5 Hal yang Bisa Kamu Lakukan Agar Tetap Waras Saat Market Bergejolak di Periode Liburan
IHSG sudah terjun 18 persen lebih dari awal tahun membawanya ke posisi terburuk se-Asia. Banyak saham jatuh, porto investor pun nyangkut. Kira-kira gimana biar tetap waras di kondisi seperti ini?
Mikirduit - Sejak awal tahun, IHSG sudah merosot lebih dari 18% dan bahkan menjadi salah satu pasar dengan kinerja terburuk di Asia.
Banyak saham ikut terkoreksi tajam sehingga portofolio investor berubah merah, tak sedikit yang masih nyangkut sampai saat ini. Di tengah kondisi pasar seperti ini, bagaimana cara tetap tenang dan rasional saat menghadapi tekanan di market?
Key Takeaways
- IHSG sudah terjun dalam dan menjadi yang terburuk di Asia.
- Banyak investor nyangkut, mumpung sedang libur panjang, ini saatnya menenangkan diri dan evaluasi supaya tetap waras.
- Untuk diskusi saham secara lengkap, pilihan saham bulanan, dan insight komprehensif untuk member, kamu bisa join di Mikirsaham dengan klik link di sini..
IHSG Dari Awal Tahun
Sejak awal tahun, IHSG sudah turun lebih dari 18 persen, bahkan sempat jebol level 7000 secara intraday, membawa posisi-nya menjadi yang terburuk di Asia.
Berbagai sentimen negatif datang hampir bersamaan, mulai dari drama MSCI, konflik di Timur Tengah yang memanas, hingga triliunan dana asing yang keluar dari pasar.
Di saat yang sama, rupiah juga sempat melemah hingga menembus Rp17.000 per dolar AS.
Kombinasi faktor tersebut membuat pasar saham domestik tertekan dan banyak portofolio investor berubah merah.
Dalam situasi seperti ini, wajar kalau emosi ikut terpancing. Tapi justru di saat seperti inilah penting untuk menjaga kepala tetap dingin agar tidak membuat keputusan investasi yang terburu-buru.
Supaya tetap waras menghadapi kondisi pasar yang bergejolak, ada beberapa hal yang bisa dilakukan:
Jangan panik, tenangkan diri dulu
Saat market turun tajam, reaksi pertama biasanya emosi. Itu wajar.
Melihat portofolio merah bisa membuat panik dan takut harga akan jatuh lebih dalam lagi.
Padahal keputusan investasi yang baik jarang lahir dari kepanikan.
Ketika emosi mengambil alih, investor sering kali justru menjual di harga rendah atau membeli tanpa perhitungan.
Kadang langkah paling bijak yang bisa dilakukan adalah jeda sebentar, tarik napas, dan beri waktu untuk berpikir lebih jernih sebelum mengambil keputusan. Jadikan liburan ini momentum untuk mengistirahatkan pikiran sejenak untuk bisa berpikir lebih objektif nantinya.
Lupakan Portofolio Sejenak Saat Libur Lebaran Hingga Perkembangan News Setidaknya Samapi H-2 Sebelum Libur Usai
Mumpung sedang libur panjang Lebaran, ini bisa jadi waktu yang pas untuk rehat sejenak dari layar portofolio.
Manfaatkan waktu untuk jalan-jalan bersama keluarga, staycation, atau sekadar piknik.
Menjauh sebentar dari market bukan berarti menyerah, tetapi memberi ruang untuk memulihkan mood dan energi.
Dengan pikiran yang lebih fresh, biasanya kita bisa melihat kondisi pasar dengan perspektif yang lebih objektif saat market kembali buka nanti.
Namun, secara realita ini hanya bisa dilakukan oleh investor yang menggunakan uang dingin dan sudah punya rencana. Jika menggunakan uang yang dibutuhkan dalam jangka dekat agak sulit juga untuk tenang. Tapi, tenang terlebih dulu adalah kunci dan alihkan sejenak pikiran dari market, termasuk dari sentimen news seperti perang yang lagi ramai.
Pasalnya, jika terus mantau news perang saat liburan, kamu bisa makin pusing dan stress dengan kondisi porto. Jadi, menjauh dari hiruk pikuk pasar dan sentimen bisa membuatmu berpikir lebih objektif ke depannya.
Inget, kamu mau mantau news saat market libur pun tidak mengubah apa-apa karena perkembangannya bisa berubah saat jelang liburan selesai.
Setelah Liburan, Coba Evaluasi Kondisi Portofoliomu
supaya kita tahu apakah saham yang dimiliki masih sesuai dengan strategi awal atau justru perlu penyesuaian.
Beberapa langkah yang bisa dilakukan saat evaluasi:
- Cek kembali fundamental saham yang dimiliki, apakah bisnisnya masih sehat dan prospeknya masih menarik.
- Baca laporan keuangan terbaru untuk melihat perkembangan pendapatan, laba, dan struktur utang perusahaan.
- Cek kondisi teknikal saham, apakah masih dalam tren turun, sideways, atau mulai menunjukkan potensi rebound.
- Review strategi investasi atau trading yang sebelumnya sudah dibuat, apakah masih relevan dengan kondisi market saat ini.
- Atur kembali money management, seperti menentukan batas risiko, ukuran posisi, atau rencana cut loss jika diperlukan.

Agar strategi ke depan lebih matang, evaluasi juga bisa dilanjutkan dengan beberapa langkah berikut:
- Pisahkan saham yang masih layak hold dan yang perlu dikurangi.
- Identifikasi sektor yang masih punya prospek di tengah kondisi ekonomi saat ini.
- Siapkan watchlist saham menarik sesuai strategi yang kamu pilih jika nantinya market mulai stabil atau muncul peluang baru.
Sering kali keputusan terbaik justru muncul ketika kita punya waktu untuk berpikir lebih tenang dan melihat portofolio secara rasional, bukan saat terburu-buru karena panik pasar.
Stay Calm dan Tetap Fokus di Strategi Awal, Jika dari Awal Masuk Tanpa Strategi Coba Buat Perhitungan Risiko Jalan Keluar yang Paling Rendah
Saat market sedang loyo, penting untuk kembali ke thesis investasi awal.
Coba tanyakan ke diri sendiri:
- Apakah thesis investasiku masih sama?
- Apakah bisnis perusahaannya masih sehat?
- Apakah valuasinya justru makin menarik?
Jika jawabannya masih “iya”, bisa jadi yang berubah hanyalah mood market, bukan kualitas bisnisnya.
Karena itu, tetaplah berpegang pada strategi yang sudah disusun. Jika hanya ikut arus emosi pasar, investor sering kali justru membeli saat euforia dan menjual saat panik.
Saham Selalu Memiliki Siklus-nya, Terutama Saham yang Likuid dan Memiliki Pasang Surut Momentum
Dalam sejarah pasar saham selalu ada siklus.
Artinya, pasar tidak akan terus naik selamanya, tapi juga tidak akan turun selamanya. Ada fase ketika optimisme investor sangat tinggi dan harga saham naik cepat, tetapi ada juga fase ketika pesimisme mendominasi dan banyak investor memilih keluar dari pasar.
Biasanya siklus pasar dimulai dari fase akumulasi, ketika harga saham masih rendah dan hanya sebagian investor yang mulai membeli. Setelah itu masuk ke fase uptrend atau bull market, ketika ekonomi membaik, sentimen positif meningkat, dan semakin banyak investor masuk sehingga harga saham naik lebih tinggi.
Ketika harga sudah naik cukup jauh, pasar biasanya masuk ke fase distribusi, yaitu kondisi ketika saham mulai mahal dan investor besar perlahan mengambil keuntungan. Setelah itu barulah pasar masuk ke fase downtrend atau bear market, ketika sentimen berubah negatif, dana keluar dari pasar, dan harga saham turun cukup dalam.

Investor yang sabar biasanya justru menemukan peluang saat market sedang sepi. Harga saham yang sedang turun, bukan berarti salah
Kadang harga saham turun bukan karena bisnisnya memburuk atau fundamentalnya rusak. Penurunan bisa terjadi karena faktor eksternal seperti sentimen global, capital outflow, atau panic selling di pasar.
Harga bisa turun lebih dulu, sementara nilai bisnisnya belum tentu berubah.
Di tengah kondisi pasar seperti sekarang, yang paling penting adalah tetap tenang dan rasional.
Karena pada akhirnya, cara kita mengelola emosi sering kali sama pentingnya dengan strategi investasi itu sendiri.
Mau Dapat Insight dan Idea Saham Investing hingga Trading dengan Strategi Sesuai Kebutuhanmu?
Kamu bisa dapatkan semuanya di Mikirsaham.com, join sekarang dan dapatkan deretan benefit yang membantumu investasi di saham seperti:
- Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
- Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
- Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
- Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US, Aksi korporasi, dan IPO
- Event online bulanan
- Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
- Hingga konsultasi private dengan founder kami
Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini
Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini
