KKGI dan PTBA Umumkan Persetujuan RKAB 2026, Begini Prospek Deretan Saham Batu bara
Saham batu bara memang mendapatkan sentimen positif terkait kenaikan harga, tapi ada risiko dari penyeuaian RKAB oleh kementerian ESDM. Ketok palunya sudah deal, lalu gimana realisasi dan prospek saham batu bara?
Mikirduit – Nasib RKAB PTBA dan KKGI berbanding terbalik. PTBA tidak ada pemangkasan, sedangkan KKGI dipangkas hampir 50 persen. Lalu, bagaimana prospek saham batu bara yang lainnya?
Key Takeaway
- Persetujuan RKAB 2026 yang hampir rampung menunjukkan arah kebijakan pemerintah untuk menahan produksi di kisaran 580–600 juta ton, namun tetap membuka ruang fleksibilitas jika harga batu bara global kembali naik.
- Dampaknya ke kinerja tidak terlalu merata ke semua perusahaan. PTBA terbilang yang paling diuntungkan karena produksinya justru naik. KKGI produksi turun banyak potensi jadi yang paling merana.
- Efisiensi di tengah penurunan produksi dan prospek ASP tinggi di tahun ini menjadi kunci menjaga kinerja keuangan tetap stabil di 2026.
- Untuk diskusi saham secara lengkap, pilihan saham bulanan, dan insight komprehensif untuk member, kamu bisa join di Mikirsaham dengan klik link di sini.
Update RKAB per April 2026
Sampai 6 April 2026, proses persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batu bara nasional sudah memasuki tahap akhir.
Kementerian ESDM mencatat total kuota produksi yang telah disetujui mendekati 600 juta ton, dengan realisasi sementara berada di kisaran sekitar 580 juta ton dan terus bertambah seiring penyelesaian administrasi dari sejumlah perusahaan yang tersisa.
Hal ini mengindikasikan bahwa penetapan RKAB tahun depan hampir rampung dan hanya menyisakan proses finalisasi dari sebagian kecil pelaku usaha.
Di sisi lain, pemerintah juga membuka opsi fleksibilitas dalam kebijakan produksi, terutama jika terjadi kenaikan harga batu bara global.
Relaksasi kuota secara terbatas masih dalam tahap kajian, dengan tujuan menjaga keseimbangan antara supply dan demand agar tidak terjadi kelebihan pasokan yang justru dapat menekan harga.
Dengan demikian, meskipun arah kebijakan mengarah pada pengendalian produksi, ruang penyesuaian tetap tersedia mengikuti dinamika pasar ke depan.
Adapun yang sudah disetui RKAB 2026 menurut pantauan kami ada dua emiten yaitu KKGI dan PTBA.
Hasilnya cukup kontras dari dua emiten itu, KKGI mengalami penurunan produksi signifiikan sampai 35 persen, sementara PTBA justru mendapatkan tambahan produksi sampai 5 persen.
Kami juga menambahkan estimasi untuk emiten batu bara big caps lain seperti AADI dan ITMG. Berikut rinciannya:
Prediksi Kinerja 2026 ke Emiten Batu Bara
Saham KKGI
Saham KKGI mendapatkan persetujuan dari ESDM yang kurang bagus setelah target RKAB-nya dipangkas hampir 50 persen dari pengajuan 4 juta ton, KKGI hanya mendapatkan realisasi persetujuan di 2,25 juta ton.
Setelah kinerja 2025 sudah melemah (pendapatan turun 53 persen YoY dan laba bersih turun 94,9 persen), tekanan berlanjut dari sisi volume dengan RKAB 2026 yang hanya 2,25 juta ton, turun tajam dari basis sekitar 5,85 juta ton.
Penurunan produksi ini berpotensi kembali menekan pendapatan secara signifikan, apalagi sebelumnya volume penjualan juga sudah turun lebih dari 30 persen. Dengan struktur bisnis yang cukup sensitif terhadap volume, ruang pemulihan di 2026 menjadi sangat terbatas.
Ke depan, kinerja KKGI kemungkinan akan berada dalam fase survival mode, dengan fokus pada efisiensi biaya dan menjaga arus kas. Tanpa dukungan kenaikan harga batubara yang signifikan, laba bersih dan potensi dividen berisiko tetap tertekan.
Di sisi lain, KKGI tetap ada peluang perbaikan margin keuntungan karena tekanan biaya operasional yang cukup tinggi di 2025. Lalu, apakah saham KKGI menarik? cek analisis detail Mikirduit serta actionnya di sini
Saham AADI
Untuk AADI, kinerja 2026 diperkirakan memasuki fase normalisasi setelah 2025 yang relatif solid dari sisi volume (produksi 68,73 juta ton, naik 4,4 persen YoY).
Estimasi RKAB 2026 di level 60 juta ton (turun sekitar 13 persen YoY) menunjukkan adanya penyesuaian produksi, namun masih dalam batas wajar untuk menjaga keseimbangan pasar.
Dengan asumsi harga batubara tetap di atas 100 USD per ton, pendapatan diperkirakan turun dalam kisaran 8 sampai 15 persen.
Meski demikian, dengan dominasi ekspor sekitar 75 persen dan skala bisnis yang besar, AADI masih memiliki daya tahan yang cukup baik terhadap fluktuasi pasar.
Secara keseluruhan, kinerja 2026 kemungkinan akan sedikit melemah secara pendapatan, namun tetap relatif stabil dari sisi profitabilitas, terutama jika harga batubara global mampu bertahan di level yang sehat.
Saham PTBA
Berbeda dengan mayoritas emiten lain, PTBA justru menunjukkan outlook yang lebih defensif di 2026. Setelah laba bersih 2025 turun cukup dalam (turun 42 persen), perusahaan tetap mencatat pertumbuhan volume produksi (naik 9 persen).
RKAB 2026 yang disetujui sebesar 49,5 juta ton (naik sekitar 5 persen YoY) mengindikasikan adanya ruang pertumbuhan lanjutan. Ini memberi sinyal bahwa PTBA masih mendapatkan dukungan dari sisi kebijakan dan positioning sebagai BUMN energi.
Jika harga batubara tetap di atas 100 USD per ton, maka pendapatan berpotensi meningkat sekitar 3 sampai 6 persen seiring kenaikan volume.
Selain itu, peningkatan volume juga berpotensi menurunkan biaya per ton melalui operating leverage, sehingga laba bersih berpeluang tumbuh lebih tinggi dibandingkan kenaikan pendapatan.

Dengan kondisi tersebut, PTBA berpotensi menjadi emiten dengan kinerja paling defensif sekaligus memiliki peluang pertumbuhan di 2026.
Saham ITMG
Sementara itu, ITMG diperkirakan akan menjalankan strategi efisiensi yang cukup signikan karena volume produksi tidak bisa agresif.
Setelah produksi 2025 mencapai 21,20 juta ton (naik 5 persen YoY), estimasi RKAB 2026 berada di kisaran 10 hingga 15 juta ton, yang berarti penurunan sekitar 30 sampai 50 persen.
Dengan asumsi harga batubara tetap di atas 100 USD per ton, pendapatan berpotensi turun dalam kisaran 25 sampai 45 persen.
Oleh karena itu, meskipun volume dan revenue turun signifikan, tekanan terhadap laba bersih bisa lebih terbatas jika efisiensi dan strategi penjualan berjalan optimal. ITMG pada 2026 lebih mencerminkan strategi menjaga margin dibanding mengejar volume.
Namun, perlu dipahami juga, ITMG itu bisa dibilang cash king di sektor batu bara dan punya track record royal setiap kali bagi dividen. Jadi, saham ini walaupun prospek profitabilitasnya turun tahun ini, seringkali bisa dijadikan opsi untuk dividend play dulu.
Update Harga Batu Bara
Beralih ke view big pictur, kalau menilik harga batu bara acuan global ICE Newcastle sejauh ini masih bertahan di atas US$ 130 per ton sampai perdangan Jumat (10/4/2026).
Level ini mempertahankan lonjakan yang terjadi sejak Maret, seiring meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Harga batu bara saat ini terpantau koreksi setelah menyentuh peak US$ 146 per ton pada kuartal pertama tahun ini berkat gencatan senjata.
Namun, harga batu bara diperkirakan tetap tinggi tahun ini, bahkan bisa saja menembus US$ 150 per ton kalau perang kembali panas di Timur Tengah.
Dari sisi pasokan, Indonesia yang merupakan produsen batu bara utama di pasar global sedang mengurangi produksi serentak. Tinggal tunggu waktu saja RKAB 2026 segera disetujui.
Permintaan batu bara juga diharapkan naik sebagai substitusi LNG.
Sebagaimana diketahui, perang di kawasan Teluk Persia membuat pasukan Iran menyerang kapal tanker yang mengangkut gas alam cair (LNG) dan gas petroleum cair (LPG) yang melintasi jalur strategis Selat Hormuz.
Alhasil, pasokan energi dari kawasan tersebut semakin terganggu setelah fasilitas pengolahan gas utama di Qatar turut terdampak.
Gangguan ini mengurangi pasokan bahan bakar utama bagi pembangkit listrik berbasis gas di Asia, termasuk Jepang dan Korea Selatan yang merupakan konsumen utama batubara termal berkualitas tinggi dari pelabuhan Newcastle, Australia.
Kedua negara tersebut memiliki infrastruktur yang memadai untuk beralih dari gas ke batubara dalam pembangkit listrik, berbeda dengan China dan India yang kapasitasnya lebih stabil dan umumnya menggunakan batubara dengan kualitas lebih rendah.
Update Pergerakan Harga Saham Batu Bara
Dari sisi pergerakan harga saham, AADI, ITMG, dan PTBA terpantau memiliki chart yang hampir mirip.
Meskipun dari sisi fundamental dan potensial RKAB yang disetui beda-beda, tetapi gerak saham-nya lebih sensitif dengan gerak harga batu bara acuan.
Seiring dengan gerak harga batu bara yang sedang terkoreksi, gerak harga saham AADI, ITMG, dan PTBA juga sama. Meski begitu, secara tren masih dalam kenaikan.
Secara keseluruhan untuk tiga saham itu, masih cukup menarik diperhatikan sebagai trading buy memanfaatkan momentum harga batu bara yang masih tinggi dan prospek dividen play atau menunggu hasil kinerja kuartal I/2026 yang diprediksi bisa lebih moncer, karena RKAB masih pakai yang tahun lalu jadi produksi harusnya masih lebih banyak, ditambah harga batu bara lagi tinggi-tingginya (dalam setahun naik lebih 35 persen).
Di sisi lain, untuk saham KKGI geraknya masih downtrend, jadi sejauh ini masih wait and see dulu.

So, gimana strategi kalian di saham batu bara? mana yang paling menarik dilirik?
Butuh Insight, Pilihan Saham serta Analisis Peluang dan Risiko, dan Konsultasi dengan Ahlinya?
Kamu bisa dapatkan semuanya di Mikirsaham.com, join sekarang dan dapatkan deretan benefit yang membantumu investasi di saham seperti:
- Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
- Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
- Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
- Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US, Aksi korporasi, dan IPO
- Event online bulanan
- Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
- Hingga konsultasi private dengan founder kami
Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini
Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini