Kapan Saham Grup Bakrie Bisa Bangkit Lagi? Simak Analisisnya di Sini

Saham-saham Grup Bakrie tiba-tiba kompak naik setelah libur panjang, setelah sebelumnya terkoreksi cukup dalam sejak awal tahun. Kira-kira ini tanda mulai bangkit, atau cuma rebound sebentar?

saham bakrie

Mikirduit -  Saham-saham Grup Bakrie kembali bergerak naik setelah libur panjang, menarik perhatian pasar setelah sebelumnya terkoreksi cukup dalam sejak awal tahun.

Di tengah rebound tersebut, sejumlah aksi korporasi dan perkembangan bisnis juga mulai muncul dari emiten-emiten dalam grup ini.

Namun, apakah ini benar-benar awal kebangkitan saham Bakrie, atau hanya sekadar rebound sementara?

Key Takeaways 
  • Setelah koreksi dari awal tahun, saham grup Bakrie terpantau mulai kompak bangkit.
  • Aksi korporasi dan progress ekspansi bisnis masih terus jalan, mulai dari buyback saham sampai penemuan migas baru.
  • Namun, masih ada risiko, saham grup Bakrie ada yang masuk konstituen MSCI, jadi masih ada risiko outflow.
  • Untuk diskusi saham secara lengkap, pilihan saham bulanan, dan insight komprehensif untuk member, kamu bisa join di Mikirsaham dengan klik link di sini..

Saham Grup Bakrie Mulai Bangkit, Tapi Cek Dulu Teknikalnya! 

Saham grup Bakrie kompak terbang pada hari pertama pasar di buka setelah libur panjang lebaran. 

Saham DEWA terpantau terbang paling kencang sampai 16 persen lebih pada perdagangan kemarin Rabu (25/3/2026), diikuti saham BUMI dan DEWA yang menguat kisaran 8 - 9 persen, serta saham ENRG dengan kenaikan paling buncit sekitar 5 persen. 

Deretan saham Bakrie mulai rebound setelah libur panjang ini cukup wajar karena rata-rata sejak awal tahun geraknya sudah loyo. 

Secara berurutan saham BUMI, DEWA, dan BRMS dari awal tahun sahamnya sudah terjun lebih dari 30 persen. Sementara ENRG masih lebih moderat kontraksinya sekitar 8 persenan dengan periode yang sama. 

Sementara pada perdagangan hari ini, Kamis (26/3/2026), saham grup Bakrie terpantau terkoreksi tipis. 

Secara teknikal, geraknya hampir mirip. Tren harga masih belum keluar dari fase downtrend.

Jadi, rebound sehari yang terjadi kemarin belum cukup kuat untuk disebut sebagai akumulasi.

Dalam jangka pendek, pergerakan harga masih berpotensi sideways terlebih dahulu sambil menunggu konfirmasi arah berikutnya. Area MA20 dan MA50 juga masih menjadi resistance dinamis yang cukup kuat untuk ditembus.

Namun, risiko yang perlu diperhatikan adalah jika harga kembali gagal bertahan di area support terdekat, maka tekanan jual masih berpotensi berlanjut dan membuka peluang melanjutkan tren turun ke level support berikutnya.

Karena itu, untuk saat ini pendekatan yang lebih aman adalah menunggu konfirmasi pembalikan tren, seperti:

  • harga mampu break dan bertahan di atas MA50,
  • atau terbentuk higher low yang diikuti peningkatan volume.

Selama sinyal tersebut belum muncul, pergerakan saham-saham ini masih cenderung berada dalam fae konsolidasi dengan bias turun.

Sebagai saham konglo, saat ini deretan saham grup Bakrie ini juga masih dalam mode wait and see kepemilikan investor >1% secara lebih lengkap yang kabarnya akan selesai akhir Maret 2026 ini. 

Setelah itu, pada April akan ada pertemuan regulator (BEI dan OJK) dengan MSCI untuk membahas lanjutan soal free float dan transparansi bursa ke depan. 

Ini menjadi semakin penting karena isu teknis setelah morning call MSCI pada akhir Januari lalu terbukti berpengaruh signifikan ke saham konglo. Bahkan, IHSG sempat terseret trading halt dua kali. 

Tentu kita tidak mau mengulangi momen mencekam itu untuk yang ke-sekian kali. Maka dari itu, kita mengantisipasi itu sebagai risiko outflow yang masih bisa terjadi, setidaknya sampai Mei 2026 karena ada rebalancing kedua MSCI. Pasalnya, ada tiga saham grup Bakrie yang masuk dalam konstituen mereka. Berikut datanya: 

Meski demikian, di tengah kondisi teknikal yang masih rapuh tersebut, sejumlah sentimen fundamental dan aksi korporasi terbaru juga mulai bermunculan dari emiten-emiten di grup Bakrie. 

Mulai dari ekspansi bisnis, pendanaan, hingga perubahan komposisi pemegang saham besar. Berikut perkembangan terbaru dari deretan emiten grup Bakrie yang menarik dicermati:

Saham BUMI 

Pertama, ada BUMI yang terus melakukan sejumlah langkah strategis untuk memperkuat bisnisnya.

Pada Februari 2026, BUMI menerbitkan Obligasi Berkelanjutan I Tahap IV Tahun 2026 senilai sekitar Rp612,75 miliar. Penerbitan ini merupakan bagian dari program obligasi berkelanjutan dengan target penghimpunan dana hingga Rp5 triliun untuk memperkuat likuiditas perusahaan.

Di sisi lain, BUMI juga mulai serius mendorong diversifikasi bisnis ke sektor mineral dan energi baru terbarukan (EBT). Salah satu langkah pentingnya adalah akuisisi 100% Wolfram Limited, perusahaan tambang tembaga dan emas asal Australia, dengan nilai sekitar Rp698 miliar.

Tambang Wolfram ditargetkan kembali beroperasi pada pertengahan 2026, dengan estimasi produksi lebih dari 9.000 ton tembaga ekuivalen.

Sementara itu, dari sisi kepemilikan saham, terjadi perubahan signifikan. Chengdong Investment Corporation (CIC) yang sebelumnya menjadi salah satu pemegang saham besar BUMI, dilaporkan sudah tidak lagi muncul dalam daftar pemegang saham di atas 1% berdasarkan data KSEI per 27 Februari 2026.

Aksi ini terjadi setelah Chengdong melakukan divestasi besar-besaran sejak akhir 2025 hingga awal 2026.

  • Awal Januari 2026: Kepemilikan masih sekitar 5,99 persen atau sekitar 22,2 miliar saham
  • Pertengahan Januari 2026: Turun menjadi 4,99 persen atau sekitar 18,5 miliar saham
  • Akhir Januari 2026: Kembali turun drastis menjadi 2,81 persen atau sekitar 10,44 miliar saham

Dengan kecepatan penjualan tersebut, posisi Chengdong kemungkinan sudah habis atau tersisa sangat kecil di bawah 1 persen pada pertengahan Maret 2026.

Dalam keterbukaan informasi, manajemen Chengdong menyebutkan bahwa transaksi ini memang dilakukan untuk tujuan divestasi langsung. Kalau melihat secara historis, langkah itu wajar sebagai bagian dari akhir siklus restrukturisasi utang lama, di mana kreditur akhirnya merealisasikan keuntungan setelah harga saham BUMI mengalami pemulihan.

Beralih ke bisnis batu bara sendiri, untuk tahun 2026, BUMI menargetkan produksi batu bara konsolidasi mencapai 77–78 juta ton, termasuk kontribusi dari anak usaha Arutmin. 

Sebagai catatan, tambang batu bara BUMI itu punya status IUPK, ini memastikan bahwa "pintu" untuk mencapai target tersebut tetap terbuka lebar tanpa hambatan kuota dari RKAB (Rencana Kerja dan Anggaran Biaya).

Laba Bersih TOWR Tumbuh 10 Persen, Masih Layak Harga di bawah Rp500?
Saham TOWR menguat signifikan selama dua hari perdagangan terakhir usai merilis laporan keuangan 2025 yang hasilnya menorehkan laba tumbuh 10%. Kira-kira gimana prospeknya ke depan?

Saham BRMS 

Berikutnya ada BRMS. Emiten tambang emas ini dijadwalkan menggelar RUPS Tahunan pada 30 April 2026. Dalam rapat tersebut, ada beberapa agenda yang berpotensi menjadi perhatian investor.

Salah satunya adalah pembahasan penggunaan laba bersih tahun buku 2025. BRMS sebelumnya melaporkan kinerja yang cukup kuat dengan laba bersih mencapai sekitar US$ 50,09 juta, melonjak hampir dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.

Meski begitu, peluang pembagian dividen diperkirakan masih relatif kecil. Kemungkinan besar manajemen akan menahan laba untuk reinvestasi, mengingat BRMS masih berada dalam fase ekspansi.

Selain itu, manajemen juga berpotensi memberikan update terkait target produksi emas 2026 yang diproyeksikan mencapai sekitar 80.000 ons, atau naik sekitar 11 persen dibandingkan realisasi produksi 2025 sebanyak 72.000 ons, yang juga naik 11 persen secara tahunan. 

Agenda lain yang biasanya juga menjadi sorotan adalah perkembangan proyek strategis perusahaan, termasuk pembangunan fasilitas pengolahan emas di Palu dengan kapasitas sekitar 2.000 ton bijih per hari yang ditargetkan selesai pada kuartal IV-2026, serta rencana pengembangan tambang bawah tanah dan tambang dengan kadar emas lebih tinggi untuk periode berikutnya.

Saham DEWA 

Ketiga ada saham DEWA yang terpantau juga aktif melakukan aksi korporasi. 

Perusahaan kontraktor tambang ini telah merampungkan program buyback saham pada pertengahan Februari 2026, lebih cepat dari jadwal awal.

Secara total, DEWA menghabiskan dana sekitar Rp949,99 miliar atau hampir seluruh plafon Rp950 miliar yang disiapkan. Dari program ini, perusahaan berhasil membeli kembali sekitar 1,63 miliar lembar saham, setara dengan 4,03% dari total saham beredar.

Aksi buyback ini dinilai cukup membantu menjaga pergerakan harga saham DEWA, terutama di tengah volatilitas sektor energi pada awal tahun. 

Menariknya, setelah program ini selesai, manajemen juga berencana mengusulkan buyback tahap kedua dalam RUPS yang dijadwalkan pada 29 April 202

Di sisi operasional, DEWA dijadwalkan mulai menggarap proyek tambang milik PT Kaltim Prima Coal (KPC) secara penuh pada 2026. Proyek ini diharapkan dapat membantu meningkatkan margin keuntungan sekaligus memperbaiki arus kas perusahaan.

Saham ENRG 

Terakhir ada ENRG yang memberikan kabar terbaru penemuan minyak baru di sumur Cenako–1 Twin di blok South CPP, dengan estimasi original oil in place sekitar 15,6 juta barel.

Selain itu, perusahaan berhasil mengaktifkan kembali sumur gas Bentu–2 yang sebelumnya idle, dengan potensi produksi sekitar 5 juta kaki kubik gas per hari.

Dari sisi pembiayaan, perusahaan ini telah menerbitkan Obligasi Berkelanjutan I Tahap II Tahun 2026 senilai Rp1 triliun, yang resmi tercatat di Bursa Efek Indonesia pada 18 Februari 2026.

Dana tersebut akan digunakan untuk mendukung belanja modal (capex) sekitar US$200 juta di 2026, terutama untuk kegiatan pengeboran dan peningkatan produksi migas.

Dari lantai bursa, saham ENRG terpantau diakumulasi. Pada 16 Maret 2026, beberapa entitas termasuk Shima Global Kapital dilaporkan menambah kepemilikan lebih dari 71 juta saham ENRG.

Kesimpulan 

Rebound saham grup Bakrie setelah libur panjang lebih banyak dipengaruhi faktor teknikal setelah penurunan tajam sejak awal tahun. 

Meski beberapa emiten mulai menunjukkan aksi korporasi dan perkembangan fundamental, tren harga secara teknikal masih berada dalam fase konsolidasi dengan bias turun. 

Karena itu, investor masih perlu menunggu konfirmasi pembalikan tren dan memperhatikan risiko eksternal seperti isu MSCI serta potensi outflow hingga pertengahan tahun.

Mau Dapat Insight dan Idea Saham Investing hingga Trading dengan Strategi Sesuai Kebutuhanmu?

Kamu bisa dapatkan semuanya di Mikirsaham.com, join sekarang dan dapatkan deretan benefit yang membantumu investasi di saham seperti:

  • Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
  • Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
  • Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
  • Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US, Aksi korporasi, dan IPO
  • Event online bulanan
  • Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
  • Hingga konsultasi private dengan founder kami

Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini

Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini

💡
Dapatkan Tools Analisis Saham Paling Cocok Untuk Investor Ritel serta Pilihan Saham Indonesia hingga AS dengan AI bersama Investing Pro. Dapatkan Promo Spesial Dari Mikirduit dengan Klik di sini