Prospek Saham MEDC dan TPIA Saat Harga Minyak Lanjut Terbang ke Atas 100 Dolar AS

Saham MEDC dan TPIA memiliki dua sisi yang berbeda dalam merespons harga minyak. MEDC yang garap hulu migas cenderung diuntungkan, sedangkan TPIA yang butuh bahan baku migas secara teknis keluar cost lebih tinggi. Jadi, bagaimana prospek keduanya?

saham MEDC dan TPIA

Mikirduit – Ada dua saham yang memiliki prospek nasib berbeda saat harga minyak terbang ke 100 dolar AS per barrel, yakni MEDC dan TPIA. MEDC cenderung diuntungkan karena bisnisnya di hulu migas, sedangkan TPIA cenderung dirugikan karena bisnisnya membutuhkan bahan baku migas. Tapi, gimana prospek keduanya ya?

Key takeaways
  • MEDC berpotensi diuntungkan dari kenaikan harga minyak karena sensitivitas EBITDA-nya cukup tinggi terhadap harga minyak, di mana kenaikan 10 dolar AS per barel dapat menambah sekitar 140 juta dolar AS EBITDA, meski tetap ada risiko volatilitas jika harga minyak kembali turun.
  • TPIA justru tertekan saat harga minyak naik karena sekitar 82–85 persen biaya produksinya berasal dari bahan baku berbasis minyak, sehingga lonjakan harga minyak berpotensi menekan margin dan membuat kinerja 2026 berisiko jauh lebih lemah dibandingkan 2025.
  • Meski menghadapi tekanan jangka pendek, TPIA masih memiliki katalis pertumbuhan dari akuisisi Shell Energy and Chemicals Park Singapore serta proyek CA-EDC di Cilegon yang berpotensi menggandakan kapasitas produksi dan mendorong ekspansi bisnis dalam beberapa tahun ke depan.
  • Untuk diskusi saham secara lengkap, pilihan saham bulanan, dan insight komprehensif untuk member, kamu bisa join di Mikirsaham dengan klik link di sini.

Saham MEDC bisa dibilang sebagai saham hulu migas di IDX yang paling besar. MEDC memiliki proyeksi rata-rata produksi migas di 2025 sekitar 155-160 ribu barel ekuivalen minyak per hari. Artinya, ada potensi kenaikan produksi sekitar 8-11 persen. Jika mencapai 160 ribu barel per hari, berarti MEDC sudah mencatatkan kenaikan produksi setara pada 2023.

Apalagi, MEDC juga aktif menambah beberapa kepemilikan pengelolaan wilayah kerja migas, serta ada wilayah kerja migas yang on-stream seperti:

Block B yang diperkirakan bakal menyumbang produksi hingga 30 ribu barel oil ekuivalen minyak per hari dari lapangan The Forel and Terubuk, yang harusnya sudah tercatat sejak akhir 2025.

Menambah kepemilikan di Blok Corridor dengan ambil alih 24 persen kepemilikan Repsol. Sehingga, MEDC memiliki kepemilikan sebesar 70 persen di blok tersebut. Dampaknya bisa meningkatkan produki hingga 25 ribu barel ekuivalen per hari.

MEDC juga baru mengumumkan kalau sudah mendapatkan penunjukkan dari Petroliam Nasional Berhad (Petronas) untuk kontrak bagi hasil di blok Cendramas. Namun, detail-nya terkait cadangan dan potensi produksi hingga porsi bagi hasil masih belum jelas.

Lalu, apa dampaknya ke MEDC dengan adanya perang ini?

Catatannya, MEDC memiliki aset migas di Oman di Blok 60 dan 48. Kalau dilihat dari data lifting migas MEDC di Oman sekitar 9.000 barel per hari (atau setara 20-an persen dari produksi di periode yang sama). Jika ada penghentian aktivitas migas di wilayah Teluk seperti yang disebutkan Qatar, efeknya juga cukup lumayan ke perseroan.

Namun, dari keterangan manajemen MEDC per 1 Maret 2026, aktivitas perseroan di Oman masih belum terdampak dan maih beroperasional seperti biasa.

Menariknya, dari potensi MEDC jika ada kenaikan harga minyak dunia. Perseroan mencatatkan, jika ada kenaikan harga minyak 10 dolar AS per barel dalam satu tahun penuh, diperkirakan bisa berdampak terhadap EBITDA tahun 2026 sekitar 140 juta dolar AS. Apalagi, cash cost MEDC memang cukup rendah hanya di 10 dolar AS barel oil ekuivalen.

Jika menghitung EBITDA MEDC secara twelve trailing month dari kuartal III/2025 dengan kurs Rp16.939 per dolar AS senilai 541,91 juta dolar AS. Dengan asumsi harga rata-rata di 2025 sekitar 69,5 dolar AS per barel (dari data semester I/2025), serta simulasi harga rata-rata minyak setahun penuh di 75, 80, dan 90 dolar AS per barel. Berarti, tingkat EBITDA MEDC dengan skala volume lifting yang sama seperti 2025 bisa menjadi 615 juta dolar AS hingga 821 juta dolar AS

Dengan ebitda margin sekitar 40 persen, berarti ada potensi laba bersih menjadi sekitar 246 juta - 328 juta dolar AS. Hitungan ini cukup kasar, dan terlihat tidak signifikan jika dibandingkan dengan pencapaian laba bersih di 2022-2024 yang di atas ekspektasi tertinggi. Hal itu dengan asumsi produksi tetap dan ada distraksi risiko kinerja AMMN historis di 2025. 

Jika mengacu ke harga minyak tembus di atas 100 dolar AS per barel pada 2022-2023, posisi harga saham MEDC saat ini sudah jauh di atas harga tertinggi saat itu yang berada di Rp1.700-an per saham.

Walaupun begitu, catatannya secara nilai buku MEDC sejak 2022 hingga saat ini sudah tumbuh sekitar 33,02 persen menjadi Rp1.445 per saham. Sehingga jika pergerakan harga MEDC juga memperhitungkan valuasi perkembangan fundamentalnya, masih wajar posisi sekarang di atas harga tertinggi sebelumnya.

Jika diasumsikan, peluang ke Rp2.000 per saham akan terbuka, tapi tetap risiko ke harga itu cukup tinggi. Soalnya, jika MEDC naik ke Rp2.000 - Rp2.300 berarti ada volatilitas yang cukup tinggi sehingga risiko koreksi saat sentimen perang mereda dan harga minyak kembali turun. Jadi, dalam posisi saat ini, sebenarnya jika mau spekulatif di MEDC benar-benar cuan bungkus dikit-dikit saja. Bukan titik terbaik untuk investing.

Saham TPIA

TPIA memiliki bisnis petrokimia yang mana bahan baku utamanya adala minyak. Jika dilihat dari struktur biaya, 82 persen beban pokok pendapatan perseroan itu berasal dari bahan baku, yakni minyak. Sehingga kenaikan harga minyak bisa berdampak signifikan terhadap biaya perseroan. Kecuali, perseroan memiliki kontrak pembelian bahan baku dengan harga fix atau melakukan lindung nilai.

Sampai kuartal III/2025, biaya bahan baku itu juga mencapai 85 persen dari total pendapatan utama bisnis perseroan.

Teranyar, di pekan lalu, TPIA disebut mengajukan force majuere kepada pelanggan di Timur Tengah. Hal itu berhubungan erat dengan situasi di kawasan selat Hormuz.

Manajemen TPIA menjelaskan force majuere tersebut adalah langkah preventif yang secara administratif harus dilakukan sesuai dengan ketentuan kontraktual, sebagai bentuk mitigasi risiko kerugian dan transparansi atas kondisi eksternal di luar kendali perusahaan.

Namun, force majuere ini hanya berlaku untuk pengiriman ke daerah yang terkait konflik. Perseroan mengaku masih tetap beroperasi seperti biasa. Walaupun, manajemen mengakui melakukan penyesuaian tingkat operasional secara selektif sesuai dengan kondisi pasokan dan kebutuhan produksi.

Di tengah gejolak, TPIA juga baru saja menerbitkan obligasi Rp2,25 triliun pada akhir Februari 2026. Dana tersebut akan dijadikan TPIA untuk modal kerja seperti pembelian bahan baku dan sebagainya.

Sementara itu, jika melihat kinerja TPIA di 2025 mencatatkan laba bersih jumbo karena ada transaksi pembelian akuisisi di harga diskon senilai 1,81 miliar dolar AS. Aksi akuisisi itu terkait akuisisi Shell Energy dan Chemicals Park Singapore. Sehingga mencatatkan goodwill positif meski hanya sekadar catatan akutansi bukan uang tunai.

Tantangannya adalah perbandingan kinerja TPIA di 2026 akan cukup jomplang dibandingkan dengan 2025 yang mengalami keuntungan. Apalagi, harga minyak dunia juga naik. Sehingga, jangan terkejut jika kalkulasi laba bersih 2026 malah negatif.

Meski begitu, TPIA punya ruang momentum mulai dari:

Pertama, setelah akuisisi Shell Energi dan Chemicals Park  Singapore. TPIA mendapatkan tambahan kilang dengan kapasitas pengolahan 237.000 barel per hari, ethylene cracker dengan kapasitas 1,1 juta ton per tahun di pulau Bukom dan aset Kimia hulu di Pulau Jurong, Singapura.

Dengan akuisisi SHell Energy dan Chemicals  Park Singapore tersebut, TPIA bisa mendapatkan tambahan produksi dari kekurangan pasokan bahan bakar dan produk kimia di Indonesia, dengan memanfaatkan jaringan lokal di sana.

Kedua, TPIA juga tengah membangun proyek Chrol Alkali - Ethelyene Dichloride (CA-EDC) di Cilegon. Dalam proyek ini, TPIA juga berkolaborasi dengan Danantara melalui INA, Sovereign Wealth Fund Indonesia sebagai salah satu investor dalam proyek tersebut.

Kabarnya, proyek ini udah berjalan hingga 50 persen-nya dan ditargetkan mulai beroperasi pada 2027.

Jika kedua momentum itu sudah beroperasi sepenuhnya, TPIA disebut bisa mencatatkan kenaikan produksi yang signifikan. Jika diakumulasikan, total produksi seluruh aset TPIA bisa tumbuh 106 persen dari menjadi 18,07 juta ton pada akhir 2026 dibandingkan dengan 4,2 juta ton pada 2024.

Misteri Bisnis Penopang Kinerja ADRO Saat ADMR Lagi Babak Belur Penurunan Harga Batu bara Metalurgi
Saham ADRO dan ADMR sudah rilis kinerja full year 2025. Dengan kondisi saham ADMR yang mencatatkan penurunan laba bersih cukup signfikan, tapi kenapa ADRO yang mencatatkan cash cow dari ADMR bisa catatkan laba bersih lebih baik? kami bongkar rahasianya di sini

Kesimpulan

Dalam hal ini, saham MEDC bisa menarik dalam hal trading jangka pendek selama sentimen perang berlangsung dan harga minyak berada di level tinggi, sedangkan TPIA bisa saja menjadi pilihan untuk jangka menengah hingga tahun depan dengan ekspektasi kinerjanya bisa growth agresif dengan aksi korporasi yang dilakukan sebelumnya.

Hanya saja, untuk TPIA memang agak sulit dihitung secara valuasi dan fundamentalnya. Pasalnya, 2025 terlihat fundamentalnya wajar dengan EV/Ebitda sekitar 7 kali, tapi hal itu disebabkan adanya goodwill akuisisi dengan harga diskon yang membuat tingkat pendapatan naik signifikan. Padahal itu bentuknya bukan cash, tapi hanya catatan.

Untuk itu, strategi hold TPIA memang mengandalkan momentum potensi kenaikan pendapatan setelah dua aksi korporasi terakhir berjalan optimal. Serta, tingkat volatilitas TPIA juga terhitung cukup tinggi Menurutmu, bagaimana dengan prospek MEDC dan TPIA?

Mau Dapat Insight dan Idea Saham Investing hingga Trading dengan Strategi Sesuai Kebutuhanmu?

Kamu bisa dapatkan semuanya di Mikirsaham.com, join sekarang dan dapatkan deretan benefit yang membantumu investasi di saham seperti:

  • Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
  • Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
  • Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
  • Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US, Aksi korporasi, dan IPO
  • Event online bulanan
  • Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
  • Hingga konsultasi private

Langsung langganan sekarang dengan klik di sini

Jangan lupa, Cek KODE PROMO-nya sesuai dengan plan yang kamu butuhkan dengan klik di sini

Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini

💡
Dapatkan Tools Analisis Saham Paling Cocok Untuk Investor Ritel serta Pilihan Saham Indonesia hingga AS dengan AI bersama Investing Pro. Dapatkan Promo Spesial Dari Mikirduit dengan Klik di sini