Gencatan Senjata Bikin Harga Emas Bangkit, Begini Prospek Saham ANTM hingga ARCI

Harga emas mulai bangkit lagi ke atas US$ 4.800 per troy ons membawa harapan sejumlah saham di sektor logam mulia bisa nanjak lagi. Kira-kira gimana prospeknya dan saham-saham emas mana saja yang menarik dilirik? 

saham emas

Mikirduit - Usai Trump menyatakan menunda rencana serangan ke Iran selama dua minggu, harga emas langsung menguat lebih dari 2 persen. Hal itu langsung direspon sejumlah saham di sektor itu dengan penguatan hari ini, kira-kira gimana prospek sektor ini ke depan dan saham mana yang menarik dilirik? 

Key Takeaways
  • Gencatan senjata perang TimTeng selama dua minggu mendorong harga emas bangkit lagi. 
  • Sejumlah saham emas mulai dari ANTM, BRMS, ARCI, dkk ikutan bergerak moncer.
  • Karakter bisnis tiap emiten emas di bursa beda-beda, ada yang murni, ada yang memiliki bisnis emas hanya untuk diversifikasi.
  • Untuk diskusi saham secara lengkap, pilihan saham bulanan, dan insight komprehensif untuk member, kamu bisa join di Mikirsaham dengan klik link di sini. 

Harga Emas Mulai Bangkit

Harga emas kembali menguat, naik lebih dari 2 persen hingga menembus ke atas level $4.800 per ounce pada Rabu hari ini (8/4/2026). 

Penguatan ini dipicu oleh meredanya tensi geopolitik setelah Presiden Donald Trump mengumumkan penundaan rencana serangan terhadap Iran selama dua pekan. Keputusan ini diambil untuk memberi ruang bagi negosiasi damai yang sedang berlangsung.

Amerika Serikat disebut telah menerima proposal 10 poin dari Iran yang dinilai cukup realistis sebagai dasar perundingan. Dalam periode dua minggu tersebut, kedua pihak diharapkan dapat mencapai dan mengimplementasikan kesepakatan.

Sebagai bagian dari de-eskalasi, Iran juga menyetujui pembukaan kembali Strait of Hormuz selama dua minggu, dengan syarat seluruh serangan dihentikan. Jalur tersebut tetap dapat dilalui dengan koordinasi bersama militer Iran. Israel turut menyetujui gencatan senjata sementara, sementara Pakistan berperan sebagai mediator dengan lanjutan negosiasi dijadwalkan berlangsung di Islamabad.

Sebelumnya, harga emas sempat terkoreksi hingga sekitar 25 persen dari puncaknya sejak konflik dimulai. 

Tekanan tersebut berasal dari lonjakan harga energi yang mendorong kekhawatiran inflasi, sehingga memicu sikap lebih hawkish dari bank sentral. 

Kini, dengan meredanya konflik, tekanan tersebut mulai berkurang dan harga emas kembali mendapatkan momentum.

Saham RI di Sektor Emas Ikut Terbang

Seiring dengan penguatan harga emas karena meredanya ketengahan geopolitik di Timur Tengah, saham-saham sektor logam di Indonesia juga menunjukkan kinerja positif.

Seperti terlihat pada tabel di bawah ini, mayoritas saham di sektor emas sampai penutupan sesi pertama pada Rabu hari ini terpantau di zona positif, kecuali saham UNTR. 

Selain itu, dari sisi teknis, ada FTSE Russell dalam Interim Review April 2026 mengonfirmasi bahwa Indonesia tetap berstatus Secondary Emerging dan tidak masuk ke dalam Watch List.

FTSE juga mengapresiasi berbagai reformasi pasar modal, mulai dari peningkatan transparansi kepemilikan saham, penyesuaian minimum free float, hingga penguatan sistem pengawasan.

Sentimen ini menjadi tambahan katalis positif, khususnya bagi saham-saham emas yang berada di bawah grup konglomerasi, yang sebelumnya sempat tertekan oleh isu teknis seperti rendahnya free float dan kepemilikan yang terlalu terkonsentrasi.

Purbaya Ngebet Ambil Alih PNM untuk Jadi Bank UMKM, Begini Nasib Saham BBRI
Purbaya mengaku sudah dapat persetujuan Danantara untuk ambil alih PNM dari BBRI. Rencananya, PNM mau dijadikan bank UMKM, lalu bagaimana nasib BBRI?

Review Saham Emas di Indonesia

Dari lantai bursa, untuk saham di sektor emas kami mencatat tujun emiten sudah merilis kinerja sepanjang tahun lalu. Mereka adalah ANTM, ARCI, HRTA, EMAS, BRMS, AMMN, dan UNTR.  Sisanya yang belum rilis hanya PSAB saja. 

Perlu dipahami bahwa saham-saham emas di Indonesia memiliki karakter bisnis yang berbeda. Ada perusahaan yang fokus utamanya memang di emas, namun ada juga yang menjadikan logam mulia sebagai bagian dari diversifikasi bisnisnya.

Maka dari itu, kami akan ulas satu per satu supaya lebih tergambarkan bagaimana kinerja keuangan terbaru di 2025 dan prospeknya ke depan: 

Saham ANTM   

ANTM mencatat kinerja yang sangat kuat sepanjang 2025. Laba bersihnya mencapai Rp7,92 triliun, naik 106 persen dibanding tahun sebelumnya. Kenaikan ini bukan cuma karena harga emas yang tinggi, tapi juga karena operasional perusahaan yang memang lagi kencang.

Kalau dilihat dari aktivitasnya, segmen emas jadi mesin utama. Sepanjang 2025, ANTM berhasil menjual sekitar 37,3 ton emas. Tingginya penjualan ini didorong permintaan domestik yang kuat, terutama karena emas sering dijadikan aset lindung nilai saat kondisi ekonomi tidak pasti. Dari sini saja, segmen emas menyumbang sekitar 79 persen dari total pendapatan atau Rp66,47 triliun.

Di luar emas, ANTM juga mencatat peningkatan signifikan di bisnis nikel. Produksi bijih nikel mencapai sekitar 16,1 juta ton, naik tajam dibanding tahun sebelumnya, dengan penjualan sekitar 14,6 juta ton. Ini menunjukkan aktivitas tambang yang jauh lebih agresif dan permintaan domestik yang tinggi. Bahkan, ini jadi salah satu level produksi tertinggi dalam lebih dari satu dekade terakhir.

Sementara itu, segmen bauksit dan alumina juga ikut tumbuh. Produksi bauksit melonjak lebih dari dua kali lipat menjadi sekitar 2,8 juta ton, menandakan bahwa ANTM tidak hanya bergantung pada emas, tapi juga mulai mengoptimalkan komoditas lain.

Jadi kalau disederhanakan, kinerja ANTM saat ini bukan hanya “kebantu harga emas”, tapi juga karena volume produksi dan penjualan di beberapa komoditas memang sedang naik. Ini yang bikin kinerja terlihat jauh lebih kuat secara keseluruhan.

Ke depan, prospeknya masih cukup menarik. Selain emas yang tetap jadi andalan, kenaikan harga nikel dan bauksit sejak awal tahun bisa jadi tambahan dorongan kinerja. Artinya, ANTM punya dua mesin: emas sebagai penopang utama, dan nikel sebagai pendorong pertumbuhan.

Dari sisi investor, daya tarik lain datang dari potensi dividen. Sebagai BUMN, ANTM sering membagikan dividen besar. Bahkan, sempat beredar rumor bahwa payout ratio bisa kembali ke 100 persen. Jika itu terjadi, dengan EPS sebesar Rp299,98, maka dividen per saham (DPS) akan berada di angka yang sama. Dengan harga saham di Rp3.670, ini setara dengan potensi dividend yield sekitar 8,17 persen

Saham ARCI 

ARCI terbilang jadi salah satu bintang di sektor emas tahun 2025. Laba bersihnya tembus sekitar US$102 juta, atau naik hampir 10 kali lipat dibanding tahun sebelumnya. 

Kenaikan ini didorong oleh harga emas yang tinggi, tetapi juga karena efisiensi operasional yang membaik, artinya biaya bisa ditekan sementara harga jual naik, jadi margin ikut melebar.

Dari sisi bisnis, ARCI ini bisa dibilang pure play emas. Hampir seluruh pendapatannya berasal dari penambangan emas, khususnya dari tambang Toka Tindung. Sampai tahun lalu pendapatan ARCI naik 72,5 persen menjadi US$ 496,23 juta. 

Sejauh ini, ARCI belum merilis kinerja operasional pada tahun lalu, tetapi produksi diprediksi naik 25 persen secara tahunan mencapai kisaran 122 - 150 ribu  ounce emas. 

Ke depan, prospek ARCI masih cukup menarik. Perusahaan sedang fokus meningkatkan produksi melalui optimalisasi pit Araren dan potensi ekspansi tambang baru. Selama harga emas tetap tinggi, kinerja ARCI sangat berpotensi ikut terdorong karena bisnisnya yang sangat “direct leverage” ke harga emas.

Selain itu, ARCI juga mulai menunjukkan daya tarik dari sisi dividen. Pada 2025, perusahaan sudah membagikan dividen interim sebesar US$30 juta dengan payout ratio sekitar 42 persen dari laba berjalan.

Melihat kinerja laba yang melonjak tajam, ARCI masih memiliki ruang untuk menaikkan rasio dividen ke depan, seiring arus kas yang semakin kuat. 

Ini jadi sinyal bahwa ARCI mulai masuk fase yang lebih “matang”, tidak hanya growth tapi juga mulai bagi hasil ke investor. Sebagai catatan, ARCI juga sudah masuk indeks GDXJ, hal ini membuka ruang minat asing lebih tinggi. 

Meski begitu, tantangan tetap ada. Karena sangat bergantung pada satu komoditas dan satu area tambang utama, risiko operasional seperti kualitas bijih, cuaca, atau gangguan teknis bisa langsung berdampak ke kinerja. 

Selain itu, ketergantungan penuh pada harga emas juga membuat pergerakan laba bisa sangat fluktuatif. 

Untuk catatan juga, harga emas pada paruh pertama tahun secara rata-rata akan lebih rendah dibandingkan akhir tahun lalu yang pernah mencapai ke atas US$ 5000 per troy ons, ini bisa menjadi risiko setidaknya dalam jangka pendek. 

Saham HRTA 

HRTA juga mencatat tahun yang sangat kuat sepanjang 2025. Laba bersihnya naik 121 persen menjadi Rp978,5 miliar, sementara pendapatan neto melonjak 144 persen hingga Rp44,54 triliun. 

Lonjakan ini menunjukkan bahwa pertumbuhan HRTA bukan hanya didorong harga emas, tetapi juga karena aktivitas bisnis yang memang meningkat signifikan.

Dari sisi operasional, kekuatan utama HRTA ada di volume. Bisnisnya didominasi oleh segmen grosir yang menyumbang lebih dari 80 persen pendapatan, atau sekitar Rp39 triliun. 

Artinya, HRTA banyak bermain di distribusi emas dalam skala besar ke institusi, bukan hanya penjualan ritel. Semakin tinggi transaksi emas di pasar, semakin besar pendapatan yang bisa mereka dorong.

Namun, di balik pertumbuhan tersebut, struktur bisnis HRTA memang membuat margin relatif tipis. Hal ini terlihat dari beban pokok pendapatan yang hampir menyamai total penjualan. Dengan kata lain, HRTA adalah bisnis dengan volume besar dan margin kecil, sehingga efisiensi dan perputaran barang menjadi kunci utama profitabilitas.

Secara positioning, HRTA tetap bisa dikategorikan sebagai pure play emas, namun di sisi hilir. Perusahaan tidak menambang emas, melainkan fokus pada pengolahan, distribusi, dan layanan terkait emas, sehingga lebih bergantung pada volume transaksi dibandingkan harga semata.

Ke depan, prospeknya juga masih cukup menarik. Selain didukung harga emas yang tinggi, peran HRTA dalam ekosistem bullion bank yang mulai berjalan sejak awal 2025 juga berpotensi meningkatkan volume bisnis dan memperkuat posisinya di pasar domestik.

Meski begitu, tantangan tetap ada. Margin yang tipis membuat perusahaan sangat bergantung pada volume, sehingga jika aktivitas transaksi emas melambat, kinerja bisa langsung tertekan. Selain itu, fluktuasi harga emas juga bisa memengaruhi selisih harga beli dan jual, yang pada akhirnya berdampak pada profitabilitas.

Namun, dengan skala bisnis yang besar dan posisi strategis di rantai distribusi emas nasional, HRTA tetap memiliki daya tahan yang cukup kuat di tengah dinamika pasar.

Saham EMAS 

Berikutnya kami mengulas saham EMAS, tetapi untuk catatan dulu, emiten ini baru IPO sejak 23 September 2025. Posisinya masih berada di fase pengembangan, jadi kinerjanya belum mencerminkan potensi sebenarnya. 

Sepanjang tahun, perusahaan membukukan rugi bersih sekitar US$27,49 juta dengan pendapatan yang nyaris nol. Hal ini terjadi karena aktivitas utama perusahaan masih berfokus pada tahap konstruksi proyek, bukan produksi. 

Meski secara laporan keuangan terlihat negatif, aset perusahaan justru meningkat tajam seiring investasi besar yang sedang dijalankan.

Secara operasional, EMAS saat ini benar-benar fokus membangun tambang emas Pani. Sepanjang 2025, aktivitasnya lebih banyak di pengembangan fasilitas, pembangunan infrastruktur, dan persiapan produksi. Artinya, belum ada kontribusi signifikan dari penjualan emas karena memang belum masuk tahap produksi komersial.

Namun, titik pentingnya mulai terlihat di 2026. Produksi perdana dari tambang Pani sudah mulai berjalan sejak Februari, dengan target awal sekitar 79 ribu ounce emas. 

Seiring berjalannya waktu, kapasitas ini akan ditingkatkan melalui proses ramp-up, termasuk optimalisasi fasilitas heap leach. Ini menjadi momen krusial karena EMAS mulai beralih dari fase “bakar uang” menuju fase menghasilkan pendapatan.

Dari sisi bisnis, EMAS merupakan pure play emas yang sepenuhnya bergantung pada proyek Pani, tanpa diversifikasi ke komoditas lain. Artinya, jika produksi berjalan lancar dan harga emas tetap kuat, potensi lonjakan kinerja bisa sangat signifikan. Bahkan, perubahan dari rugi ke laba dalam waktu relatif singkat menjadi skenario yang cukup realistis.

Sejauh ini, prospek yang menarik di EMAS adalah prospek dual listing di bursa Hong Kong. Jika ini berhasil, maka minat investasi asing akan tinggi, apalagi saham EMAS juga sudah masuk indeks GDXJ, bareng dengan ARCI yang masuk pada 20 Maret lalu. 

Namun, ada risiko juga yang membayangi. Selama fase konstruksi, perusahaan masih menghadapi tekanan arus kas atau cash burn. 

Selain itu, ada risiko keterlambatan proyek maupun pembengkakan biaya yang bisa mengganggu timeline produksi. 

Meski begitu, dengan cadangan emas yang besar dan proyek yang mulai berjalan, EMAS tetap punya peluang rebound yang kuat dalam beberapa tahun ke depan.

Saham BRMS 

Berikutnya ada saham emas dari grup Bakrie, BRMS yang tampil solid di 2025  dengan laba bersih mencapai sekitar US$50 juta atau naik 99 persen secara tahunan. Pendapatan juga tumbuh 54 persen menjadi sekitar US$249 juta. Kenaikan ini didorong oleh kombinasi dua hal, yaitu produksi emas yang meningkat dan harga jual emas yang juga naik signifikan.

Dari sisi operasional, produksi emas BRMS mencapai sekitar 71.886 troy ounce, naik 11 persen dibanding tahun sebelumnya. Selain itu, produksi perak sebagai produk sampingan juga naik tajam hingga 45 persen menjadi sekitar 199 ribu ounce. Ini menunjukkan bahwa aktivitas tambang memang semakin optimal, bukan hanya dari sisi volume tapi juga pemanfaatan sumber daya.

Peningkatan kinerja ini juga didukung oleh kapasitas pengolahan yang semakin besar. Fasilitas heap leach di Citra Palu Minerals (CPM) sudah berjalan penuh, sehingga proses ekstraksi emas menjadi lebih efisien. 

Di sisi lain, perusahaan juga mulai meningkatkan kapasitas pabrik dari sekitar 500 ton menjadi 2.000 ton bijih per hari untuk mendukung pertumbuhan produksi ke depan.

Namun, ada dinamika operasional yang perlu diperhatikan. Sepanjang akhir 2025 hingga awal 2026, BRMS menjalani proses pushback di tambang terbuka. 

Secara sederhana, ini adalah proses membuka lapisan tambang untuk mengakses cadangan yang lebih dalam. Dampaknya, kadar emas sempat menurun di jangka pendek, dengan rata-rata sekitar 1,44 gram per ton, sebelum nantinya berpotensi meningkat kembali setelah fase ini selesai.

Selain produksi, BRMS juga cukup agresif di sisi eksplorasi. Anak usaha seperti Gorontalo Mineral dan CPM aktif melakukan pengeboran dan pengembangan wilayah tambang baru, dengan total belanja eksplorasi mencapai jutaan dolar. Ini penting untuk memastikan cadangan emas tetap terjaga dan bisa mendukung pertumbuhan jangka panjang.

Dari sisi bisnis, BRMS tetap merupakan pure play emas, dengan hampir seluruh pendapatan berasal dari emas dan perak sebagai produk sampingan. Artinya, kinerja perusahaan sangat sensitif terhadap pergerakan harga emas global.

Ke depan, prospeknya masih cukup menarik. Dengan kapasitas pabrik yang ditingkatkan dan fasilitas pengolahan yang sudah optimal, BRMS menargetkan peningkatan produksi sekitar 16 persen pada 2026. Selain itu, emiten emas ini juga merupakan pemasok emas untuk bullion bank, hal ini diharapkan menjaga demand ke depan tetap terjaga. 

Namun, tantangan tetap ada. Selain risiko fluktuasi harga emas global, faktor operasional seperti kadar bijih, efisiensi produksi, dan keberhasilan ekspansi menjadi penentu utama kinerja. Proses pushback yang masih berlangsung juga bisa menahan performa dalam jangka pendek sebelum produksi kembali meningkat.

Risiko teknis juga masih bisa membayangi karena saham BRMS itu masuk konstituen MSCI large cap, kalau nanti di bulan Mei ada outflow besar, saham ini masih rawan bergerak volatile. 

Saham AMMN 

Berikutnya ada AMMN yang terpantau justru mengalami penurunan kinerja pada 2025. Laba bersih turun 60 persen menjadi US$258 juta, meski margin EBITDA masih cukup solid di 57 persen. 

Pendapatan turun 31 persen menjadi US$1,847 juta akibat transisi penambangan fase 8 yang kadar bijihnya lebih rendah dan proses ramp-up smelter. 

Sebenarnya penurunan kinerja ini bukan karena permintaan melemah, tapi lebih karena faktor operasional. Perusahaan sedang berada di fase transisi tambang, di mana kadar bijih yang ditambang lebih rendah, sehingga hasil produksi ikut tertekan.

Kalau dilihat dari operasionalnya, AMMN ini sebenarnya punya skala yang sangat besar. Produksi tembaga dan emas tetap berjalan, namun karena kualitas bijih menurun, jumlah logam yang dihasilkan per ton menjadi lebih kecil. Ini yang membuat pendapatan dan laba ikut turun, meskipun secara aktivitas tambang masih aktif.

Selain itu, AMMN juga sedang menjalankan proyek besar, yaitu pembangunan dan ramp-up smelter. Proses ini penting untuk mendukung hilirisasi, tapi dalam jangka pendek justru menambah beban biaya dan kompleksitas operasional. Jadi, wajar kalau kinerja 2025 terlihat tertekan.

Perlu dipahami juga bahwa AMMN bukan pure play emas. Emas di sini hanya produk sampingan dari tambang tembaga. Kontribusinya memang cukup besar, sekitar 20 sampai 30 persen dari pendapatan, tapi tetap bukan yang utama. Artinya, kinerja AMMN lebih dipengaruhi oleh dinamika tembaga dibanding emas.

Prospek jangka panjang AMMN bergantung pada agenda ekspansi besar seperti pembangunan PLTGU, fasilitas regasifikasi LNG, dan ekspansi konsentrator yang akan menstabilkan operasi serta menekan biaya. 

Transformasi hilirisasi ini jadi kekuatan utama. Tantangannya adalah tekanan sementara dari transisi tambang dan ramp-up smelter di 2025, tapi stabilisasi di 2026 diproyeksikan akan memulihkan kinerja dengan cepat.

Saham UNTR 

UNTR juga terpantau mencatat penurunan profitabilitas di 2025 dengan laba bersih Rp14,8 triliun, turun 24 persen year on year, dan revenue Rp131,3 triliun yang turun 2 persen. 

Segmen kontraktor dan batu bara memang menekan, tapi segmen emas jadi penyelamat dengan revenue Rp14 triliun yang naik 41 persen. 

Secara keseluruhan, diversifikasi membantu menahan guncangan. Namun, kontribusi segmen emas hanya sekitar 10-11 persen dari total revenue, jadi UNTR bukan pure play melainkan perusahaan diversifikasi luas di alat berat, batu bara, dan emas. 

Prospek UNTR kini jauh lebih cerah berkat ekspansi agresif di emas dengan mengakuisisi tambang Doup dari PSAB senilai US$540 juta. Tambang brownfield di Sulawesi Utara ini punya cadangan 1,571 juta ounce emas dan resources 3,107 juta ounce, dengan target produksi komersial mulai 2028 sekitar 140.000–155.000 ounce per tahun. 

Ini menjadikan UNTR punya tiga tambang emas utama dan mempercepat strategi keluar dari batu bara. 

Tantangan jangka pendek saat ini adalah penghentian operasi tambang Martabe dari Desember 2025 sampai akhir Maret 2026 yang akan menekan kinerja kuartal satu 2026. 

Meski begitu, untuk kuartal berikutnya ada potensi rebound kuat, karena per akhir Maret tambang Martabe sudah dibuka. 

Ringkasan kinerja profitabilitas dan valuasi saham-saham emas di RI: 

Butuh Insight, Pilihan Saham serta Analisis Peluang dan Risiko, dan Konsultasi dengan Ahlinya?

Kamu bisa dapatkan semuanya di Mikirsaham.com, join sekarang dan dapatkan deretan benefit yang membantumu investasi di saham seperti:

  • Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
  • Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
  • Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
  • Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US, Aksi korporasi, dan IPO
  • Event online bulanan
  • Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
  • Hingga konsultasi private dengan founder kami

Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini

Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini

💡
Dapatkan Tools Analisis Saham Paling Cocok Untuk Investor Ritel serta Pilihan Saham Indonesia hingga AS dengan AI bersama Investing Pro. Dapatkan Promo Spesial Dari Mikirduit dengan Klik di sini