DSSA dan BREN Berstatus High Shareholder Concentration, Begini Nasib ke Depannya
BEI menjalankan transparansi yang direkomendasikan MSCI. Hasilnya, DSSA dan BREN, dua saham MSCI Global Standard divonis berstatus high shareholder concentration. Lalu, bagaimana dampak ke depannya?
Mikirduit – BEI sudah mengumumkan deretan saham high shareholder concentration. Hasilnya BREN dan DSSA menjadi dua saham MSCI yang masuk kriteria tersebut. Lalu, apa dampaknya ke pasar saham Indonesia?
Key Takeaways
- Identifikasi BEI: BREN dan DSSA resmi masuk dalam daftar sembilan saham high shareholder concentration versi BEI karena porsi free float mereka yang tampak besar ternyata secara realitas hanya dikuasai oleh segelintir pihak.
- Ancaman Outflow MSCI: Kedua saham tersebut berpotensi besar segera didepak dari indeks MSCI tanpa adanya saham pengganti instan dari Indonesia, yang diestimasikan akan memicu arus modal keluar (outflow) gabungan sebesar Rp3,05 triliun.
- Bayang-Bayang Kasus Hong Kong 2016: Mengacu pada preseden historis di bursa Hong Kong, saham-saham yang didepak MSCI akibat masalah konsentrasi kepemilikan mayoritas berujung pada tren penurunan harga jangka panjang hingga delisting, meskipun dampaknya pada BREN dan DSSA bisa saja berbeda.
- Untuk diskusi saham secara lengkap, pilihan saham bulanan, dan insight komprehensif untuk member, kamu bisa join di Mikirsaham dengan klik link di sini.
Dari pengumuman BEI, ada 9 saham yang diindikasi high shareholder concentration, yakni BREN, DSSA, RLCO, ROCK, MGLV, IFSH, SOTS, AGII, dan LUCY.
Saham high shareholder concentration adalah saham yang mencatatkan tingkat free float cukup besar, tapi ternyata dikuasai hanya segelintir pihak.
Misalnya, BREN memiliki free float 12,29 persen, tapi ternyata hampir 93 persen sahamnya hanya dikuasai oleh 4 pihak, yakni BRPT sebagai pengendali, Green Era Energi Pte. Ltd, Jupiter Tiger Holdings, dan Zhaocai VCC.
Lalu, DSSA memiliki free float sekitar 20,4 persen. Namun, ternyata hampir 90 persen sahamnya hanya dikuasai oleh 5 pihak, yakni PT Sinar Mas Tunggal, UOB Kay Hian, Fitzgerald & Wilkinson Investment, dan Citibank Hong Kong. Ditambah, kepemilikan saham treasuri DSSA hasil buyback jumbo yang mencapai 19,68 persen dari total lembar saham.
Begitu juga RLCO yang terlihat punya free float 20,04 persen, tapi 94,39 persen sahamnya hanya dipegang oleh 8 pihak.
Apa yang Akan Terjadi Selanjutnya?
Sesuai ketentuan, nantinya BREN dan DSSA akan didepak dari indeks MSCI Global Standard. Namun, belum tentu akan langsung digantikan oleh saham Indonesia lainnya.
Hal serupa pernah terjadi di bursa saham Hong Kong pada 2016. Kala itu, MSCI mendepak 18 saham di bursa Hong Kong yang mencatatkan high shareholder concentration. Komposisinya, 14 saham di MSCI small caps, sedangkan 2 saham di Global Standard.
Saat itu, meski 18 saham didepak, MSCI tidak memasukkan satu saham pun sebagai penggantinya. Apalagi, kala itu bursa saham Hong Kong juga turun 34 persen dalam setahun. Artinya, jika BREN dan DSSA didepak dari MSCI bukan berarti ada pengganti dari saham Indonesia secara langsung pada Mei 2026.
Saat ini, BREN memiliki bobot 3,52 persen dan DSSA memiliki bobot 4,21 persen di indeks MSCI.
Dari perhitungan kami, dengan tingkat bobot tersebut (serta asumsi total dana fund MSCI untuk Indonesia), potensi outflow yang terjadi di dua saham itu sekitar Rp3,05 triliun. DSSA mencatatkan potensi outflow sekitar Rp1,66 triliun, sedangkan BREN sekitar Rp1,39 triliun.
Tingkat outflow lebih rendah dari inflow karena bobot DSSA dan BREN juga kian menyusut. Hingga Februari 2026, bobot DSSA mencapai 4,72 persen dan BREN mencapai 3,94 persen, sedangkan pada September 2026 bobot DSSA mencapai 6,38 persen, sedangkan BREN baru masuk MSCI di November 2025.

Nasib Saham Hong Kong High Shareholder Concentration Pasca Didepak dari MSCI
Dalam kasus pasar saham Hong Kong tersebut, ada 6 saham yang cukup disoroti, yakni Goldin Properties Holdings, Imperial Pacific Internasional Holdings, Wanda Hotel Development, Bloomage Bio Technology, Evergrande Helath Industry Group, dan China Smarter Energy Group.
Sementara itu, 12 saham lainnya jarang terpublikasi karena bobotnya ke indeks global tersebut sangat rendah.
Adapun, kondisi dari 6 saham yang disorot tersebut, 3 saham telah delisting dari bursa saham Hong Kong, yakni Goldin, Imperial, dan Bloomage. Sementara itu, Wanda Hotel, Evergrande Health Industries (sekarang menjadi China Evergrande New Energi Vehicle Group), dan China Smarter Energi Grup masih berada di bursa saham Hong Kong.
Berikut kondisi masing-masing saham Hong Kong dalam kasus 2016 yang masih listing:
- Harga saham Wanda Hotel sempat naik pasca didepak MSCI pada 2016. Namun, setelah itu, harga saham Wanda tidak mampu mencapai level tertinggi pada 2014 lagi dan cenderung mengalami penurunan
- Harga saham China Evergrande New Energi Vehicle Group sempat mencapai all time high pasca didepak dari MSCI 2016. Hal itu terjadi pasca covid-19. Namun, per 2026, harga sahamnya turun ke bawah level penurunan saat didepak MSCI
- Harga saham China Smarter Energy Group juga sempat naik pasca didepak dari MSCI di 2016. Namun, kenaikannya tidak mencapai level tertinggi pada 2015. Lalu, setelah itu cenderung mengalami penurunan.
Namun, kami menilai efek yang terjadi pada DSSA dan BREN mungkin tidak sama seperti yang terjadi di bursa saham Hong Kong. Ini hanya sebagai gambaran perkembangan kejadian di bursa Hong Kong pada 2016 tersebut.
Lalu, bagaimana nasib pasar saham Indonesia secara keseluruhan dan peluang yang bisa diambil dari kondisi ini?
Kamu bisa dapatkan semuanya di Mikirsaham.com, join sekarang dan dapatkan deretan benefit yang membantumu investasi di saham seperti:
- Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
- Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
- Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
- Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US, Aksi korporasi, dan IPO
- Event online bulanan
- Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
- Hingga konsultasi private dengan founder kami
Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini
Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini
