Petaka Kebijakan MSCI Bikin IHSG Hampir Trading Halt, Akhir Era Saham Konglo?
MSCI mengumumkan hasil konsultasi untuk penerapan aturan free float saham Indonesia dan memberlakukan interim freeze pada rebalancing edisi Februari 2026. Apakah ini jadi sinyal era saham konglo sulit masuk MSCI lagi?
Mikirduit - MSCI mengumumkan hasil konsultasi untuk penerapan aturan free float saham Indonesia dan memberlakukan interim freeze pada rebalancing edisi Februari 2026.
Merespon itu, IHSG sontak di buka jeblok lebih dari 6 persen, tak sedikit saham konglo yang ARB. Akankah ini menjadi akhir pesta saham konglo kerja target masuk MSCI?
Highlight
- MSCI mengumumkan interim freeze untuk rebalancing edisi 2026, artinya bobot tidak berubah, tidak ada saham masuk dan keluar
- MSCI menuntut transparansi data free float dari BEI dan KSEI, kalau sampai Mei tidak ada, IHSG berisiko turun kelas dari Emerging Market ke Frontier Market.
- Saham konglo merespon negatif, banyak yang rontok sampai ARB. IHSG juga jeblok sampai lebih dari 6% di awal sesi.
- Untuk diskusi saham secara lengkap, pilihan saham bulanan, dan insight komprehensif untuk member, kamu bisa join di Mikirsaham dengan klik link di sini.
Hasil Konsultasi MSCI untuk Free Float Saham Indonesia
MSCI mengumumkan hasil konsultasi dari evaluasi publik terkait aturan pengetatan free float lebih awal pada 27 Januari 2026, daripada ekspektasi awal pada 30 Januari 2026.
Ada tiga hal penting yang hasilnya cukup menghebohkan pasar.
Pertama, MSCI resmi mengumumkan “Interim Freeze” yang berlaku efektif segera. Artinya, pada review Februari 2026 nanti:
- Tidak ada saham Indonesia baru yang masuk MSCI
- Tidak ada promosi dari Small Cap ke Standard
- Tidak ada kenaikan bobot (Foreign Inclusion Factor / FIF)
- Tidak ada penambahan jumlah saham (Number of Shares)
Dengan keputusan ini, seluruh tesis investasi berbasis “MSCI inclusion” untuk Februari 2026 otomatis gugur.
Kedua, MSCI secara terang-terangan menyebut masalah utamanya adalah hilangnya kepercayaan investor global terhadap kualitas pasar Indonesia.
Beberapa poin krusial yang disorot:
- Data kepemilikan saham dari KSEI/IDX dinilai belum cukup transparan
- Struktur kepemilikan banyak emiten dianggap buram (opacity)
- Konsentrasi pemegang saham terlalu tinggi di sejumlah saham
- Ada kekhawatiran praktik perdagangan terkoordinasi (coordinated trading behavior) yang mengganggu pembentukan harga wajar
Sederhanaya, MSCI menganggap pasar kita dianggap terlalu banyak saham “gorengan” karena angka free float tidak mencerminkan kondisi riil dan investor asing sulit menilai mana saham yang benar-benar likuid dan investable.
Karena itu MSCI memilih menarik rem darurat, untuk mencegah risiko keluar-masuk dana besar yang tidak sehat.

Ketiga, MSCI memberi tenggat sampai Mei 2026 kepada regulator (OJK & BEI) untuk memperbaiki transparansi pasar. Kalau dinilai tidak ada progres signifikan, MSCI membuka opsi:
- Mengurangi bobot seluruh saham Indonesia di MSCI Emerging Markets
- Menurunkan status Indonesia dari Emerging Market → Frontier Market
Kalau skenario ini benar-benar terjadi. Banyak fund global berbasis indeks EM akan dipaksa keluar dari Indonesia, potensi capital outflow diperkirakan minimal USD 10 miliar atau sekitar Rp150 triliun dengan asumsi Frontier Market tidak masuk mandat investasi mereka. Hal ini bisa menjalar pada tekanan IHSG dan rupiah lebih jauh. Ini bukan sekadar isu teknis indeks, ini sudah menyentuh persepsi governance dan kredibilitas pasar modal Indonesia.
Akibat hal-hal itu, IHSG pada pembukaan perdagangan Rabu (28/1/2026) sampai jeblok lebih dari 6 persen ke level 8300-an.

Saham konglo terutama yang awalnya diekspektasi mau masuk ke MSCI seperti BUMI, PTRO, PANI, DEWA, IMPC, dan lain-lain sontak ambrol, tak sedikit pula yang mengalami Auto Reject Bawah (ARB). Semua sektor rata bergerak di zona merah.
MSCI Belajar dari Saham ARTO dan GOTO
Pengumuman MSCI saat ini kalau dibahasakan sederhana seperti sedang melakukan pemutihan. Pasar saham Indonesia beserta regulator (BEI dan KSEI) dituntut transparan agar kasus goreng menggoreng saham bisa dihentikan.
Dalam beberapa tahun terakhir, kami mengamati selepas pandemi Covid-19 banyak saham konglo yang bergerak liar, tetapi berhasil masuk MSCI karena berdasarkan likuiditas dan transaksi yang dinilai sudah memenuhi syarat.
Sebut saja salah satu contohnya ada saham ARTO pada Februari 2022 lalu waktu hype transformasi ke bank digital, MSCI memasukkan saham itu menjadi konstituen MSCI Large Cap, waktu itu harga-nya masih di kisaran 8000.
Sejak saat itu, saham ARTO memang melejit bahkan sempat ke 19.000. Jadi dalam setahun, kalau ditarik saham ARTO berhasil terbang hampir empat kali lipat.
Sayangnya, pada 2023 saham ARTO ambyar bahkan sampai ke kisaran 2000. Hal ini membuat ARTO terdepak dari MSCI pada Februari 2023. Bahkan sampai saat ini saham ARTO masih cenderung sideways di bawah level 2000.
Kasus GOTO juga mirip, pada Mei 2023 MSCI memasukkannya menjadi konstituen Global Standard Indexes. Saat resmi masuk, harga GOTO sempat melonjak ke Rp147 pada penutupan 31 Mei 2023 karena akumulasi besar-besaran oleh manajer investasi.
Namun, penguatan itu tak bertahan lama, bahkan saham GOTO sempat terbawa ke area gocap.
GOTO sempat dilaporkan keluar dari kategori spesifik MSCI Indonesia Value Index pada November 2024, tetapi masuk kembali ke indeks nilai tersebut pada rebalancing periode berikutnya karena perbaikan kinerja keuangan.
Dari dua kasus saham itu, menjadi pelajaran bagi MSCI yang saat ini menuntut transparansi free float ke bursa saham Indonesia.
MSCI bukan free money dan bukan exit strategi.
Bukan tidak mungkin sebagian manajer investasi asing sudah lebih dulu “terjebak” di beberapa posisi. Tapi lebih dari itu, MSCI memang bukan entitas yang bergerak impulsif.
Mereka bukan tipe yang bereaksi terhadap satu-dua kejadian. Biasanya dibutuhkan rangkaian sinyal yang panjang: masukan dari pengelola dana global, proses konsultasi pasar, evaluasi kualitas data yang bisa diverifikasi, hingga pola perilaku perdagangan yang konsisten dari waktu ke waktu. Baru setelah semua itu terakumulasi, keputusan besar diambil.
Karena itu, langkah yang muncul hari ini lebih tepat dibaca sebagai klimaks dari proses panjang, bukan respons spontan.
Lantas, Sekarang Strategi Gimana?
Boleh jadi ini momen ketika MSCI akhirnya “membaca ulang” wajah pasar saham Indonesia. Selama ini, Indonesia sering dinilai hanya lewat angka kapitalisasi pasar, volume transaksi, dan likuiditas rata-rata.
Namun lewat pengumuman terbarunya, MSCI terlihat mulai masuk ke lapisan yang jauh lebih dalam, siapa sebenarnya pemilik saham, seberapa terkonsentrasi kepemilikannya, dan apakah aktivitas transaksi di bursa benar-benar menghasilkan harga yang wajar.
Ketika sebuah penyedia indeks global sudah secara eksplisit menyinggung soal kaburnya struktur kepemilikan dan potensi praktik perdagangan terkoordinasi, itu menandakan persoalan yang jauh melampaui fluktuasi harga harian.
Selama ini banyak pelaku pasar merasa IHSG seolah terbagi dua: satu sisi diisi saham-saham besar yang relatif rasional, sisi lain dipenuhi saham-saham berbasis cerita yang bergerak liar. Kini, persepsi itu seperti mendapat legitimasi dari institusi paling formal dalam ekosistem investasi global.
Lantas apa yang harus kita lakukan, pertama jangan panik, biasanya tekanan jual signifikan hanya terjadi dalam jangka pendek karena pelaku pasar panic selling.
Action di saham saat ini sebaiknya hindari dulu dari saham-saham yang mendapat tesis bisa masuk MSCI karena faktanya sudah gugur lebih awal, tekanan jual di IHSG juga masih belum reda.
Kita mulai selektif dalam memilih saham antara saham dengan narasi growth atau saham value yang menarik.
Dan kita tunggu dulu sampai tekanan jual reda sambil menjaga cash, untuk nanti masuk lagi di harga yang lebih baik dan mendapatkan momentum optimal secara teknikal.
Dapatkan Insight Saham hingga Diskusi serta Konsultasi Bersama hampir 1.000 Investor Lainnya di Mikirsaham
Yuk join dengan Mikirsaham sekarang untuk bisa dapatkan benefit ini semua:
- Stockpick investing (dividend, value, growth, contrarian) yang di-update setiap bulan (terbarunya akan diseleksi terbaik maksimal 5 masing-masing strategi dengan analisis yang komprehensif)
- Stock Ideas (memberikan gambaran besar saham-saham yang menarik, tapi tidak termasuk stockpick)
- Stockpicking swing trade mingguan (khusus member mikirsaham elite jika kuota masih tersedia)
- Insight saham terkini serta action-nya
- Update porto founder
- IPO dan Corporate Action Digest
- Event online bulanan
- Grup Diskusi Saham
Join ke Member Mikirsaham Pro sekarang juga dengan klik link di sini
Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini
