Begini Pola Pergerakan IHSG Pasca Lebaran Periode 2021-2025, Bagaimana dengan 2026?
Seiring Lebaran yang terus maju dalam kalender Masehi, faktor yang mempengaruhi IHSG juga bergeser, dari pandemi dan kebijakan moneter global hingga ketegangan geopolitik serta kondisi fiskal dalam negeri. Kira-kira gimana geraknya pada tahun ini?
Mikirduit - Hari Raya Idul Fitri selalu maju sekitar 10–11 hari setiap tahunnya dalam kalender Masehi. Pergeseran ini membuat konteks ekonomi dan sentimen pasar yang mempengaruhi IHSG juga ikut berubah setiap tahun.
Lalu bagaimana pola pergerakan IHSG menjelang dan setelah Lebaran? Apakah ada pola tertentu yang terbentuk dari data historis?
Key takeaways
- IHSG sebelum Lebaran cenderung bergerak mixed karena investor melakukan positioning menjelang libur panjang.
- Setelah Lebaran, pasar biasanya lebih volatil karena harus menyesuaikan berbagai sentimen global yang terjadi saat bursa Indonesia tutup.
- Tahun 2026 berbeda, karena tekanan pasar sudah muncul lebih awal akibat kombinasi sentimen global dan domestik.
- Untuk diskusi saham secara lengkap, pilihan saham bulanan, dan insight komprehensif untuk member, kamu bisa join di Mikirsaham dengan klik link di sini..
Lebaran Selalu Maju Tiap Tahun
Hari Raya Idul Fitri selalu maju sekitar 10–11 hari setiap tahunnya dalam kalender Masehi karena mengikuti kalender Hijriah. Pergeseran ini membuat konteks ekonomi dan sentimen pasar yang mempengaruhi IHSG juga ikut berubah dari waktu ke waktu.
Melihat perjalanan IHSG dari 2021 hingga 2026, terlihat adanya perubahan besar dalam faktor yang mempengaruhi pasar, terutama di sekitar periode Lebaran.
Jika pada awal periode sentimen pasar masih didominasi oleh faktor kesehatan dan kebijakan moneter global, dalam beberapa tahun terakhir pergerakan IHSG semakin dipengaruhi oleh isu geopolitik, arus dana asing, serta kredibilitas fiskal domestik.
Dalam lima tahun terakhir saja, Lebaran sudah bergeser dari 13 Mei pada 2021 menjadi 21 Maret pada 2026. Pergeseran waktu ini membuat latar belakang ekonomi yang mempengaruhi pasar juga ikut berubah, mulai dari fase pemulihan pandemi, siklus kenaikan suku bunga global, hingga meningkatnya ketegangan geopolitik dan tekanan fiskal.
Pola Pergerakan: Sebelum vs Setelah Libur Lebaran
Jika dilihat dari pergerakan 5 hari sebelum Lebaran, pasar cenderung bergerak mixed, tetapi sering kali masih menunjukkan stabilitas relatif karena investor melakukan positioning aksi jual menjelang libur panjang.
Namun cerita berbeda sering terjadi setelah Lebaran.
Data historis menunjukkan bahwa IHSG setelah Lebaran justru lebih sering mengalami tekanan, terutama karena pasar harus menyesuaikan diri dengan berbagai sentimen global yang terjadi selama bursa Indonesia tutup.
2021–2023: Bayang-bayang Pandemi & Suku Bunga Global
Pada 2021, IHSG bergerak relatif datar sebelum Lebaran di tengah ketidakpastian pandemi dan ancaman Varian Delta. Namun ketika pasar dibuka kembali, IHSG sempat terkoreksi cukup dalam karena investor masih berhati-hati terhadap potensi lonjakan kasus Covid-19.
Tahun 2022 menjadi salah satu periode paling menyakitkan bagi investor. Sebelum Lebaran pasar memang sudah cukup volatil, tetapi tekanan terbesar muncul setelah libur panjang ketika IHSG langsung jatuh lebih dari 4 persen pada hari pertama perdagangan.
Koreksi tajam ini terjadi karena pasar Indonesia harus mengejar ketertinggalan sentimen global yang sudah lebih dulu jatuh akibat perang Rusia–Ukraina dan kenaikan suku bunga agresif oleh The Fed.
Pada 2023, situasinya sedikit berbeda. Meskipun menjelang Lebaran pasar sempat melemah akibat krisis perbankan global yang dipicu runtuhnya Silicon Valley Bank, IHSG justru sempat rebound setelah Lebaran karena fundamental sektor perbankan domestik dinilai jauh lebih kuat.
2024–2025: Tahun Politik, Tarif Trump, Sampai Dominasi Konglo
Memasuki 2024, pasar berada dalam periode tahun politik di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global seperti konflik Iran–Israel serta pelemahan rupiah yang sempat mendekati Rp16.000 per dolar AS.
Di sisi lain, pergerakan IHSG mulai banyak ditopang oleh reli saham-saham konglomerasi, terutama di sektor komoditas, energi, dan infrastruktur digital yang menjadi motor indeks.
Menjelang Lebaran, IHSG sempat mencoba reli, namun tekanan kembali muncul setelah pasar dibuka karena investor asing melakukan aksi jual besar-besaran di tengah ketidakpastian global dan domestik.
Memasuki 2025, dinamika pasar menjadi lebih dramatis. IHSG sempat melonjak tajam menjelang Lebaran dengan kenaikan hampir 4 persen dalam satu hari, didorong oleh pergerakan agresif saham-saham konglomerat. Namun euforia tersebut tidak bertahan lama.
Ketika pasar kembali dibuka setelah Lebaran, IHSG justru mengalami penurunan ekstrem hampir 8 persen dalam sehari.
Koreksi tajam ini terjadi karena pasar harus mengejar akumulasi sentimen negatif global selama libur panjang, terutama setelah Presiden AS, Donald Trump mengumumkan kebijakan reciprocal tariffs yang memicu kekhawatiran perang dagang baru.

Bagaimana dengan 2026?
Jika pada tahun-tahun sebelumnya tekanan pasar lebih sering muncul setelah Lebaran, situasi pada 2026 justru berbeda. IHSG sudah mengalami koreksi cukup dalam bahkan sebelum periode libur panjang dimulai.
Jika ditarik sejak 20 Januari 2026, saat IHSG sempat berada di puncaknya di atas 9.000, hingga menjelang Lebaran, indeks sudah terkoreksi lebih dari 20 persen.
Tekanan ini muncul akibat kombinasi beberapa faktor sekaligus, mulai dari rebalancing indeks MSCI, meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, hingga kekhawatiran terhadap kondisi fiskal domestik.
Selain itu, dinamika global seperti arah kebijakan suku bunga The Fed dan penguatan dolar AS juga masih membayangi pasar. Bahkan di pasar offshore, rupiah melalui kontrak NDF sempat mendekati level Rp17.000 per dolar AS.
Akibat kombinasi berbagai sentimen tersebut, IHSG memasuki periode libur Lebaran dalam kondisi yang relatif sudah tertekan terlebih dahulu.
Setelah Lebaran, Apa yang Perlu Dicermati?
Setelah libur panjang berakhir, kami menilai pasar masih akan menghadapi sejumlah agenda penting yang berpotensi memicu volatilitas:
Salah satu perhatian utama pasar adalah rilis data kepemilikan investor yang lebih rinci dari Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) pada akhir Maret 2026. Data ini akan memetakan struktur aliran dana di pasar saham Indonesia secara lebih detail.
Jika sebelumnya pasar hanya melihat komposisi investor secara sederhana antara asing dan domestik, kini KSEI membagi profil investor menjadi lebih spesifik.
Data tersebut akan menunjukkan perilaku investasi dari berbagai kelompok seperti dana pensiun, perusahaan asuransi, perbankan, perusahaan sekuritas, hingga investor ritel individu yang jumlahnya telah melampaui 12 juta SID.
Informasi ini menjadi penting karena dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai siapa sebenarnya yang menjadi motor utama pergerakan pasar setelah Lebaran.
Selain itu, data yang dirilis juga akan mencakup pembaruan daftar pemegang saham dengan kepemilikan di atas 1 persen, yang akan memberikan gambaran lebih transparan mengenai struktur kepemilikan emiten di Bursa Efek Indonesia.
Rilis data tersebut juga menjadi bagian penting dalam diskusi antara Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dengan MSCI pada April mendatang. Data dari KSEI diharapkan dapat menjawab salah satu isu yang selama ini disoroti oleh lembaga indeks global, yaitu terkait tingkat free float dan transparansi kepemilikan saham di pasar Indonesia.
Isu ini sebenarnya sudah mencuat sejak Morning Call MSCI pada akhir Januari 2026, ketika lembaga indeks tersebut menyoroti beberapa aspek struktur pasar modal Indonesia, termasuk tingkat kepemilikan publik pada sejumlah emiten yang dinilai masih relatif terbatas.
Bagi MSCI, tingkat kepemilikan publik menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan kelayakan suatu pasar untuk dimasukkan dalam indeks global. Oleh karena itu, lembaga tersebut juga mendorong peningkatan transparansi serta perbaikan struktur pasar agar lebih sesuai dengan standar internasional.
Tak lama setelah pertemuan antara OJK dan MSCI, pasar juga akan menunggu pembaruan indeks FTSE Russell pada 7 April 2026. Selanjutnya, perhatian pasar akan tertuju pada evaluasi MSCI pada Mei 2026, yang berpotensi memberikan sentimen besar bagi pasar saham Indonesia, baik positif maupun negatif, tergantung pada hasil penilaian terhadap struktur pasar domestik.
Setelah Mei 2026, kemungkinan pergerakan IHSG bisa lebih "enteng" karena berbagai sentimen negatif sudah mereda.
Namun, masih ada PR tentunya dari dalam negeri soal fiskal dan moneter.
Fiskal kita masih menghadapi tantangan menjaga defisit anggaran tetap di bawah ambang batas 3% PDB, terutama di tengah tekanan belanja sosial yang masif dan kenaikan subsidi energi akibat harga minyak dunia yang fluktuatif.
Sementara moneter di kondisi Rupiah yang melemah terus terhadap dolar AS akan memaksa BI terus menahan suku bunga dalam waktu yang.
Ditambah, perang Timur Tengah tidak kunjung mereda. Posisi harga minyak sudah bertahan di atas 100 dolar AS per barel hampir lebih dari 3 pekan. Jika berlanjut bisa membuat goncangan di ekonomi secara global, termasuk Indonesia. Pasalnya, komoditas energi kerap mendorong inflasi naik karena mempengaruhi biaya distribusi untuk seluruh produk primer maupun sekunder. Cek saham value investing pilihan Mikirduit di sini
Kesimpulan
Jika melihat pola historis, tekanan pada IHSG biasanya muncul setelah Lebaran. Namun pada 2026, tekanan justru sudah terjadi lebih awal.
Kondisi ini menunjukkan bahwa sebagian besar sentimen negatif, mulai dari arus keluar dana asing, ketegangan geopolitik, hingga kekhawatiran fiskal domestik, sudah lebih dulu tercermin di pasar sebelum libur panjang dimulai.
Karena itu, arah IHSG setelah Lebaran kemungkinan akan sangat bergantung pada bagaimana investor merespons berbagai agenda penting yang akan datang.
Di satu sisi, karena pasar sudah terkoreksi cukup dalam sejak awal tahun, peluang technical rebound tetap terbuka jika tekanan makro mereda.
Fase saat ini akan membuat investor lebih selektif memilih saham, dengan fokus pada emiten yang memiliki fundamental kuat, prospek ke depan masih menarik, dividen ciamik, likuiditas tinggi, serta ketahanan terhadap tekanan global.
Hal yang pasti adalah jika kamu sejak awal sudah memiliki plan di sebuah saham, sangat disarankan tidak reaktif dengan gejolak jangka pendek. Namun, kamu bisa melakukan evaluasi secara bertahap dengan objektif tanpa ada panic buying or selling di saham tertentu karena faktor pergerakan harga jangka pendek.
Mau Dapat Insight dan Idea Saham Investing hingga Trading dengan Strategi Sesuai Kebutuhanmu?
Kamu bisa dapatkan semuanya di Mikirsaham.com, join sekarang dan dapatkan deretan benefit yang membantumu investasi di saham seperti:
- Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
- Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
- Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
- Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US, Aksi korporasi, dan IPO
- Event online bulanan
- Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
- Hingga konsultasi private dengan founder kami
Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini
Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini
