Menanti Saham Prajogo Pangestu Kembali Menggeliat, Begini Prospeknya

Saham Prajogo Pangestu terkoreksi dalam, membuat valuasinya mulai dilirik. Simak prospek ekspansi TPIA, CDIA, BREN, CUAN, PTRO, dan BRPT serta risiko yang perlu dicermati sebelum investasi.

Share
saham prajogo

Mikirduit - Saham Prajogo Pangestu (PP) banyak yang valuasinya sudah mulai masuk akal untuk dilirik. Prospek bisnisnya juga dipenuhi agenda ekspansi sampai beberapa tahun mendatang. 

Key Takeaways

  • Valuasi saham PP mulai terlihat lebih masuk akal setelah terkoreksi dalam, tetapi belum otomatis murah untuk dikoleksi.
  • Ekspansi masih membuka peluang pertumbuhan, mulai dari petrokimia, energi, infrastruktur, hingga pertambangan.
  • Risiko volatilitas masih tinggi, sementara pasar menunggu pembuktian kinerja ekspansi pada keberlanjutan laba.
  • Dapatkan Diskon 55% + 15% untuk Investing Pro Hanya Pada 15 Oktober 2026 dengan klik di sini

Menurut kami, saham konglo satu ini punya satu sentimen psikologis tersendiri di pasar. Bagaimana tidak? sekitar tiga tahun lalu, salah satu sahamnya PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) yang baru IPO di bursa, hanya dalam tiga bulanan mampu menyalip PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang notabene bertahan puluhan tahun jadi saham no. 1 di bursa. 

Gara-gara itu, saham PP yang lain mendominasi bursa saham Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ini, dari 2023 - 2025 bisa dibilang the year of konglo. 

Sampai akhirnya kena bubble sejak MSCI menyentil bursa saham kita pada akhir Januari 2026, yang memicu IHSG sampai trading halt dua hari beruntun. 

Sejak saat itu, saham PP satu per satu berguguran, semuanya nyungsep lebih dari 50 persen. Kami mengelompokkkan pergerakan harga dan valuasi enam saham yang masih dalam satu ekosistem konglo tersebut dalam gambar berikut ini. 

Note: Harga ditarik sampai 14 Oktober 2026

Namun, dibalik penurunan harga saham yang signifikan itu, terbuka valuasi yang mulai menarik. Kita sudah tidak di era saham BREN dihargai ratusan kali PBV, valuasinya sudah terpangkas jauh, menyisakan nilai kurang lebih seperlimanya. 

Valuasi TPIA bahkan sudah di bawah 2 kali, terbilang cukup wajar untuk perusahaan di industri petrokimia regional yang sedang berkembang. 

Dengan valuasi yang masuk akal ini, untuk masuk lagi tentu kita harus mempertimbangkan prospek bisnisnya. Mari kita ulas satu per satu dari saham PP ini.

TPIA: Ekspansi dari Petrokimia ke Energi dan Mobilitas

Pertama, bahas TPIA dulu yang sahamnya paling jeblok, tapi paling agresif juga dalam hal ekspansi. 

TPIA terpantau terus memperluas bisnisnya di luar petrokimia. Setelah mengakuisisi aset Shell di Singapura bersama Glencore, mereka  juga mengambil alih jaringan SPBU Esso di Singapura dan berencana mengakuisisi bisnis otomotif Cycle & Carriage di Singapura dan Malaysia senilai SG$265 juta. Transaksi tersebut masih menunggu pemenuhan sejumlah persyaratan.

Di sektor petrokimia, pembangunan fasilitas CA-EDC senilai US$800 juta telah mencapai sekitar 80 persen pada September 2026, dengan target operasi komersial pada 2027. TPIA juga menjajaki bisnis bahan bakar penerbangan melalui CAFHI dan mengembangkan kapasitas produk kimia seperti MTBE dan Butene-1.

Dari sisi kinerja, pendapatan Semester I 2026 mencapai US$ 5,3 miliar, tetapi laba bersih turun 772, persen jadi US$ 3712 juta. Penurunan ini dipengaruhi keuntungan akuntansi satu kali dari akuisisi Shell pada tahun sebelumnya dan tekanan margin. 

Tantangan TPIA berikutnya adalah memastikan aset dan ekspansi baru benar-benar menghasilkan pertumbuhan laba.

CDIA: Fokus Memperbesar Bisnis Infrastruktur dan Logistik

CDIA juga terus melakukan ekspansi dengan memperluas bisnis infrastruktur melalui penambahan armada kapal Boreas dan Novah, serta pengembangan fasilitas penyimpanan bitumen berkapasitas 12.000 meter kubik di Merak.

CDIA juga menginvestasikan sekitar US$90 juta untuk mengakuisisi 40 persen saham PT Armada Maritim Persada dan US$15,5 juta untuk mengambil 49 persen saham Petrosea Services Solutions Pte. Ltd. Ekspansi ini memperkuat bisnis maritim dan layanan pendukung industri.

Pada Semester I 2026, pendapatan naik 22,8 persen menjadi US$82,1 juta dan EBITDA tumbuh 25,3 persen menjadi US$31,6 juta. Namun, laba bersih turun 74 persen menjadi US$19,3 juta, antara lain akibat biaya armada baru dan penyusutan. Prospek CDIA ke depan akan bergantung pada kemampuan aset baru meningkatkan pendapatan dan laba secara bertahap.

79 Saham HSC Oktober 2026: Daftar, Risiko & Strategi
Daftar saham HSC BEI Oktober 2026 bertambah menjadi 79 emiten, termasuk MTEL. Pahami perubahan screening, risiko likuiditas, dan strategi menilai peluang saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi.

BREN: Menambah Kapasitas Panas Bumi dan Membidik Filipina

BREN terpantau juga terus memperbesar kapasitas energi panas bumi. Setelah retrofit Wayang Windu, kapasitasnya mencapai 926 MW. Mereka kini menargetkan kapasitas menembus 1 GW pada akhir 2026 melalui tambahan kapasitas dari proyek Salak Unit 7, Wayang Windu Unit 3, dan Darajat Unit 3.

BREN juga menjajaki ekspansi internasional melalui penawaran indikatif senilai US$5 miliar untuk mengakuisisi Energy Development Corp (EDC) di Filipina. Namun, penawaran ini belum menjadi kesepakatan final.

Kinerja Semester I 2026 cukup solid, dengan pendapatan naik 11,5 persen menjadi US$334 juta dan laba bersih meningkat 29 persen menjadi US$106 juta. Penambahan kapasitas dan potensi ekspansi regional membuka peluang pertumbuhan, meski realisasi proyek serta kebutuhan modal tetap perlu dicermati.

Tower Stocks After SpaceX’s $8B Deal: AMT vs. CCI vs. SBAC
SpaceX’s $8 billion spectrum purchase has revived U.S. cell tower stocks that many investors had written off. We compare American Tower, Crown Castle, and SBA Communications on tower footprint, debt, growth, and valuation to see which looks best.

CUAN: Diversifikasi ke Batu Bara, Mineral, dan Energi

Berikutnya ada CUAN yang terus memperluas bisnis melalui sejumlah langkah. 

Di sektor batu bara, grup mengembangkan eksposur ke PT Singaraja Putra Tbk (SINI). PTRO, anak usahanya dilaporkan telah memiliki 27,78 persen saham SINI, sementara pembahasan untuk menjadi pemegang saham pengendali masih berlangsung.

Di luar batu bara, PTRO berinvestasi melalui instrumen convertible note senilai A$23,75 juta di Tolu Minerals, yang membuka peluang eksposur ke pertambangan emas dan tembaga di Papua Nugini. 

CUAN juga mengembangkan pembangkit listrik berkapasitas 680 MW di kawasan industri Feni Haltim dengan estimasi investasi US$600 juta. Proyek ini telah memasuki tahap konstruksi pada Februari 2026.

Pada Semester I 2026, pendapatan CUAN meningkat menjadi US$678,2 juta dari US$309,6 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. 

Laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk juga naik sekitar 150 persen menjadi US$18,4 juta. Diversifikasi membuka peluang pertumbuhan baru, tetapi keberhasilannya akan bergantung pada realisasi proyek dan produktivitas aset.

PTRO: Memperluas Kontrak Jasa dan Eksposur Mineral

Selanjutnya ada PTRO yang terus memperkuat bisnis jasa pertambangan melalui peluang kontrak dengan anak usaha SINI. Dua kontrak jasa pertambangan tersebut dilaporkan bernilai total Rp9,3 triliun sepanjang usia tambang, sehingga berpotensi memberikan sumber pendapatan jangka panjang.

PTRO juga memperluas eksposur ke mineral melalui investasi convertible note A$23,75 juta di Tolu Minerals. Investasi ini membuka peluang pengembangan bisnis jasa pertambangan di Papua Nugini, tetapi bukan berarti PTRO telah mengambil alih seluruh aset Tolu.

Dengan bisnis yang mencakup jasa pertambangan, EPC, dan logistik, PTRO berpeluang memperoleh manfaat dari ekspansi tambang dalam grup maupun proyek eksternal. 

Namun, investor tetap perlu memantau realisasi kontrak, margin proyek, dan kebutuhan modal kerja.

BRPT: Holding dengan Eksposur ke Berbagai Sektor

Terakhir ada BRPT yang pada dasarnya adalah holding dari beberapa saham PP. Eksposure terbesar datang bisnis petrokimia TPIA, kemudian dari energi terbarukan melalui BREN, serta infrastruktur dan logistik melalui CDIA. 

Ekspansi ketiga anak usaha tersebut menjadi sumber peluang pertumbuhan bagi grup.

Pada Semester I 2026, pendapatan konsolidasian BRPT melonjak 76,1 persen menjadi US$5,68 miliar. Namun, laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun 64,8 persen menjadi US$190 juta. 

Penurunan ini antara lain dipengaruhi keuntungan satu kali dari akuisisi Shell pada tahun sebelumnya dan tekanan margin petrokimia.

Karena itu, prospek BRPT sangat bergantung pada kinerja anak usaha dan kemampuan mereka menghasilkan laba serta arus kas dari investasi yang telah dilakukan.

Kesimpulan

Valuasi saham-saham PP memang mulai terlihat lebih masuk akal setelah terkoreksi dalam. 

Namun, untuk masuk sebagai saham investasi lagi, pasar masih menunggu pembuktian kinerja, keberlanjutan profitabilitas, dan prospek dividen. Apalagi, setelah BREN dapat label HSC, peluangnya untuk masuk indeks global otomatis hilang, yang tersisa kini risiko volatilitas meningkat. 

Dalam jangka pendek, saham-saham ini lebih menarik dimanfaatkan untuk trading dengan mengincar peluang technical rebound, didukung normalisasi valuasi dan katalis dari sejumlah ekspansi bisnis yang lagi digencarkan, tentunya dengan manajemen risiko yang ketat. 

Gimana, kalian sudah pada lirik saham PP yang mana nih?  

Mau Dapat Insight Saham hingga Action-nya Sesuai dengan Kebutuhan?

Join Mikirsaham sekarang dan dapatkan benefit:

  • Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
  • Tools Trading Plan by Sistem (minimal join Mikirsaham Super dan masih tahap Beta)
  • Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
  • Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
  • Event Online Rutin bulanan
  • Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US
  • Diskusi lebih nyaman di member area tanpa ada distraksi
  • Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
  • Hingga konsultasi private dengan founder kami

Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini

Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini

Investasi Crypto di PINTU sekarang