IHSG Jeblok, Begini Strategi untuk Investor dan Trader Memanfaatkan Peluangnya

Saat market turun memang rasanya tidak enak, tapi tetap ada peluang yang bisa digarap. Begini strategi saat market turun untuk trader dan investor

strategi saham saat market turun

Mikirduit – IHSG sudah turun 21,24 persen sejak akhir Januari 2026 hingga 16 Maret 2026. Bahkan, menjadi salah satu indeks saham dengan kinerja terburuk. Dalam kondisi begini, apa yang bisa dilakukan sebagai investor dan trader?

Key Takeaways
  • IHSG yang turun lebih dari 21 persen sejak akhir Januari 2026 dipicu kombinasi euforia sebelumnya pada saham konglomerasi dan backdoor listing, lalu diperparah sentimen negatif seperti keputusan MSCI, pelemahan outlook utang Indonesia, hingga risiko geopolitik global.
  • Bagi investor, koreksi pasar bisa menjadi peluang membeli saham berkualitas secara bertahap (lump sum bertahap) dengan horizon menengah hingga panjang selama dana yang digunakan bukan uang panas.
  • Sementara itu, trader disarankan lebih berhati-hati dan cenderung wait and see karena pasar memasuki era “hard money” dengan pergerakan yang lebih sideways dan volatil dibanding periode easy money sebelumnya.

IHSG sempat mencatatkan kinerja yang sangat impresif sejak 7 Juli 2025 hingga mencapai level tertingginya di  19 Januari 2026. Total kenaikan dalam 6 bulan itu sekitar 34 persen. Namun, kenaikan selama 6 bulan itu langsung dibabat dalam 2 bulan di Februari hingga pertengahan Mei dengan penurunan lebih dari 20 persen.

Kenaikan IHSG sebelumnya juga mengundang tanda tanya, euforia market yang terjadi terdorong oleh transaksi impulsif memburu saham konglo yang berniat masuk MSCI. Ditambah, ada kenaikan saham-saham tidak likuid yang sangat signifikan karena sentimen backdoor listing dalam jumlah yang tidak sedikit.

Sementara itu, saham-saham yang likuid cenderung tidak bergerak signifikan, meski bergerak naik jika dibandingkan dengan saham konglo dan backdoor listing perbandingannya bagai bumi dan langit.

Hingga akhirnya, berbagai sentimen negatif datang mulai dari vonis MSCI yang membekukan rebalancing pasar saham Indonesia untuk menunggu reformasi hingga Mei 2026, penurunan rating Outlook utang Indonesia oleh beberapa lembaga pemeringkat, defisit APBN yang kian melebar mendekati batas ketentuan Undang-undang di 3 persen, hingga perang AS - Israel yang menyerang Iran hingga membawa harga minyak naik tinggi.

Dalam kondisi ini, apa strategi yang cocok untuk trader dan investor?

Kami mendikotomikan strategi investor dan trader dalam tulisan ini karena respons keduanya saat market turun seperti ini memang berbeda.

Jika Kamu Investor

Investor dikenal sebagai fundamentalist, tapi banyak juga investor yang mengombinasikan teknikal, bandarmologi, dan fundamental untuk menciptakan conviction. Nah, sebenarnya perbedaan antara investor dan trader bukan cara analisisnya, tapi kesiapan untuk hold saham hingga momentum peak-nya.

Berhubung investor siap hold saham dengan periode yang lebih lama, dengan begitu investor punya fleksibilitas strategi masuk membeli sebuah saham tanpa perlu menunggu tanda-tanda rebound. Seperti kata Warren Buffett, serakahlah saat orang lain takut, dan takut lah saat orang lain serakah.

Kutipan dari Buffett itu menunjukkan strategi investor cenderung contrarian dengan kondisi pasar. Alasannya, saat membeli ketika pasar saham turun, para investor bisa mendapatkan harga yang terbaik dengan periode hold cenderung jangka menengah - panjang. 

Berapa lama seorang investor hold sebuah saham? jawabannya tergantung, tidak ada bakunya. Untuk kami di Mikirduit, kami menetapkan jangka menengah itu harus punya toleransi hold maksimal 2 tahun. Toleransi hold ini berarti dana yang digunakan untuk investasi tidak digunakan dalam 2 tahun ke depan (bukan uang panas). Namun, jika saham jangka menengah sudah cuan lebih dari 30 persen dalam 3-12 bulan dengan momentum ke depannya yang terbatas bisa dilepas. 

Sementara itu, untuk jangka panjang berarti hold lebih dari 2 tahun dengan syarat kita harus punya harga saat saham itu bau banget. Misalnya, saat ANTM di Rp1.300-Rp1.500, INCO saat di Rp2.000-an per saham, hingga ADMR saat di Rp900-an per saham. Caranya, kita benar-benar harus memahami fundamental bisnis dan menerawang prospek bisnis-nya tersebut. Serta, untuk jangka panjang bisa pilih yang memiliki dividen juga sehingga ada uang tunggunya. Jika kamu mau list saham pilihan jangka menengah dan panjang Mikirduit bisa klik di sini

Sehingga, ketika pasar saham tertekan seperti jelang libur lebaran ini bisa menjadi titik beli terbaik untuk para investor. Catatannya, ketika membeli saat pasar saham tertekan begini jangan ALL IN. Seorang investor akan melakukan pembelian bertahap, meski dananya sudah ready 100 persen. Kami sering sebutnya Lump Sum bertahap.

Jadi, ketika kamu ingin masuk ke sebuah saham dengan dana yang sudah tersedia, kamu bisa bagi pembelian secara bertahap. Misalnya, kamu tertarik beli saham KLBF di harga Rp965 per saham dengan berbagai alasan seperti, kinerja masih bertumbuh, ada dividennya kecil, masih ada ekspansi dengan kerja sama dengan beberapa pihak seperti Livzon China, dan mulai menggarap lini bisnis baru terkait deteksi kanker. (Ini hanya contoh dengan analisis yang kami lakukan, bukan rekomendasi jual-beli)

Lalu, kamu ada dana Rp100 juta untuk masuk ke saham tersebut. Dengan berbagai pertimbangan seperti pelemahan kurs rupiah yang ada di area Rp16.800 - Rp17.000 bisa jadi risiko bagi KLBF yang memiliki bahan baku obat impor. Berarti, kamu bisa pertimbangan dari modal Rp100 juta, kamu masuk 30 persen terlebih dulu di sekitar Rp30 juta di harga Rp965 per saham.

Sisa dananya bisa diatur masuk jika berada di bawah harga rata-rata atau mulai naik selaras dengan pemulihan market. Dari sini, sebagai investor kita manajemen risiko ketidakpastian risiko pasar dengan menyisakan peluru yang bisa ditembakkan jika ada risiko atau peluang membaik.

Guideline Strategi untuk Menangkap Peluang Cuan di Saham Saat Musim Dividen Tiba
Maret menjadi bulan pembuka musim dividen. Beberapa saham bank besar sudah umumkan pembagian dividen. Lalu, bagaimana strategi saham untuk menangkap peluang di musim dividen?

Jika Kamu Trader

Sebagai trader, ketika melihat pergerakan IHSG dari Juli 2025 sampai Januari 2026 itu sangat indah karena itu adalah era easy money. Mencari saham apapun bisa cuan. Bahkan, mengejar saham yang di pucuk dengan fundamental bisnisnya yang tidak jelas masih bisa dikasih cuan juga.

Lalu, para trader harus menghadapi awan kelabu setelah berbagai sentimen negatif menerpa sejak akhir Januari 2026. Dengan kondisi ini, opsi yang bisa dilakukan trader adalah wait and see. Soalnya, saat ini masuk era hard money. Pergerakan indeks saham gabungan cenderung sideways karena saham-saham di dalamnya bergerak naik-turun dengan cukup cepat.

Trading bisa dilakukan jika pasar saham kembali pulih dan mulai kembali easy money. Cara ini sangat berguna agar kamu tidak kehilangan keuntungan yang telah kamu dapatkan di era easy money.

Untuk itu, kami di Mikirduit selalu menyarankan jika kamu ingin trading berarti kamu juga harus ada porsi investasi. Tujuannya, untuk mengalihkan keuntungan dari trading sebagai aset investasi agar portofolio bisa bertumbuh. 

Kenapa tidak digulung untuk trading lagi? karena ketika ada peralihan dari easy money ke hard money, kamu bisa kehilangan sebagian dari keuntungan sebelumnya dengan potensi balik lagi sangat rendah. Pasalnya, kita masuk ke saham tradingan itu tidak di best price, tidak memperhatikan detail fundamental, dan fokus dengan saham yang lagi ramai dengan narasi jangka pendek.

Memang Fundamental Masih Ada? Apa Sih Fundamental tersebut?

Apakah fundamental hanya terkait laba-rugi setiap laporan keuangan atau sekadar PE dan PBV? jawabannya tidak. Fundamental bukan cuma soal laba-rugi. Ada beberapa komponen fundamental seperti:

  • Kesehatan bisnis (risiko utang berbunga, utang usaha, dan kondisi cash)
  • Pertumbuhan bisnis (laba-rugi)
  • Prospek dan rencana ke depannya (rencana ekspansi hingga anggaran capex)
  • Risiko-risiko bisnis non-keuangan sesuai karakter sektoral dan internal bisnis
  • Valuasi saham menggambarkan tingkat kewajaran membeli saham dengan kondisi fundamental tertentu, apakah terlalu mahal atau murah hingga volatilitas kenaikan atau penurunan harganya sudah seperti apa yang akan terlihat dari valuasi ini

Fundamental memang bukan selalu kuantitatif terkait angka-angka rasio dan sebagainya, berbeda dengan teknikal yang memanfaatkan data-data kuantitatif yang ada secara historis untuk memperkirakan posisi buy dan sell. Fundamental lebih ke asumsi yang bisa saja diinterpretasikan berbeda bagi setiap orang.

Dengan memahami fundamental, kita akan memahami apa risiko atau peluang yang bisa dihadapi oleh emiten di masa depan dalam timeframe 1-2 tahun ke depan.

Misalnya, dalam menilai saham CPO, kami menilai saham TAPG maupun LSIP menarik. Dari segi pertumbuhan kinerja oke, kesehatan bisnis bagus, untuk TAPG punya beberapa rencana ke depannya seperti ekspor bio kokas setelah bekerja sama dengan Grup Toyota

Secara sektoral, saham CPO juga punya momentum B50 yang mungkin dilaunching lebih awal untuk mengurangi ekspor solar. Hal itu bisa mendorong permintaan CPO dalam negeri.

Namun, ada dua risiko saham CPO yang membuatnya tidak menarik untuk dikejar sekarang:

Pertama, ada risiko El Nino yang terjadi di 2026-2027, meski kita belum tahu akan sebesar apa El Nino tersebut. El Nino memang bisa mendorong harga CPO naik karena ada gangguan supply. Tapi, hal itu tidak akan berguna jika produksi CPO mengalami penurunan akibat efek El Nino. Sebagai contoh El Nino terjadi di 2023-2024 yang cukup besar dan lumayan menekan kinerja bisnis maupun harga saham CPO.

Kedua, valuasi saham CPO sudah cukup tinggi karena pertumbuhan kinerja yang agresif dalam 1,5 tahun terakhir (sejak semester II/2024). Dengan adanya risiko El Nino dan valuasi yang nanggung, tidak murah-murah banget, akhirnya kami menilai untuk CPO wait and see dulu.

Namun, bagi trader yang punya timeframe jual-beli harian hingga mingguan, cara menganalisis fundamental memang membuat waktu karena efeknya bisa berbulan-bulan hingga tahun selanjutnya.

Mau Dapat Insight dan Idea Saham Investing hingga Trading dengan Strategi Sesuai Kebutuhanmu?

Kamu bisa dapatkan semuanya di Mikirsaham.com, join sekarang dan dapatkan deretan benefit yang membantumu investasi di saham seperti:

  • Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
  • Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
  • Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
  • Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US, Aksi korporasi, dan IPO
  • Event online bulanan
  • Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
  • Hingga konsultasi private

Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini

Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini

💡
Dapatkan Tools Analisis Saham Paling Cocok Untuk Investor Ritel serta Pilihan Saham Indonesia hingga AS dengan AI bersama Investing Pro. Dapatkan Promo Spesial Dari Mikirduit dengan Klik di sini