun (setelah dikurangi pencadangan Rp105 miliar).

Lalu, kami mencoba hitung secara kasar modal inti PNM dari total ekuitas Rp11,66 triliun menjadi Rp11,64 triliun. Dengan total penyaluran kredit Rp44 triliun dan aktiva tertimbang menurut risiko (ATMR) kredit diasumsikan 100 persen dari kredit, berarti CAR PNM sekitar 26,5 persen. 

Dengan menggunakan asumsi alokasi KUR di 2026 itu sekitar Rp308 triliun. Lalu, seluruh dana KUR harus disalurkan oleh PNM, berarti PNM membutuhkan suntikan modal khusus untuk modal inti (bukan untuk penyaluran kredit) sekitar Rp69,9 triliun.

Lalu, apakah berarti match dengan rencana Purbaya suntik Rp40 triliun per tahun hasil biaya subsidi bunga kredit? Jika menggunakan satu indikator saja, bisa dilakukan di 2028. 

Namun, catatannya, dalam skema penyaluran KUR saat ini, dengan pemerintah memberikan subsidi sekitar 12 persen (asumsi bunga kredit UMKM 18 persen), pemerintah tinggal santai tanpa pusing menghimpun dana besar untuk penyaluran kreditnya. Soalnya, dana penyaluran KUR menggunakan dana pihak ketiga bank existing.

Jika nantinya PNM mau dijadikan bank, berarti dia harus siap menghimpun dana untuk modal penyaluran kredit.

Masalahnya, jika PNM mencari sumber pendanaan dari obligasi untuk penyaluran KUR berarti harus mengeluarkan obligasi atau surat utang di bawah 6 persen. Di sisi lain, beberapa obligasi existing PNM rata-rata memiliki kupon 6-8 persen per tahun. Artinya, ada miss match risiko PNM malah merugi dari penyaluran KUR tersebut.

Opsi yang lebih masuk akal, PNM mendapatkan suntikan dana dari pemerintah melalui APBN untuk disalurkan sebagai KUR dengan tingkat bunga rendah seperti 2-4 persen per tahun.

Tapi, ujung-ujungnya pemerintah kehilangan opportunity cost dari dana yang diberikan kepada PNM untuk penyaluran kredit. Sehingga, sebenarnya jika dibilang subsidi bunga KUR 12 persen itu tidak jadi apa-apa ya salah juga karena itu jadi seperti menjaga cashflow negara juga. Soalnya, tidak perlu memberikan dana untuk penyaluran KUR.

Tantangan lainnya adalah terkait aksesibilitas PNM untuk bisa mencakup ke seluruh Indonesia dalam menyalurkan KUR. Hingga 2025, PNM memang memiliki jumlah karyawan tetap 6.851 orang dan karyawan tidak tetap 4.857 orang. PNM juga memiliki 4.552 jaring kantor yang terdiri dari 62 kantor cabang, 3.849 unit Mekaar (Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera) dan 641 unit layanan modal mikro. Total jaringan tersebut tersebar di 432 kabupaten/kota dan 6.165 kecamatan. Apakah itu cukup?

Jika dibandingkan dengan BBRI, jumlah itu hanya sekitar di bawah 50 persen dari total unit BBRI yang mencapai 10.000 unit.

Begini Skema Pembiayaan Koperasi Merah Putih, Bagaimana Nasib Saham Bank BUMN?
Cicilan Kopdes Merah Putih kini tidak hanya ditanggung Desa, sekarang Negara juga ikut menanggung. Bagi perbankan, ini bisa jadi positif, tetapi apakah kepastian pembayaran benar-benar lancar sampai jangka panjang?

Kesimpulan

Jadi, apakah rencana Purbaya ini menjadi risiko bagi BBRI?

Kami menilai jika proyek PNM dari Purbaya ini berjalan lancar. Tahap awal, mereka akan mengambil alokasi KUR dari bank swasta. Jika alokasi KUR Rp308 triliun dan alokasi bank Himbara Rp230 triliun, berarti PNM bisa bantu penyaluran sekitar Rp78 triliun. Sehingga dalam tahap awal, dampaknya ke BBRI masih cenderung tidak langsung. 

Risiko terburuk dari proyek ini adalah jika ada kebijakan pendanaan PNM akan menggunakan channeling di bank Himbara dengan tingkat bunga sekitar 3-4 persen untuk memberikan margin ke PNM yang mau memberikan KUR dengan bunga 6 persen. Hal itu bisa menekan net interest margin jika ada kebutuhan dana Rp100 triliun yang disalurkan ke PNM dengan tingkat bunga 3-4 persen.

Namun, kami menilai PNM tidak akan menjadi bank, tapi hanya sebagai penyalur saja. Fundingnya bisa menggunakan skema risiko terburuk tersebut atau menyerap dari APBN (yang hampir mustahil dengan kondisi defisit sekarang).

Sementara itu, BBRI juga sudah mengumumkan akan menjadi bank Universal, artinya nanti BBRI tidak hanya fokus di mikro seperti saat ini, melainkan ke seluruh segmen yang cenderung merata. Namun, kami menilai hal ini mengurangi tingkat moat BBRI yang cukup ahli dalam penyaluran kredit mikro. Pasalnya, jika menjadi bank universal berarti BBRI akan masuk ke persaingan yang lebih sengit dengan BBCA, BMRI, dan BBNI. Belum lagi bank second liner yang punya daya saing kuat seperti BNGA dan NISP.

Butuh Insight, Pilihan Saham serta Analisis Peluang dan Risiko, dan Konsultasi dengan Ahlinya?

Kamu bisa dapatkan semuanya di Mikirsaham.com, join sekarang dan dapatkan deretan benefit yang membantumu investasi di saham seperti:

  • Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
  • Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
  • Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
  • Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US, Aksi korporasi, dan IPO
  • Event online bulanan
  • Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
  • Hingga konsultasi private dengan founder kami

Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini

Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini

💡
Dapatkan Tools Analisis Saham Paling Cocok Untuk Investor Ritel serta Pilihan Saham Indonesia hingga AS dengan AI bersama Investing Pro. Dapatkan Promo Spesial Dari Mikirduit dengan Klik di sini