Iran-AS Memanas, Sebagian Selat Hormuz Ditutup, Cek Pilihan Saham Related Migas di Sini
Beberapa saham yang terkait minyak dan gas (migas) jadi buruan pelaku pasar lagi untuk trading jangka pendek setelah Iran memutuskan menghentikan operasional sebagian selat Hormuz. Kira-kira saham oil mana yang masih menarik dilirik?
Mikirduit - Iran-AS semakin panas, potensi terjadinya perang diperkirakan hanya akan dalam beberapa hari-minggu. Sejumlah saham related migas kini jadi incaran pasar untuk trading, kira-kira saham mana yang menarik dilirik?
Highlight
- Risiko geopolitik antara Iran-AS semakin memanas, paling baru selat Hormuz mulai ditutup sebagian.
- Hal itu membuat harga minyak mentah menguat, bahkan sempat sehari naik kisaran 5 persen.
- Pelaku pasar memanfaatkan momentum jangka pendek untuk trading di saham yang berkaitan dengan migas.
- Untuk diskusi saham secara lengkap, pilihan saham bulanan, dan insight komprehensif untuk member, kamu bisa join di Mikirsaham dengan klik link di sini.
Iran-AS Mau Perang, Sebagian Selat Hormuz Ditutup
Risiko geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kian memanas.
Senator Partai Republik AS Lindsey Graham mengatakan perang antara dua negara itu akan terjadi dalam beberapa pekan mendatang.
Bahkan, eks Kepala Intelijen Israel Defense Forces (IDF), Amos Yadlin, mengisyaratkan bahwa aksi militer dapat terjadi dalam hitungan hari, meski jalur diplomatik disebut masih terbuka.
AS diketahui telah mengerahkan kapal induk kedua di tengah peringatan kemungkinan serangan terhadap Iran jika perundingan gagal.
Di sisi lain, Iran mengaku tidak gentar. Mereka justru mengambil keputusan besar yang mengejutkan pasar, di mana untuk pertama kalinya Iran menutup sebagian wilayah Selat Hormuz pada Selasa (17/2/2026).
Televisi pemerintah Iran mengonfirmasi pembatasan akses dilakukan dengan alasan keamanan, bertepatan dengan dimulainya latihan militer oleh Garda Revolusi Iran.
Beberapa laporan dari sumber Gulf News dan The War Zone mengkonfirmasi bahwa kapal perang Rusia, termasuk korvet Stoikiy, tiba di Bandar Abbas pada 18 Februari 2026, untuk latihan bersama dengan Iran dan China di bawah "Sabuk Keamanan Maritim 2026" di dekat Selat Hormuz, di tengah peningkatan kekuatan militer AS di wilayah tersebut.
Associated Press melaporkan penutupan ini diperkirakan hanya berlangsung beberapa jam, ,meski begitu langkah tersebut tetap memicu kewaspadaan global. Pasalnya, Selat Hormuz merupakan titik paling strategis dalam perdagangan energi dunia.
Berdasarkan data EIA, selat ini menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan menjadi jalur utama distribusi energi global. Pada titik tersempitnya, lebarnya hanya sekitar 33 kilometer. Namun, perannya sangat vital karena:
- Sekitar 15 juta barel minyak per hari melintas di jalur ini
- Setara dengan hampir seperlima pasokan minyak mentah dunia
- Sekitar 82 persenpengiriman minyaknya menuju pasar Asia

Negara-negara OPEC seperti Arab Saudi, Irak, Kuwait, dan Uni Emirat Arab sangat bergantung pada jalur ini untuk ekspor minyak.
Selain itu, Qatar sebagai eksportir LNG utama dunia juga mengandalkan akses Selat Hormuz untuk distribusi globalnya.
Akibat penutupan sementara sebagian selat Hormuz, harga minyak mentah terpantau langsung melesat pada perdagangan Rabu kemarin (18/2/2026) sampai kisaran 4-5 persen dalam sehari.
Harga minyak jenis Brent sudah menembus US$ 70 per barel, sementara jenis WTI berada di level US$ 65 per barel, posisi ini sudah mau menyamai posisi tertinggi sejak Agustus tahun lalu.

Menghadapi potensi blokade, beberapa negara Teluk diketahui telah menyiapkan jalur alternatif:
- Arab Saudi mengoperasikan East-West Crude Oil Pipeline berkapasitas 5 juta barel per hari.
- Uni Emirat Arab membangun pipa yang menghubungkan ladang minyak ke terminal ekspor Fujairah di Teluk Oman, dengan kapasitas pengalihan hingga 2,6 juta barel per hari.
Meski demikian, kapasitas alternatif ini belum sepenuhnya mampu menggantikan volume yang biasa melewati Selat Hormuz.
Pelaku industri pelayaran kini juga dalam posisi siaga tinggi. Risiko gangguan navigasi, potensi serangan elektronik, hingga lonjakan harga minyak menjadi kekhawatiran utama jika konfrontasi berkembang menjadi blokade jangka panjang.
Namun sejumlah analis menilai, penutupan total justru akan merugikan Iran sendiri, mengingat negara tersebut juga membutuhkan jalur ini untuk menjaga ekspor energi ke pembeli utama seperti China.

Peluang Trading di Saham Related Minyak
Risiko geopolitik Iran-AS menjadi sinyal geopolitik paling serius dalam beberapa bulan terakhir dan berpotensi memicu volatilitas besar di pasar enegi dan saham.
Selain itu, ketegangan di Selat Hormuz berpotensi mendorong kenaikan ton-mile demand, karena kapal harus mengambil rute alternatif yang lebih panjang.
Kondisi ini umumnya berdampak positif bagi perusahaan pelayaran energi dalam jangka pendek, terutama jika terjadi kenaikan tarif angkut (freight rate) dan premi asuransi.
Di pasar saham, beberapa sektor yang biasanya menjadi fokus pelaku pasar antara lain:
- Saham hulu migas (upstream) → Paling sensitif terhadap kenaikan harga minyak mentah, sehingga berpotensi mencatat kenaikan kinerja saat harga komoditas menguat.
- Saham jasa penunjang energi & offshore → Diuntungkan dari peningkatan aktivitas eksplorasi dan produksi jika harga minyak bertahan tinggi.
- Saham tanker & perkapalan energi → Berpotensi menikmati kenaikan tarif angkut akibat rute pelayaran yang lebih panjang serta meningkatnya risiko operasional.
- Saham LNG & gas → Bisa mendapat sentimen positif jika terjadi pergeseran permintaan energi dari minyak ke gas.
Dari sejumlah sektor itu, sudah kelihatan beberapa emiten yang memiliki bisnis berkaitan dengan minyak dan kapal mulai menanjak. Bahkan, beberapa sudah naik ratusan persen hanya dalam kurun waktu tiga bulan.
Mayoritas saham dalam daftar mencatatkan kenaikan signifikan secara 3 bulanan, bahkan beberapa melonjak lebih dari 100 persen. Saham seperti SOCI (+226,19 persen), GTSI (+177,31 persen), LEAD (+148,72 persen), BBRM (+140,91 persen), hingga BULL (+138,74 persen) mencerminkan kuatnya sentimen terhadap sektor tanker, offshore, dan distribusi energi di tengah dinamika geopolitik global.
Kenaikan ini menunjukkan bahwa dalam fase booming energi dan meningkatnya risiko gangguan jalur distribusi global, pasar cenderung mengakumulasi saham-saham yang memiliki eksposur langsung terhadap minyak, gas, dan logistik laut.
Namun, jika melihat pergerakan 1 bulan terakhir, sebagian besar saham justru mengalami koreksi. Beberapa bahkan terkoreksi cukup dalam seperti HUMI (-27,53 persen), MBSS (-28,75 persen), GTSI (-26,99 persen), dan RAJA (-25,19 persen). Koreksi jangka pendek ini tidak lepas dari tekanan pasar akibat faktor eksternal seperti rebalancing MSCI dan aksi ambil untung setelah reli tajam sebelumnya.
Artinya, secara tren menengah (3 bulan), sektor ini masih dalam fase bullish. Tetapi dalam jangka pendek (1 bulan), harga sedang mengalami konsolidasi atau pullback.
Kondisi seperti ini sering kali membuka peluang trading, khususnya untuk:
- Mencari saham yang secara fundamental dan sektoral masih mendapat sentimen positif, tetapi harganya terkoreksi karena faktor teknikal atau tekanan indeks.
- Mengincar saham yang relatif laggard dibanding rekan sektornya, selama tren sektor energi dan pelayaran masih kuat.
- Memanfaatkan momentum rebound teknikal ketika tekanan jual mulai mereda.
Dengan kata lain, selama sentimen geopolitik dan harga energi masih mendukung, koreksi jangka pendek akibat faktor teknikal dapat menjadi area akumulasi selektif, terutama pada saham yang belum terlalu jauh kenaikannya dibanding peers.
Tentu tetap diperlukan manajemen risiko yang disiplin, mengingat volatilitas sektor ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik antara Iran-AS dan mungkin saja bisa meluas dengan beberapa negara lainnya, ditambah pergerakan harga komoditas, terutama energi seperti minyak dan gas.
Mikirduit Lagi Ada Diskon Rp200.000 sampai Rp1 juta untuk Join Mikirsaham Nih!
Benefitnya mencakup:
- Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
- Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
- Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
- Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US, Aksi korporasi, dan IPO
- Event online bulanan
- Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
- Hingga konsultasi private
Untuk detail kamu bisa baca lebih detail terkait benefit dengan klik di sini
