4 Hal yang Wajib Diperhatikan Jika Nyangkut di Saham Terlalu Dalam

IHSG lagi terjun payung sejak awal tahun, imbasnya banyak saham nyangkut dalam. Apakah bijak kalau kita mau average down atau lebih baik cut loss saja? 

saham

Mikirduit - Sejak awal tahun, IHSG terus mengalami tekanan sehingga banyak saham ikut terkoreksi dan membuat portofolio investor terjebak di posisi rugi. Banyak yang masuk ke saham booming seperti milik konglo justru jadi nyangkut cukup dalam di periode ini. Padahal, titik belinya bukan best price untuk investasi.

Dalam situasi seperti ini, muncul pertanyaan, apakah langkah yang tepat adalah melakukan average down, atau justru lebih baik cut loss untuk membatasi kerugian?

Key Takeaways
  • Average down itu boleh saja, tapi wajib cek dulu fundamental, teknikal, dan struktur kepemilikan sahamnya.
  • Dalam jangka pendek, waspadai efek MSCI dan pergerakan dana besar yang bisa menekan harga saham dalam jangka pendek.
  • Jangan abaikan money management, average down tanpa kontrol risiko bisa membuat kerugian makin dalam.
  • Untuk diskusi saham secara lengkap, pilihan saham bulanan, dan insight komprehensif untuk member, kamu bisa join di Mikirsaham dengan klik link di sini..

Mengalami floating loss di saham sebenarnya hal yang cukup wajar dalam dunia investasi. 

Namun ketika kerugian sudah mencapai puluhan persen, biasanya tekanan psikologis mulai terasa. 

Apalagi kalau posisi saham tersebut memiliki porsi yang cukup besar di portofolio. Kondisi seperti ini sering kali justru yang paling membebani pikiran investor.

Banyak yang bilang kalau floating loss selama belum dijual itu belum dianggap sebagai kerugian yang sebenarnya. Tapi kenyataannya, tidak semudah itu. 

Ketika angka merah di portofolio terus membesar, apalagi jika nilainya cukup signifikan, tekanan psikologis tetap terasa. Bahkan tidak sedikit investor yang jadi sulit tidur atau terus memikirkan posisi sahamnya.

Syukurlah jika dana yang digunakan adalah uang dingin, sehingga kebutuhan sehari-hari tidak akan terganggu. Namun, floating loss yang terus melebar juga bisa terasa “panas” jika dibiarkan terlalu lama.

Selain menekan psikologis, kondisi ini juga bisa membuat kita kehilangan momentum untuk masuk ke peluang saham lain, terutama jika modal yang dimiliki terbatas.

Sebelum memutuskan langkah berikutnya, ada satu hal penting yang perlu dipahami terlebih dahulu: semakin besar kerugian yang dialami, semakin sulit pula harga saham untuk kembali ke titik impas (break even point/BEP).

Dari tabel tersebut terlihat bahwa ketika kerugian mencapai 50%, saham tersebut harus naik 100% hanya untuk kembali ke harga awal. Artinya, semakin dalam kerugian yang terjadi, semakin besar pula kenaikan yang dibutuhkan untuk pulih.

Karena itu, secara manajemen risiko, banyak trader biasanya mencoba menjaga toleransi kerugian di kisaran 5–10%. Pada level tersebut, kenaikan yang dibutuhkan untuk pulih masih relatif tidak terlalu jauh.

Namun bagaimana jika posisi sudah telanjur rugi cukup dalam dan porsinya juga besar? Di sinilah penting untuk melakukan evaluasi sebelum memutuskan apakah akan average down atau justru cut loss.

Mulai Dari Cek Fundamental

Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah memeriksa kembali kondisi fundamental perusahaan. Ini penting untuk menentukan apakah saham tersebut masih layak dipertahankan dan ditambah posisinya, atau justru sebaiknya mulai dikurangi.

Beberapa hal yang bisa dicek antara lain:

  • Apakah neraca perusahaan masih sehat?
  • Bagaimana kondisi arus kas operasional, masih positif atau mulai melemah?
  • Apakah perusahaan memiliki free cash flow yang cukup?
  • Bagaimana struktur utang, terutama utang berbunga?
  • Apakah profitabilitas perusahaan masih tumbuh atau justru menurun?
  • Apakah ada segmen bisnis yang terpukul oleh kondisi ekonomi saat ini?
  • Apakah ada rencana ekspansi atau aksi korporasi yang bisa mempengaruhi bisnis ke depan?
  • Apakah saat pembelian sedang berada di pucuk atau justru masih berada di area valuai yang wajar?

Dari beberapa pertanyaan itu, kita bisa nilai dari kondisi perusahaan terkini dan bisa juga bandingkan dengan kondisi beberapa tahun ke belakang, minimal bisa tiga sampai lima tahun. 

Jika kita rasa masih cukup oke, maka boleh saja untuk kita mulai average down. Namun, kalau yang terjadi sebaliknya, perusahaan-nya sudah red flag dan tak layak beli lagi, maka kita harus siapkan strategi jualan. 

Tapi, tentu saja tidak langsung kita bisa average down dengan beli di posisi harga sesuka kita. Maupun kalau mau dijual sesuka kita, karena loss yang dihadapi waktu loss dalam tentu jumlah-nya besar. 

Baik untuk beli sebagai strategi average down dan jualan untuk cut loss harus dilakukan secara bertahap.

Saham Prajogo Pangestu Mulai Diakumulasi Asing, Sudah di Bottom?
Saham konglomerat Prajogo Pangestu mayoritas sudah jeblok kisaran 20-50 persen sejak awal tahun, menariknya, asing terpantau mulai akumulasi dalam seminggu terakhir. Apakah akhirnya sudah mencapai bottom?

Penting Buat Cek Kepemilikannya! 

Setelah morning call MSCI akhir Januari 2026 lalu, rasanya melihat fundamental perusahaan hanya dari laporan keuangan itu tidak cukup, menelusuri kepemilikan perusahaan juga cukup penting. 

Dalam kondisi market seperti sekarang, menelusuri struktur kepemilikan dan pergerakan pelaku pasar juga menjadi semakin penting. Pasalnya, pasar saham tidak hanya bergerak karena kinerja bisnis, tetapi juga karena aliran dana besar dari institusi dan fund manager.

Apalagi sebentar lagi akan dibuka lebih transparan data investor >1% untuk semua saham di BEI. Kita akan melihat lebih jelas, siapa saja big fund itu. 

Menariknya, beberapa yang sudah rilis seperti saham BPJS TK, saham-nya Lo Kheng Hong, dll. Data seperti ini bisa memberi gambaran tambahan mengenai siapa saja pemain besar yang berada di balik sebuah saham.

Ingat, sebagai investor ritel kita ibarat ikan teri di lautan, sementara di pasar ada “paus” yaitu big fund atau institusi besar yang memiliki kekuatan dana jauh lebih besar. Pergerakan mereka sering kali bisa mempengaruhi arah harga saham.

Strategi ini biasanya seringkali di sebut sebagai bandarmology. Ini bakal jadi panduan kita untuk melihat dalam jangka pendek bagaimana. 

Sebagai catatan, pasar saham Indonesia itu selama lima tahun terakhir mengalami perubahan besar dalam struktur market cap terbesar. Dari yang dulunya di dominasi bluechip perbankan dan konsumer atau sektor yang related dengan pertumbuhan. 

Sekarang justru didominasi saham-saham konglomerat, tidak sedikit yang baru IPO sudah bisa menembus market cap 20 teratas di IHSG. 

Sebagai contoh, lihat saja yang paling mencolok itu saham BREN, baru tiga bulan IPO sudah bisa melampaui market cap BBCA, yang sudah bertahan di bursa lebih dari dua dekade. 

Saham BREN juga sudah masuk jadi konstituen MSCI. Namun, ketika isu free float muncul, saham itu terus longsor sampai saat ini. 

Karena itu, dalam jangka pendek salah satu PR bagi investor adalah mengevaluasi kembali saham yang dimiliki, apakah saham tersebut memiliki keterkaitan dengan indeks MSCI atau sempat dirumorkan akan masuk ke dalam indeks tersebut. 

Langkah ini penting untuk mengantisipasi potensi outflow dana menjelang keputusan rebalancing MSCI berikutnya pada 12 Mei 2026 mendatang.

Untuk membaca arah pergerakan dana besar, ada beberapa indikator yang bisa diamati, di antaranya:

  • Net buy atau net sell investor asing pada saham tertentu
  • Perubahan kepemilikan institusi besar dalam struktur pemegang saham
  • Pergerakan broker asing dalam broker summary, apakah terlihat melakukan akumulasi atau justru distribusi

Dengan memperhatikan indikator-indikator tersebut, investor setidaknya bisa mendapatkan gambaran apakah sebuah saham sedang mendapat dukungan dana besar atau justru mulai ditinggalkan oleh pelaku pasar utama.

Teknikal Check! 

Tahapan selanjutnya, untuk menentukan lebih matang saham itu layak average down atau tidak adalah menggunakan analisis teknikal. 

Analisis ini membantu kita menemukan timing yang lebih optimal untuk average down atau cut loss bertahap supaya risiko bisa diminimalisir. 

Skenario pertama, jika saham masih layak beli secara fundamental dan strukrur kepemilikannya aman, maka kita bisa average down. Cara paling mudah, kita bisa mengamati support-support terdekat sebagai area beli ideal. 

Sebaliknya, skenario kedua jika yang terjadi saham tak layak hold dan akan cut loss, maka kita mencermati resistance-resistance terdekat sebagai area cicil jual bertahap. 

Bisa juga sebagian dari mengamankan modal selepas cut loss itu bisa kita coba alihkan ke saham lain yang sedang trending untuk trading jangka pendek. 

Namun, tetap harus dalam pengawasan yang ketat, dan patuhi prinsip atau strategi awal yang dibuat agar tidak terjatuh lagi dalam jebakan nyangkut dalam. 

Money Management Check!

Balik lagi, untuk saham yang masih bisa kita average down juga harus mempertimbangkan porsi-nya. Jangan sampai porsi-nya melambung banyak dan membebani pikiran kita lagi. 

Dalam average down, porsi akhir nanti juga patut dipertimbangkan.

Ingat! semakin besar kerugian, semakin sulit untuk pulih, maka semakin besar modal yang dibutuhkan untuk average down. 

Kami membuat skenario yang ideal untuk loss berbalik ke 10% dengan modal awal 50 juta, dari beberapa tingkat kerugian sebagai berikut : 

Kesimpulan

Untuk saham trading dalam jangka pendek evaluasi dulu apakah mereka masuk konstituen MSCI atau tidak. Jika masuk, usahakan keluar bertahap jika ada teknikal rebound, nanti dana bisa dimanfaatkan untuk menambah buffer cash saham-saham yang layak average down. 

Untuk saham investing, evaluasi strategi awal apakah masih relevan dengan kondisi fundamental. Jika bisnisnya masih sehat dan prospeknya tetap menarik, volatilitas jangka pendek seharusnya tidak terlalu menjadi masalah. 

Namun, kalau mau average down, perhatikan analisis teknikal juga agak dapat timing lebih optimal dengan cek support terdekat sebagai area beli lagi. 

Saat ini memperhatikan struktur kepemilikan juga sangat penting, baik untuk saham trading dan investing. Karena realitanya, faktor teknis justru menekan gerak IHSG lebih dalam dibandingkan tekanan dari makro. 

Peristiwa morning call MSCI yang sempat membuat IHSG mengalami trading halt dua kali menjadi pengingat penting bagi investor bahwa dinamika pasar bisa berubah sangat cepat.

Dari situ kita belajar bahwa fundamental tetap menjadi safety net pertama. Jika sebuah perusahaan memiliki bisnis yang solid, neraca yang sehat, dan arus kas yang kuat, volatilitas jangka pendek biasanya hanya bersifat sementara.

Selain itu, money management juga menjadi faktor yang tidak kalah penting. Jangan sampai strategi average down justru membuat porsi saham tersebut terlalu besar di portofolio dan menambah tekanan psikologis. Pastikan porsi akhir masih sesuai dengan batas risiko yang kita tetapkan sejak awal.

Pada akhirnya, keputusan average down atau cut loss tidak bisa disamaratakan untuk semua saham.

Investor perlu melihatnya dari tiga sisi utama: fundamental bisnis, struktur kepemilikan, timing teknikal, serta manajemen risiko sebelum mengambil keputusan.

Seperti yang pernah diingatkan oleh Warren Buffett, “The most important thing to do if you find yourself in a hole is to stop digging.”

Artinya, kalau sudah terlanjur nyebur, jangan sampai keputusan berikutnya justru membuat lubangnya semakin dalam.

Mau Dapat Insight dan Idea Saham Investing hingga Trading dengan Strategi Sesuai Kebutuhanmu?

Kamu bisa dapatkan semuanya di Mikirsaham.com, join sekarang dan dapatkan deretan benefit yang membantumu investasi di saham seperti:

  • Stockpick Investing Saham Indonesia (Value, Dividen, Growth, Contrarian) Update per bulan
  • Stockpick mid-term (6 bulan - 2 tahun) saham US (NEW)
  • Stockpick trading mingguan untuk saham Indonesia
  • Insight Saham Komprehensif untuk saham Indonesia, US, Aksi korporasi, dan IPO
  • Event online bulanan
  • Grup Diskusi WA (terpisah antara saham Indo, US, dan stockpick trading mingguan)
  • Hingga konsultasi private

Langsung langganan dan pilih plan yang sesuai dengan kebutuhanmu sekarang dengan klik di sini

Jangan lupa follow kami di Googlenews dan kamu bisa baca di sini

💡
Dapatkan Tools Analisis Saham Paling Cocok Untuk Investor Ritel serta Pilihan Saham Indonesia hingga AS dengan AI bersama Investing Pro. Dapatkan Promo Spesial Dari Mikirduit dengan Klik di sini